Langsung ke konten utama

Anak Itu Ingin Berteman

 


Beberapa rumah tidak ingin dibeli. Tapi anak yang tinggal di dalamnya... hanya ingin teman.


ADA hal-hal dalam hidup yang wajar dibeli murah: sabun cuci piring, sandal jepit, dan buah apel yang bentuknya kayak sudah menyesali keberadaan. Tapi rumah megah tiga lantai dengan kolam ikan, halaman belakang, garasi cukup untuk tiga mobil, dan dapur bersih selevel restoran... itu tidak termasuk.

Itu sebabnya saat Andra mendengar harga rumah itu, reaksi pertamanya adalah curiga. Reaksi keduanya adalah... tambah curiga. Baru setelah agen properti menyebutkan kata-kata pamungkas, semua rasa curiga Andra langsung disapih habis oleh kata-kata yang terlalu dramatis untuk diucapkan sambil berdiri di bawah plafon marmer.

“Pada suatu malam, sekitar sepuluh tahun yang lalu, seorang anak laki-laki membunuh seluruh keluarganya, lalu mengakhiri hidupnya sendiri di rumah ini.”

Hening.

Agen properti itu melanjutkan sambil menggenggam map penawaran seperti menggenggam tali pengaman di atas roller coaster.

“Orang-orang bilang, anak laki-laki itu... kerasukan setan.”

Andra hanya diam, menatap dinding putih rumah itu. Dinding yang bersih. Lantainya mengilap. Atapnya kokoh. Tidak ada bekas darah, tidak ada bau kematian, bahkan tidak ada wallpaper norak.

Mungkin satu-satunya hal yang mati adalah harga pasarnya.

Orang waras mungkin akan mundur setelah dengar cerita begitu. Tapi Andra sudah hidup 28 tahun sebagai manusia yang setengah waras. Dan itu cukup untuk membuatnya mengangguk dan berkata, “Aku tidak percaya omong kosong itu. Aku akan ambil rumah ini.”

Agen properti tidak menjawab. Dia hanya menatap Andra dengan tatapan yang seolah berkata, “Anak kecil. Membunuh. Keluarga. Setan. HALO!?” Tapi mulutnya tidak ikut serta dalam protes itu. Mungkin karena dia juga tidak ingin berada satu menit lebih lama di dalam rumah itu.

Andra paham. Dia juga akan keluar cepat-cepat... kalau rumah ini tidak semegah itu. Kalau harga rumah ini tidak semurah diskon bulan puasa.

Dan yang paling penting: selama ini dia tidak pernah mengalami hal mistis. Tidak pernah lihat bayangan aneh, tidak pernah mencium bau kembang, tidak pernah tiba-tiba dengar suara perempuan ketawa pas tengah malam—kecuali tetangganya waktu masih ngekos yang hobi nonton sinetron pakai volume 100.

Seminggu kemudian, Andra resmi pindah ke rumah barunya.

Acara syukuran kecil digelar. Tiga sahabatnya datang, membawa ayam bakar, kue bolu, dan canda tawa khas pria-pria muda yang belum sepenuhnya mengerti arti kredit rumah. Mereka takjub dengan rumah Andra. Puja-puji berhamburan dari mereka.

"Lu pasti nyogok jin!" ujar Rendy sambil menepuk punggung Andra.

"Atau jin-nya nyogok lu?" balas Fajar.

"Terserah jin mana pun, yang penting rumah ini sah dan lunas," kata Andra sambil mengangkat gelas teh.

Mereka menyanyi karaoke di halaman belakang sampai tengah malam. Lagu-lagu patah hati dinyanyikan dengan semangat seperti mau ngebut ke jurang. Andra tertawa keras-keras malam itu. Tidak ada rasa aneh. Tidak ada firasat. Hanya tawa dan kenyang.

Malam itu, setelah mereka pulang, Andra naik ke lantai dua dengan tubuh lelah dan pikiran ringan.

Namun, di tangga kedua dari atas, dia mendengar suara aneh dari arah dapur.

Srekk… Srekk…

Seperti suara kain diseret di lantai. Tapi juga seperti kuku menggaruk kayu.

Andra berhenti. Menunggu.

Tidak ada suara lagi.

Ia menatap ke bawah. Gelap. Lalu menggeleng. “Tikus,” pikirnya.

Atau mungkin rumah ini... cuma sedang menyapa.

Hari-hari berikutnya, suara-suara mulai muncul. Suara tetesan air di kamar mandi—padahal keran sudah dipastikan mati. Suara sendok bersentuhan dari arah dapur. Suara langkah pelan-pelan dari langit-langit, seperti seseorang yang tidak yakin ini rumah dia atau bukan.

Oke. Kalau tujuannya ingin dikenalkan, kenapa tidak kirim kartu nama saja?

Karena sudah mulai mengganggu, Andra menghubungi Dimas. Teman yang, kalau ada suara "ssst" di pojokan, reaksinya bukan lari, tapi ngeluarin garam.

“Kau harus nyalakan TV terus,” kata Dimas.

“Biar hantunya nonton?”

“Biar rumah ini gak pernah benar-benar sunyi. Gelombang dari TV bisa ganggu mereka. Katanya sih, ya.”

Andra mengangguk. Bukan karena percaya, tapi karena sudah kehabisan cara lain. Dan—entah kenapa—saran itu berhasil.

Sejak TV ruang tamu dinyalakan nonstop, suara-suara berhenti. Rumah jadi tenang. Andra kembali tidur nyenyak. Kadang sampai lupa sikat gigi.

Hidup terasa normal kembali.

Sampai malam itu.

Malam saat listrik padam.

Semua gelap. Suara TV hilang. Rumah tenggelam dalam sunyi yang tidak biasa.

Andra terbangun karena rasa tidak nyaman. Tapi dia tetap berbaring. Memaksakan diri untuk tidur kembali.

Sampai...

Hhh... hhhh... huuuuk...

Suaranya lirih. Seperti tangisan. Tapi juga seperti orang menahan jeritan.

Andra membuka mata. Tidak bisa melihat apa-apa. Tapi suara itu makin jelas.

Dia bangkit. Berdiri. Melangkah ke luar kamar.

Tangisan itu berasal dari bawah.

Setiap langkahnya seperti ditarik dua arah: penasaran dan ketakutan.

Ia tiba di tangga. Turun pelan. Tangisan itu makin keras.

Akhirnya ia sampai di ruang tamu.

Gelap. Tapi di sana... ada cahaya samar dari jendela.

Dan di tengah ruang tamu, ia melihat dirinya sendiri.

Tubuhnya. Matanya terbuka. Mulut menganga. Ekspresi ketakutan. Kaku.

Ia ingin berteriak. Tapi suaranya tak keluar.

Ia ingin lari. Tapi kakinya seperti tidak miliknya lagi.

Dan di ujung ruangan... ada seorang anak laki-laki.

Tersenyum. Diam-diam.


Di suatu pagi setahun kemudian, sepasang muda-mudi berdiri di depan rumah itu.

Agen properti yang sama—dengan map yang sama—menjelaskan dengan suara bergetar:

“Sekitar setahun lalu, pemilik rumah sebelumnya ditemukan meninggal di ruang tamu. Ekspresinya... ketakutan. Orang-orang bilang... dia bertemu setan.”

Pemuda itu, mungkin karena ingin terlihat berani di depan gadisnya, tertawa kecil dan berkata:

“Aku tidak percaya omong kosong itu. Aku akan ambil rumah ini.”

Andra—yang berdiri di pojok ruangan bersama anak kecil yang sama—tersenyum tipis.

Ia ingin berteriak. Ingin memperingatkan mereka.

Tapi tak ada suara yang keluar.

Tubuhnya hanya sisa. Dan sisa tidak punya hak bicara.

Anak kecil itu menggandeng tangan Andra.

“Dua teman baru,” katanya sambil tersenyum cerah. “Seru, ya?”

Andra tidak menjawab. Tapi matanya berkaca-kaca. Karena akhirnya dia sadar, bahkan di antara kematian... ada yang lebih menyeramkan:

Persahabatan yang dipaksakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...