Langsung ke konten utama

Sandal Jepit Astral dan Penghuni Kontrakan yang Nggak Mau Pergi

 


Kadang, rumah yang murah bukan karena jelek... tapi karena isinya sudah terlalu ramai buat orang biasa.


Kontrakan 8C itu murah.

Saking murahnya, aku sempat curiga jangan-jangan harganya hasil musyawarah arwah. Bayangkan saja: Rp400 ribu per bulan, listrik sudah termasuk, air deras seperti dendam kesumat, ada jemuran, bahkan lemari dua pintu yang—kalau ditilik dari aromanya—kayaknya sempat jadi saksi bisu tragedi. Entah tragedi apa, tapi pasti tidak menyenangkan.

Tapi aku terpaksa menerimanya. Kosan lamaku mengusir karena aku sudah telat bayar tiga bulan. Pilihannya tinggal dua: tidur di kontrakan 8C atau rebahan di parkiran minimarket sambil berharap disangka patung hidup oleh pengunjung yang lagi beli sabun cuci.

Hari pertama pindah, belum juga sempat naruh semua barang, kontrakan itu sudah unjuk gigi.

Tepat pukul dua pagi.

Aku lagi tidur ayam—bukan karena nyaman, tapi karena kasurnya masih digulung, dan aku cuma punya tikar anyaman dengan motif bunga layu.

Lalu tiba-tiba...

“Uuuuuuu…”

Suara itu muncul dari arah lemari.

Aku bangun. Otomatis refleks. Mengucek mata. Mengambil sapu.

Lemari dua pintu itu bergoyang-goyang, pelan tapi pasti, seperti kakek-kakek yang mencoba ikut senam pagi di taman RW.

Lalu... pintunya terbuka pelan-pelan. Sengaja banget, kayak tahu aku nonton.

Dan muncullah...

KAIN JARIK MELAYANG.

Bentuknya mirip tirai kamar mandi yang kesurupan. Tapi kalau dilihat baik-baik—dan memang harus berani dulu buat melihat baik-baik—kain itu seperti ada yang "menggendongnya", entah siapa.

Aku ingin kabur, tapi kakiku mendadak setia banget sama lantai. Nempel.

Dari dalam lemari, sosok itu muncul perlahan.

Wajah keriput. Rambut kusut. Mata melotot. Mulut cemberut.

Mirip Mak Lampir, tapi kalau Mak Lampir itu ikut arisan RT dan kesel karena ditagih terus padahal belum gajian.

AKU... PENGHUNI SEBELUMMU...

Aku refleks berseru, “SIAPA KAMU?!”

Tapi suara yang keluar lebih mirip paduan suara kucing tersedak dan sendawa kerupuk.

Sosok itu mendekat.

Dengan nada datar, dia berkata, “Dulu aku juga ngontrak di sini. Tapi lupa bayar enam bulan. Akhirnya dikutuk jadi penunggu lemari.”

Aku mengangguk pelan, tidak yakin apakah aku sedang menyaksikan mimpi, delusi, atau kampanye dadakan dari dunia gaib.

“Tapi kenapa harus tinggal di lemari, Mak?” tanyaku nekat.

Dia mendelik. “Karena cuma itu yang kosong. Kasur diambil anak pemilik kontrakan. Meja disita tetangga buat main gaple. Jadi ya... lemari.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Malam itu, aku resmi serumah dengan sosok tak kasatmata yang tinggal di dalam lemari. Tapi anehnya, setelah malam pertama yang dramatis itu, hidupku jadi... lebih rame.

Mak Lampir versi kontrakan itu, ternyata, bukan hantu pada umumnya. Dia tidak suka teriak-teriak “ikut akuuu” atau “aku haus darah”. Dia lebih suka mengomentari hidupku.

Contohnya waktu aku nonton konten misteri dari ponsel:

“Ih, ini mah bohong. Itu pintunya jelas-jelas digerakin kru. Aku tahu, aku kan pernah ikut syuting film pendek.”

Atau saat aku masak mie instan:

“Kamu tuh, makan jangan yang instan terus. Nanti ususmu rusak. Sama kayak hubunganku dengan mantan suami.”

Kadang dia muncul sambil bawa kipas anyaman. Kadang pakai daster bolong. Kadang cuma suara.

Tapi keberadaannya... entah kenapa menenangkan.

Puncaknya terjadi di malam Jumat Kliwon.

Aku baru tidur sejam, ketika tiba-tiba lampu mati.

Suara azan terbalik—yang lebih mirip rekaman kaset kusut—terdengar dari arah kamar mandi.

“TOBATLAH KAU, ANAK MUDAAA...”

Aku lari ke dapur. Cari Mak Lampir.

“Mak! Di kamar mandi ada suara aneh! Suara azan tapi kayak dibalik-balik! Aku takut!”

Mak Lampir keluar dari dalam kulkas. Iya, dari dalam kulkas. Entah bagaimana caranya. Mungkin hantu memang tidak punya batasan arsitektural.

Dia melongok ke arah kamar mandi.

“Oh itu... itu mah si Kun. Anak baru. Masih magang.”

Aku melongo. “Magang?!”

“Iya. Kita komunitas, Mas. Hantu-hantu kontrakan. Si Kun masih masa percobaan. Baru dua minggu.”

Aku makin bengong.

Ternyata dunia hantu juga punya sistem rekrutmen.

Sejak saat itu, malam-malamku jadi lebih... edukatif.

Tiap malam Jumat, aku denger Mak Lampir melatih Kun:

“Kamu kalau mau terbang, jangan muter-muter di plafon. Itu bikin orang pusing, bukan takut.”

“Tapi aku pengen dramatis, Mak.”

“Dramatis itu kayak nyanyi lagu lawas sambil keluar darah dari mata. Bukan jungkir balik kayak anak kecil kena gula.”

Lucunya, Kun ini—kalau boleh aku bilang—adalah hantu yang belum menemukan jati diri.

Kadang dia muncul pakai topeng hantu Jepang.

Kadang dia bawa boneka rusak.

Kadang dia cuma melayang sambil nyanyi lagu lawas... sumbang.

“Kun, kau ini siapa sih sebenernya?” tanyaku suatu malam.

Dia menjawab pelan, “Aku belum tahu, Mas... Aku masih cari gaya.”

Aku jadi kasihan. Tapi juga salut. Di usia segitu (entah berapa), dia masih mencari versi terbaik dari dirinya.

Lama-lama, aku mulai terbiasa hidup dengan mereka. Setiap malam kami ngobrol, nonton bareng, bahkan pernah main tebak-tebakan.

Mak Lampir selalu kalah karena jawabannya suka kelewat jujur.

Contoh:

“Aku putih, kecil, sering keluar malam. Siapakah aku?”

“Darah hidung pocong?”

“Mak... jawaban benernya ‘embun’…”

“Oh.”

Suatu malam, aku tanya, “Mak, kenapa kau betah di sini? Nggak pengen pindah ke tempat yang lebih layak?”

Dia menatap langit-langit kontrakan, lalu berkata,

“Di sini... aku nggak sendirian. Dulu waktu masih hidup, aku juga sering ditinggal. Orang-orang takut sama aku. Tapi kau... kau malah ngajak ngobrol. Bahkan masakin mie.”

Aku terdiam.

Rasanya aneh.

Aku, manusia hidup yang nyaris ditendang ke parkiran, justru menemukan kenyamanan dari sosok yang sudah tidak hidup.

Ternyata, kadang yang kita butuhkan bukan rumah mewah, tapi rumah yang mengerti.

Bahkan jika rumah itu berisi lemari penuh aura mistis, dapur yang suka keluar suara aneh, dan teman sekontrakan yang hobi nyantet sambil nonton sinetron.

Yang penting, tidak telat bayar.

Karena kalau telat... sandal jepit astral Mak Lampir bisa beterbangan tanpa aba-aba.

Dan itu... sakitnya kayak ditendang pakai cinta lama yang belum selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...