Langsung ke konten utama

Cerita yang Nggak Pernah Tercatat, Tapi Nempel Selamanya

 


Kadang, kita butuh cerita sama orang asing… supaya nggak merasa asing sama diri sendiri.


Bandara itu tempat yang aneh.

Kadang jadi latar belakang adegan perpisahan yang dramatis. Kadang juga jadi tempat ketemu jodoh—katanya. Tapi lebih sering, ya… tempat nunggu pesawat yang nggak kunjung datang, sambil makan mi instan cup yang harganya lebih mahal dari ongkos pulang ke rumah.

Hari itu, aku lagi sendirian. Delay. Empat jam.

Aku udah pasrah. Udah nggak ada energi buat marah. Udah lewat fase gelisah. Udah nonton semua video pendek di ponsel, sampe algoritma-nya bingung mau kasih apa lagi.

Sampai akhirnya… aku duduk di bangku pojok, dekat colokan, dan ada satu bapak-bapak ikut duduk di sebelah.

Kami sama-sama celingukan, sama-sama megang botol air mineral isi ulang yang tinggal separuh, dan sama-sama nggak tahu harus ngapain.

Lalu, seperti biasa, percakapan paling absurd dalam hidup dimulai dari kalimat klise:

“Delay-nya lama juga, ya?”

Aku cuma angguk. Senyum sedikit. Basa-basi. Tapi dari situ, entah kenapa… percakapan kecil itu jadi panjang.

Awalnya ngomongin harga mi instan cup yang lebih mahal dari bensin satu liter.
Terus ngomongin cuaca.
Terus ngomongin jalan tol yang katanya tambah panjang tapi macetnya juga tambah panjang.
Dan lama-lama, obrolan itu… belok ke tempat yang nggak aku rencanakan sama sekali.

Bapak ini, ternyata sopir truk.

Umurnya sekitar lima puluh-an.
Tubuhnya kekar, kulitnya gelap terbakar matahari, tangan kasarnya kelihatan pernah megang banyak hal—dari setir truk sampai mungkin… luka yang nggak bisa dilihat.

Dia bilang baru pulang ngantar barang antarkota.
Pesawatnya delay juga. Tapi dia nggak tampak kesal.
Nggak mengeluh. Nggak ngedumel.

Cuma duduk… tenang.

Sambil bilang:

“Delay itu… ya kayak hidup. Kadang nunggu dulu, baru sampai.”

Aku diem.

Karena aku tahu, kalimat kayak gitu nggak lahir dari seminar motivasi. Tapi dari pengalaman yang udah digodok sama waktu.

Lalu dia mulai cerita.

Katanya, dulu istrinya meninggal karena sakit.
Datang diam-diam. Dikiranya masuk angin biasa, tapi ternyata bukan.
Dan waktu sadar, semuanya udah terlambat.

Dia cerita, malam-malam pernah nangis sendirian di balik setir.
Sambil nyalain radio keras-keras biar suaranya ketutup.

Dia bilang, pernah tidur di warung karena ongkos pulang nggak cukup.
Pernah ngojek semalam suntuk cuma buat bisa kirim uang ke anaknya yang lagi kuliah.
Pernah nyetir sambil ngantuk, hampir masuk parit, dan waktu itu cuma bisa bilang, “Tolong, Tuhan, jangan hari ini.”

Tapi… dia tetap hidup.
Tetap jalan.
Tetap nyetir.

Walaupun katanya, bensin hati-nya sering tipis.

Aku dengerin. Tanpa banyak komentar.
Karena kadang, orang cerita bukan buat dicariin solusi. Tapi biar rasa sesaknya bisa keluar, kayak teh panas yang perlu nguap dulu sebelum bisa diminum.

Dan di tengah cerita itu, dia nengok ke aku, senyumnya tipis, matanya agak merah, dan dia bilang:

“Masnya kelihatan kayak orang yang suka mikir. Tapi jangan sampai mikir itu jadi tempat kamu bersembunyi dari hidup, ya.”

Aku diem.

Karena kalimat itu… kena.

Nggak pernah ada yang ngomong kayak gitu ke aku.
Terutama dari orang yang bahkan… nggak tahu nama tengahku siapa.

Tapi justru karena itu, rasanya malah jujur banget.

Setelah empat jam, pengumuman keberangkatan keluar.

Kami berdiri.
Ambil barang masing-masing.
Saling ngangguk.

Nggak saling tukar kontak.
Nggak foto bareng.
Nggak janji akan bertemu lagi.

Cuma… selesai.

Dan anehnya, aku inget dia sampai sekarang.

Wajahnya. Tangannya. Suaranya yang serak.
Dan kalimatnya yang pelan, tapi tajam:

“Kadang, kita butuh cerita sama orang asing… supaya nggak merasa asing sama diri sendiri.”

Aku pernah nanya ke diriku sendiri:
“Kenapa ya, kadang kita bisa lebih jujur sama orang asing?”

Mungkin karena mereka nggak tahu masa lalu kita.
Nggak punya ekspektasi.
Nggak akan menilai.
Nggak akan cerita ke siapa-siapa.

Dan justru karena itu… kita bisa lebih jujur.

Karena nggak ada beban.
Nggak ada pencitraan.
Nggak ada kebutuhan untuk kelihatan kuat.

Hanya dua orang asing. Duduk berdampingan. Saling membagi lelah yang tidak pernah tertulis di catatan kantor.

Sejak saat itu, aku nggak pernah lihat bandara dengan cara yang sama.

Bukan cuma tempat orang datang dan pergi.
Tapi tempat jeda. Tempat nunggu. Tempat mikir.
Dan kadang… tempat ketemu kisah yang nggak pernah kamu minta, tapi diam-diam kamu butuhkan.

Dan kalau besok kamu lagi di bandara, lagi delay, dan duduk sendirian…
Jangan buru-buru pasang headset.

Siapa tahu, orang di sebelahmu sedang bawa cerita.
Bukan untuk didengar dunia.
Tapi cukup… untuk bikin kamu lebih dekat sama dirimu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...