Langsung ke konten utama

Satu Butir Telur, Satu Bungkus Rokok, dan Satu Keputusan yang Tak Pernah Aku Sesali

 


Banyak orang berhenti merokok karena takut mati. Aku? Aku bahkan nggak pernah mulai. Bukan karena takut mati, tapi karena... takut melihat hidup yang diabaikan demi sebatang rokok.


Ayahku perokok.
Bukan perokok biasa.
Kalau merokok bisa dihitung sebagai pekerjaan, ayahku itu senior manager.

Dari pagi, sebelum gosok gigi, yang dicari rokok.
Sebelum sarapan, rokok.
Selesai makan, rokok.
Ngopi, rokok.
Nonton berita, rokok.
Nunggu motor panas, rokok.
Mau tidur?
Ya, betul: rokok juga.

Dan aku nggak pernah ikut-ikutan.
Padahal katanya, kebiasaan ayah bisa menular.
Tapi dalam hal ini, aku seolah kebal.

Bukan karena ayah pernah bilang, “Nak, jangan merokok ya.”
Nggak pernah.
Ayah juga nggak pernah menyampaikan wejangan berapi-api soal bahaya nikotin.
Ayah justru pernah bilang, “Rokok itu temen paling setia. Bahkan waktu emakmu marah, rokok tetap nemenin Bapak.”
Pernyataan yang... kalau dipikir-pikir lagi, menyedihkan tapi jujur.

Aku Tidak Pernah Merokok. Dan Itu Bukan Karena Kampanye Kesehatan

Aku nggak pernah merokok bukan karena lihat gambar seram di bungkus rokok.
Bukan karena takut paru-paru jadi hitam, atau gigi menguning, atau jari jadi keriput sebelum waktunya.

Aku nggak pernah merokok karena... satu kejadian kecil.

Kejadian yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di ingatan.
Terlalu sederhana untuk dianggap peristiwa besar.
Tapi cukup kuat untuk membuat aku ambil keputusan yang tak pernah berubah.

Kejadiannya Begini

Waktu itu aku masih remaja. Sekitar kelas dua SMP.
Main ke rumah teman sekelasku, sebut saja namanya Ilham.

Rumahnya kecil. Bukan rumah yang miskin-miskin banget, tapi jelas bukan rumah yang punya pilihan buat jajan sore-sore tanpa mikir.
Aku datang sore itu, diajak main game bajakan yang katanya seru.

Sambil main, aku dengar dari dapur suara adukan sendok di panci.
Bau mi instan menyelinap lewat angin sore.
Lalu terdengar suara ibu Ilham, “Ham, ajak temannya makan ya. Kita masak mi.”

Aku menolak dengan sopan. Aku tahu, mereka cuma punya dua bungkus mi dan satu telur.
Dan aku tahu, yang makan empat orang: Ilham, adiknya, ibunya, dan bapaknya.

Mereka aduk mi pelan.
Telurnya dikocok dulu, dibagi rata.
Porsinya kecil, tapi semua makan dengan tenang.
Nggak ada yang minta tambah.
Mungkin karena tahu, memang tidak ada tambahan.

Aku diam di pojok ruang tamu.
Agak kikuk.
Agak iba.
Agak bingung, karena... aku belum pernah lihat orang makan dengan takaran sepresisi itu.

Lalu Bapaknya Keluar

Selesai makan, belum lima menit berlalu, bapaknya keluar kamar.

Sambil duduk di kursi plastik, dia berkata ke Ilham:

“Nak, beliin Bapak rokok di warung. Ambil dari uang belanja.”

Dan di situ... aku diam.

Bukan karena kaget. Tapi karena... aku tidak mengerti.

Baru saja makan mi dengan telur dibagi empat.
Tapi masih ada uang untuk rokok?
Dan rokok itu... lebih penting?

Ilham diam.
Tidak protes.
Langsung ambil uang dua ribuan, keluar rumah.

Aku masih diam.
Dan dalam hatiku, aku ngerasa seperti ditampar sesuatu yang tidak kelihatan.

Sejak Hari Itu, Aku Ambil Keputusan

Aku nggak akan pernah beli rokok.
Bukan untukku.
Bukan untuk orang lain.
Apalagi kalau diminta oleh orang yang... baru saja menyantap makan siangnya dalam potongan kecil-kecil.

Bukan karena aku suci.
Bukan karena aku anti-rokok fanatik.
Tapi karena aku sadar:

Satu batang rokok bisa mengalahkan satu piring nasi.

Dan aku nggak mau punya kebiasaan yang membuatku seperti itu.
Menyisihkan kebutuhan hidup, demi asap yang habis dalam sepuluh menit.

Rokok Itu Aneh

Rokok itu benda kecil yang punya kuasa besar.
Dia bisa jadi alasan orang menolak sarapan.
Bisa jadi hiburan di tengah derita.
Bisa jadi pelarian dari bos yang cerewet.
Bisa juga jadi pengganti kata “aku capek.”

Aku pernah lihat seorang bapak-bapak merenung di depan rumah,
dengan rokok menyala di tangan,
mata menerawang,
dan wajah seperti habis kena marah dunia.

Tapi waktu ditanya,

“Pak, kenapa merokok?”

Dia jawab: “Biar tenang.”

Tenang dari apa?
Tenang karena sebentar lagi rokoknya habis, dan dia bisa kembali ke masalah nyata?

Ayahku dan Rokok: Hubungan yang Tak Bisa Putus

Ayahku bukan orang jahat.
Dia cuma... perokok berat.

Dia tahu rokok nggak sehat.
Dia tahu rokok mahal.
Tapi katanya, “Kalau udah kebiasaan, rokok itu kayak nafas.”

Aku sering lihat ayah beli rokok dulu sebelum beli lauk.
Dan itu bukan karena dia tidak sayang keluarga.
Tapi karena... sudah terlanjur kalah.

Dan aku tidak ingin kalah dalam pertarungan yang bahkan belum aku mulai.

Kenapa Ini Aku Ceritakan?

Karena setiap kali aku bilang ke orang: “Aku nggak pernah merokok.”

Mereka kaget. Lalu bertanya, “Kenapa?”

Dan jawaban jujurku selalu: “Karena aku pernah lihat... betapa satu batang rokok bisa terasa lebih penting daripada satu butir telur.”

Banyak Orang Merokok Karena Lari dari Kenyataan

Kenyataan memang tidak selalu menyenangkan.
Tapi bukan berarti kita harus kabur ke asap.
Karena kabur lewat asap,
hanya membuat kenyataan bertambah... sesak.

Aku tahu, banyak yang merokok bukan karena gaya.
Tapi karena lelah.
Karena putus asa.
Karena butuh jeda.

Tapi semoga,
jika kamu membaca ini,
kamu tahu:
ada cara lain untuk istirahat, selain membakar paru-parumu sendiri.

Keputusan yang Tidak Hebat, Tapi Aku Syukuri

Keputusanku untuk tidak merokok bukan keputusan luar biasa.
Tapi itu salah satu keputusan yang membuat hidupku tetap terasa waras.

Karena aku percaya, orang yang bisa menahan diri dari sesuatu yang dia mau, demi sesuatu yang dia perlu... itu lebih kuat dari siapa pun.

Dan kalau ada yang tanya: “Mas, beneran nggak pernah coba?”

Jawabanku sederhana: “Nggak. Karena aku tahu... kalau aku mulai, aku mungkin juga akan kalah, seperti banyak orang yang aku lihat setiap hari, yang diam-diam menukar satu piring nasi... dengan satu batang rokok yang entah untuk apa.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...