Tahun 2015, aku pernah dinas kerja beberapa bulan di kota Medan.
Kota ini ramai, hidup, dan penuh dengan suara.
Tapi ada satu suara yang mengalahkan semua kebisingan kota: suara dari rumah sebelah.
Kalau kamu berpikir ini adalah tulisan tentang nostalgia kerja di kota orang, kamu keliru.
Ini adalah tulisan tentang penderitaan spiritual yang dibungkus speaker aktif dan kabel panjang yang seolah tersambung langsung ke pusat amarahku.
Awalnya Biasa Saja
Waktu pertama kali pindah ke rumah dinas kecil itu, aku sempat optimis.
Lokasinya tidak jauh dari kantor.
Warung nasi padangnya murah.
Ada Alfamidi di ujung gang.
Dan yang paling penting: tetangganya terlihat biasa-biasa saja.
Seorang bapak-bapak berambut tipis dengan tatapan penuh kecurigaan,
seorang ibu yang rajin nyapu halaman meskipun tidak ada daun,
dan seorang anak muda yang tidak pernah keluar rumah kecuali buat buang sampah sambil merokok.
Semuanya terlihat normal. Sampai...
Sampai Akhir Pekan Tiba
Sabtu pagi. Pukul 07.00.
Aku masih ngantuk.
Matahari baru setengah naik.
Dan dari dinding sebelah, terdengar suara yang pelan-pelan merambat ke tulang belakangku:
“Gejolak asmaraku... hoo hoo hoo...!”
Itu bukan mimpi.
Itu bukan khayalan.
Itu adalah dendang dangdut dari speaker yang sebesar kulkas, disetel tanpa ampun.
Getaran bass-nya membuat gelas di rak dapur bergerak sendiri.
Piringku gemetar.
Kacaku berdengung.
Dan... dadaku bergetar bukan karena cinta, tapi karena frekuensi rendah yang menyiksa.
Zoom Adalah Ujian Mental
Waktu itu, pekerjaan banyak dilakukan lewat panggilan video.
Dan setiap kali aku masuk rapat, aku harus bersiap dengan tiga hal:
-
Mikrofon yang sensitif
-
Kepala yang berdebar
-
Kalimat pembuka, “Mohon maaf kalau suara belakang agak berisik...”
Tapi tidak pernah cukup.
Karena suara di belakangku bukan sekadar berisik.
Itu adalah pertunjukan orkes rumah tangga yang disiarkan langsung setiap akhir pekan.
Klien pernah tanya:
“Pak Nara, apakah tetangga Bapak sedang ada hajatan?”
Aku cuma bisa senyum.
Bukan karena lucu, tapi karena mulutku tak mampu berkata bahwa aku tidak tahu hajatan apa yang tiap minggu dirayakan oleh tetanggaku.
Setiap Hari Minggu Adalah Pesta
Hari Minggu bukan hari istirahat.
Bagi tetanggaku, hari Minggu adalah hari kejayaan.
Speaker disetel sejak pagi.
Suara penyanyi dangdut menyatu dengan aroma ikan asin dan bunyi panci dari dapur mereka.
Kadang mereka mengundang tamu.
Kadang tidak.
Tapi suaranya... selalu maksimal.
Yang lebih menyakitkan adalah, mereka selalu menyetel lagu yang sama.
Seolah hidup ini adalah rekaman kaset yang diputar berulang-ulang.
Aku sampai hafal urutan lagunya, dan bisa menirukan teriakan “Asyiiiiik!” sang penyanyi dengan tingkat kejengkelan yang meningkat setiap pekan.
Pernah Aku Coba Kompromi
Aku mencoba mendatangi rumah mereka.
Dengan senyum palsu dan dada bergemuruh.
“Pak, maaf ya, bisa agak dikecilin nggak volumenya? Soalnya saya ada kerjaan…”
Si bapak hanya tertawa.
“Wah, ini anak saya yang nyetel, Mas. Biar semangat katanya.”
Semangat.
Kata itu menancap di kepalaku seperti paku.
Aku sedang mencoba bertahan hidup, dan mereka menyebutnya semangat.
Setiap Malam Aku Memikirkan Kematian
Jangan salah paham. Aku tidak sedang putus asa.
Aku hanya... merenung.
Kalau nanti aku mati, dan masuk ke alam kubur, apakah di sana akan sunyi?
Apakah tidak ada suara dangdut dari speaker jarak dekat?
Apakah tidak ada bunyi “cekrek-cekrek” kursi geser dari lantai atas?
Aku membayangkan ruang tunggu arwah.
Tempat orang-orang dari berbagai agama, keyakinan, dan nasib, duduk menunggu giliran.
Apakah di sana akan tenang?
Atau malah... ada suara “Oplosan... oplosan...!”
Ternyata Bukan Aku Saja
Suatu hari, aku membaca hasil riset dari seseorang bernama Markus Mueller-Trapet.
Dari Dewan Riset Nasional Kanada.
Katanya, suara bising bisa mengganggu kesehatan mental.
Tentu saja, Markus.
Aku tidak punya gelar seperti kamu,
tapi aku bisa pastikan:
telinga yang tiap minggu dijejali dangdut volume penuh akan kehilangan nalar perlahan-lahan.
Misophonia, Katanya
Ada juga istilah untuk rasa jengkel terhadap suara tertentu: misophonia.
Aku tidak tahu pasti apakah aku punya itu.
Yang jelas, setiap kali mendengar gesekan sendok ke piring atau tawa dari belakang dinding,
dadaku mulai sesak.
Bukan karena asmara.
Tapi karena setiap minggu seperti hidup di dalam acara musik rakyat yang tidak pernah selesai.
Lalu Apa yang Aku Lakukan?
Aku tidak bisa pindah.
Aku tidak bisa menegur keras-keras.
Aku hanya bisa... menulis.
Setiap malam, aku menulis catatan.
Catatan dendam kecil yang tidak akan kubalas dengan tindakan.
Tapi akan kujadikan pelajaran hidup.
Bahwa di dunia ini, ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Tetangga, misalnya.
Kini, sudah sepuluh tahun berlalu.
Aku tidak tinggal di rumah itu lagi.
Tapi setiap kali mendengar lagu dangdut dari warung sebelah, aku merasa seperti ditarik kembali ke masa itu.
Dan aku mulai sadar:
Squidward adalah korban.
Selama ini kita salah menilai.
Spongebob dan Patrick bukan tetangga idaman.
Mereka adalah sumber kebisingan, kegaduhan, dan krisis kewarasan yang dibungkus senyuman.
Dan aku... adalah Squidward yang lain.
Yang hanya ingin tidur tenang,
tapi tiap malam dihantui lagu koplo yang diulang terus seperti dosa yang belum ditebus.
Kalau Surga Itu Ada, Semoga Tenang
Aku tidak minta banyak.
Kalau suatu hari aku masuk ke alam yang kekal,
aku cuma ingin tempat yang...
...tidak ada tetangga nyetel speaker dari pagi.
...tidak ada orang menggeser meja jam tiga subuh.
...dan tidak ada suara “Cinta Sabun Mandi” versi remix disetel di volume delapan dari sepuluh.
Kalau itu ada, maka surga benar-benar nyata.

Komentar
Posting Komentar