Langsung ke konten utama

Tuhan, Tolong Diamkan Tetanggaku Barang Sejenak

 

Sepuluh tahun lalu, aku kira tetangga terburuk di dunia adalah Squidward. Sekarang aku sadar: Squidward hanyalah korban yang sabarnya diuji oleh spons dan bintang laut bermulut besar.

Tahun 2015, aku pernah dinas kerja beberapa bulan di kota Medan.
Kota ini ramai, hidup, dan penuh dengan suara.
Tapi ada satu suara yang mengalahkan semua kebisingan kota: suara dari rumah sebelah.

Kalau kamu berpikir ini adalah tulisan tentang nostalgia kerja di kota orang, kamu keliru.
Ini adalah tulisan tentang penderitaan spiritual yang dibungkus speaker aktif dan kabel panjang yang seolah tersambung langsung ke pusat amarahku.

Awalnya Biasa Saja

Waktu pertama kali pindah ke rumah dinas kecil itu, aku sempat optimis.
Lokasinya tidak jauh dari kantor.
Warung nasi padangnya murah.
Ada Alfamidi di ujung gang.
Dan yang paling penting: tetangganya terlihat biasa-biasa saja.

Seorang bapak-bapak berambut tipis dengan tatapan penuh kecurigaan,
seorang ibu yang rajin nyapu halaman meskipun tidak ada daun,
dan seorang anak muda yang tidak pernah keluar rumah kecuali buat buang sampah sambil merokok.

Semuanya terlihat normal. Sampai...

Sampai Akhir Pekan Tiba

Sabtu pagi. Pukul 07.00.
Aku masih ngantuk.
Matahari baru setengah naik.
Dan dari dinding sebelah, terdengar suara yang pelan-pelan merambat ke tulang belakangku:

“Gejolak asmaraku... hoo hoo hoo...!”

Itu bukan mimpi.
Itu bukan khayalan.
Itu adalah dendang dangdut dari speaker yang sebesar kulkas, disetel tanpa ampun.

Getaran bass-nya membuat gelas di rak dapur bergerak sendiri.
Piringku gemetar.
Kacaku berdengung.
Dan... dadaku bergetar bukan karena cinta, tapi karena frekuensi rendah yang menyiksa.

Zoom Adalah Ujian Mental

Waktu itu, pekerjaan banyak dilakukan lewat panggilan video.
Dan setiap kali aku masuk rapat, aku harus bersiap dengan tiga hal:

  1. Mikrofon yang sensitif

  2. Kepala yang berdebar

  3. Kalimat pembuka, “Mohon maaf kalau suara belakang agak berisik...”

Tapi tidak pernah cukup.

Karena suara di belakangku bukan sekadar berisik.
Itu adalah pertunjukan orkes rumah tangga yang disiarkan langsung setiap akhir pekan.

Klien pernah tanya:

“Pak Nara, apakah tetangga Bapak sedang ada hajatan?”

Aku cuma bisa senyum.
Bukan karena lucu, tapi karena mulutku tak mampu berkata bahwa aku tidak tahu hajatan apa yang tiap minggu dirayakan oleh tetanggaku.

Setiap Hari Minggu Adalah Pesta

Hari Minggu bukan hari istirahat.
Bagi tetanggaku, hari Minggu adalah hari kejayaan.

Speaker disetel sejak pagi.
Suara penyanyi dangdut menyatu dengan aroma ikan asin dan bunyi panci dari dapur mereka.
Kadang mereka mengundang tamu.
Kadang tidak.
Tapi suaranya... selalu maksimal.

Yang lebih menyakitkan adalah, mereka selalu menyetel lagu yang sama.
Seolah hidup ini adalah rekaman kaset yang diputar berulang-ulang.
Aku sampai hafal urutan lagunya, dan bisa menirukan teriakan “Asyiiiiik!” sang penyanyi dengan tingkat kejengkelan yang meningkat setiap pekan.

Pernah Aku Coba Kompromi

Aku mencoba mendatangi rumah mereka.
Dengan senyum palsu dan dada bergemuruh.

“Pak, maaf ya, bisa agak dikecilin nggak volumenya? Soalnya saya ada kerjaan…”

Si bapak hanya tertawa.
“Wah, ini anak saya yang nyetel, Mas. Biar semangat katanya.”

Semangat.
Kata itu menancap di kepalaku seperti paku.
Aku sedang mencoba bertahan hidup, dan mereka menyebutnya semangat.

Setiap Malam Aku Memikirkan Kematian

Jangan salah paham. Aku tidak sedang putus asa.
Aku hanya... merenung.

Kalau nanti aku mati, dan masuk ke alam kubur, apakah di sana akan sunyi?
Apakah tidak ada suara dangdut dari speaker jarak dekat?
Apakah tidak ada bunyi “cekrek-cekrek” kursi geser dari lantai atas?

Aku membayangkan ruang tunggu arwah.
Tempat orang-orang dari berbagai agama, keyakinan, dan nasib, duduk menunggu giliran.
Apakah di sana akan tenang?
Atau malah... ada suara “Oplosan... oplosan...!”

Ternyata Bukan Aku Saja

Suatu hari, aku membaca hasil riset dari seseorang bernama Markus Mueller-Trapet.
Dari Dewan Riset Nasional Kanada.
Katanya, suara bising bisa mengganggu kesehatan mental.

Tentu saja, Markus.
Aku tidak punya gelar seperti kamu,
tapi aku bisa pastikan:
telinga yang tiap minggu dijejali dangdut volume penuh akan kehilangan nalar perlahan-lahan.

Misophonia, Katanya

Ada juga istilah untuk rasa jengkel terhadap suara tertentu: misophonia.

Aku tidak tahu pasti apakah aku punya itu.
Yang jelas, setiap kali mendengar gesekan sendok ke piring atau tawa dari belakang dinding,
dadaku mulai sesak.

Bukan karena asmara.
Tapi karena setiap minggu seperti hidup di dalam acara musik rakyat yang tidak pernah selesai.

Lalu Apa yang Aku Lakukan?

Aku tidak bisa pindah.
Aku tidak bisa menegur keras-keras.
Aku hanya bisa... menulis.

Setiap malam, aku menulis catatan.
Catatan dendam kecil yang tidak akan kubalas dengan tindakan.
Tapi akan kujadikan pelajaran hidup.

Bahwa di dunia ini, ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Tetangga, misalnya.

Kini, sudah sepuluh tahun berlalu.

Aku tidak tinggal di rumah itu lagi.
Tapi setiap kali mendengar lagu dangdut dari warung sebelah, aku merasa seperti ditarik kembali ke masa itu.

Dan aku mulai sadar:
Squidward adalah korban.
Selama ini kita salah menilai.

Spongebob dan Patrick bukan tetangga idaman.
Mereka adalah sumber kebisingan, kegaduhan, dan krisis kewarasan yang dibungkus senyuman.
Dan aku... adalah Squidward yang lain.
Yang hanya ingin tidur tenang,
tapi tiap malam dihantui lagu koplo yang diulang terus seperti dosa yang belum ditebus.

Kalau Surga Itu Ada, Semoga Tenang

Aku tidak minta banyak.
Kalau suatu hari aku masuk ke alam yang kekal,
aku cuma ingin tempat yang...

...tidak ada tetangga nyetel speaker dari pagi.
...tidak ada orang menggeser meja jam tiga subuh.
...dan tidak ada suara “Cinta Sabun Mandi” versi remix disetel di volume delapan dari sepuluh.

Kalau itu ada, maka surga benar-benar nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...