Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Gone Girl: Hilang, Histeris, dan Heboh Hebat dalam Pernikahan yang Tidak Sehat

  “Cinta bisa membuat orang berubah. Tapi kalau perubahan itu melibatkan darah, surat palsu, dan satu galon emosi… mungkin itu bukan cinta, tapi rencana jangka panjang yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.” AKu pernah dengar nasihat,  “Jangan menikah dengan orang yang tidak bisa kau ajak ribut dengan tenang.” Waktu itu aku belum paham. Tapi setelah menonton Gone Girl , aku bukan cuma paham...  aku takut. Karena ternyata,  dalam sebuah pernikahan,  yang kelihatan baik-baik saja...  bisa menyimpan satu lemari penuh pisau, kaset, catatan harian palsu, dan emosi yang siap meledak seperti kompor rusak. Dan dari semua film tentang pasangan suami istri, ini satu-satunya yang membuatku berpikir dua kali sebelum bercanda soal:  “Aku pengin punya pasangan yang cerdas dan penuh strategi.” Film ini dimulai dengan sederhana. Seorang istri hilang. Rumah kosong. Ada tanda perlawanan. Meja pecah. Noda darah. Dan semua mata langsung tertuju pada satu orang:  ...

Panduan Bertahan Hidup Saat Ospek

  Berdiri Diam Selama Tiga Jam Ternyata Tidak Sesederhana Kedengarannya Aku pernah berada di posisi kamu sekarang. Mahasiswa baru. Mata masih berbinar, tas masih bau toko buku, dan otak masih percaya bahwa kampus adalah tempat yang penuh diskusi intelektual, kopi pahit, dan percakapan tentang masa depan bangsa. Lalu datanglah ospek. Ospek itu sebenarnya singkatan dari sesuatu. Aku yakin ada kepanjangannya. Waktu dulu aku tahu. Sekarang sudah lupa. Mungkin karena otakku sengaja menghapus sebagian memori itu demi kesehatan mental. Otak manusia memang pintar memilih mana yang perlu diingat dan mana yang sebaiknya disimpan di lemari trauma kecil di pojok kepala. Yang jelas, setiap mahasiswa baru biasanya diwajibkan mengikuti ospek. Katanya untuk mengenal lingkungan kampus. Dari yang tadinya tidak tahu di mana letak fakultas, jadi tahu. Dari yang tadinya tidak tahu bahwa dosen bisa lebih sibuk dari presiden, jadi tahu. Dari yang tadinya tidak kenal teman seangkatan, jadi tahu siapa saja...

Menolak Orang Meminjam Uang Tanpa Kehilangan Teman (Biasanya Tetap Kehilangan)

  Orang Berutang Bisa Lebih Marah dari Orang yang Kehilangan Uang Ada satu budaya Indonesia yang menurutku sangat rumit. Bukan upacara adat. Bukan birokrasi. Bukan juga cara orang parkir motor yang kadang membutuhkan keberanian spiritual. Yang paling rumit adalah urusan meminjam uang. Secara teori, konsepnya sederhana. Seseorang meminjam uang lalu suatu hari mengembalikannya. Seperti meminjam buku atau meminjam payung. Masalahnya, dalam praktik kehidupan nyata, meminjam uang di Indonesia sering berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks. Kadang lebih kompleks daripada hubungan percintaan. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai terlihat seperti orang yang layak dipinjami uang. Mungkin karena aku bekerja. Mungkin karena aku terlihat tidak terlalu menderita. Atau mungkin karena wajahku memiliki aura seseorang yang bisa berkata, "Ya sudah, tidak apa-apa." Masalahnya, aura itu berbahaya. Karena di zaman ekonomi seperti sekarang, semakin banyak orang yang membutuhkan uang. Dan se...

Di Indonesia, ‘Permisi’ Bisa Jadi Jampi-jampi Segala Situasi

  “Di antara ribuan kata dalam bahasa kita, mungkin cuma ‘permisi’ yang bisa membuat orang tua tersenyum dan anak muda melipir tanpa debat.” Suatu siang, aku naik angkot jurusan pasar–terminal. Kondisinya padat. Lebih padat dari folder tugas akhir mahasiswa semester delapan. Aku berdiri canggung di depan pintu, sambil menatap lorong sempit yang dipenuhi kaki, tas belanja, dan aroma campuran balsem serta gorengan. Aku tahu aku harus masuk. Tapi jalan ke dalam itu sempit—baik secara harfiah maupun emosional. Akhirnya aku tarik napas, lalu ucap pelan: “Permisi, Bu. Permisi, Pak...” Seolah-olah kata itu adalah isyarat sakral, orang-orang langsung bergeser. Ada yang angkat tas, ada yang rapatin lutut, ada yang langsung senyum dan bilang, “Sini, duduk di sini aja, Nak.” Rasanya seperti nabi lewat. Tanpa mukjizat, tapi disambut hangat. Aku makin sadar, di negeri ini, “permisi” itu bukan cuma sopan santun. Dia semacam jampi-jampi harian yang fungsinya luar biasa. Mau motong jalan di tro...

Satu Pembunuh yang Bikin Dua Dunia Terpaksa Bekerja Sama

  “Kalau polisi dan preman bisa bersatu demi satu tujuan... berarti yang mereka kejar pasti lebih jahat dari mantan yang ngilang pas tagihan datang.” Kalau dua orang yang biasanya saling maki bisa duduk bareng tanpa saling tonjok, itu artinya mereka sedang menghadapi musuh bersama. Dan musuh bersama itu biasanya bukan orang biasa. Bisa penjahat kelas kakap, bisa peraturan parkir yang terlalu rumit, atau... pembunuh berantai yang bikin polisi dan preman jadi satu tim dadakan. Dan begitulah isi film ini. Judulnya saja sudah seperti tiga orang rebutan nasi bungkus: The Gangster, The Cop, The Devil. Tapi ternyata, ini bukan tentang siapa yang paling galak. Ini tentang siapa yang paling gigih... memburu orang yang tidak peduli pada hukum, tidak takut pada preman, dan tidak punya kemanusiaan sama sekali. FILM ini berasal dari Korea Selatan, dan seperti kebanyakan film dari negeri itu, dia punya keahlian khusus:  membuat kekerasan terasa puitis. Darah muncrat, tulang patah, wajah l...

Kenapa Kalau Lagi Pusing, Indomie Bisa Jadi Jalan Tengah dan Jalan Buntu Sekaligus?

  “Kadang, solusi tercepat untuk hati yang berantakan bukan pelukan atau nasihat … tapi air mendidih dan sebungkus mie instan .” Aku pernah masak Indomie sambil nangis. Bukan karena bawang, bukan juga karena mie-nya terlalu pedas. Tapi karena hari itu segalanya terasa kacau dan aku butuh sesuatu yang rasanya aku bisa kontrol. Kompor aku nyalakan. Air aku panaskan. Lalu bumbu-bumbu aku buka satu-satu—yang serbuk, yang cair, yang pedas, yang minyak—semuanya aku susun rapi, seperti sedang menyusun hidupku yang tidak rapi sama sekali. Saat mie itu mulai mengembang di dalam air, aku berdiri diam sambil menatap uap yang naik pelan. Rasanya damai. Dan sedih. Indomie itu aneh. Dia bisa jadi penyelamat dalam banyak situasi: saat kamu bokek , saat kamu begadang , saat kamu baru putus cinta , bahkan saat kamu lagi diet tapi udah nggak tahan lagi sama salad. Dia fleksibel. Bisa jadi sarapan, makan siang, camilan sore, atau pengganti makan malam yang tertunda karena tumpukan kerjaan. Tapi...

Di Indonesia, Ngantri Itu Bukan Waktu Terbuang Tapi Ajang Kenalan

  “Orang Indonesia bisa saling curiga di lampu merah, tapi bisa saling percaya di antrean sembako.” Aku pernah ikut antre sembako, dan pulang-pulang rasanya seperti habis nonton tiga episode sinetron tanpa jeda iklan. Bayangkan, aku cuma berdiri di belakang satu ibu-ibu, di depan dua bapak-bapak, selama sekitar tiga puluh menit. Tapi dalam waktu sependek itu, aku tahu harga cabai terbaru, siapa anak tetangga yang baru nikah, dan betapa panasnya urusan warisan yang lagi pecah di RT sebelah. Belum sempat aku tanya, “Ini sebenarnya antre apa, ya?”—sudah ada yang nyelutuk, “Kamu kayaknya bukan orang sini, ya?” Dan dari situ, semua dimulai. Di Indonesia, kalau kamu berdiri di satu barisan cukup lama, kemungkinan besar kamu akan punya teman baru. Mau itu antrean minyak goreng, vaksin, ATM, bakso, atau toilet rest area—ada hukum tak tertulis bahwa kamu harus ngobrol sama orang di dekatmu. Obrolannya bisa mulai dari hal netral: “Lama juga, ya.” Lalu naik kelas: “Tadi lewat mana? Macet ng...

Jamu Pertamaku yang Rasanya Mirip Sumpah Jabatan

  “Jamu itu bukan sekadar minuman. Tapi upacara sunyi antara tubuh, tanah, dan kenangan yang nggak pernah dijelaskan dengan kata-kata.” Aku lupa persisnya kapan, tapi yang jelas saat itu aku belum cukup dewasa untuk sadar bahwa hidup ini isinya bukan cuma teh manis dan sirup merah. Temanku mengajak mampir ke kios jamu di pinggir pasar. “Cobain, ini sehat,” katanya sambil nyengir. Karena waktu itu aku lagi pilek, masuk angin, dan sedikit patah hati, aku pikir—ya, kenapa tidak. Badan sudah lelah, pikiran pun butuh pelampiasan. Dia bilang, “Ambil yang ringan aja. Beras kencur. Rasanya manis kok.” Aku percaya. Segelas kecil disodorkan. Warnanya cokelat keruh, dengan aroma yang seperti campuran tanah habis hujan dan dapur rempah yang ngambek. Aku teguk setengah. Dan langsung merasa seperti barusan dicubit bumi. Ada sensasi aneh di kerongkongan. Seolah lidahku sedang negosiasi damai dengan rasa pahit, manis, hangat, dan getir yang datang bersamaan tanpa aba-aba. Keringat keluar. Tapi buk...

Beberapa Hal yang Bisa Kamu Lakukan Saat Terpaksa Harus BAB di Toilet Umum

  Tak ada yang benar-benar siap menghadapi mules di luar rumah. Tapi di antara semua hal yang bikin panik, tak ada yang lebih jujur daripada bunyi tubuh yang tak bisa dibohongi. Aku pernah mencoba menahan mules dari Cikini sampai Depok. Itu adalah keputusan yang paling sombong sekaligus bodoh dalam hidupku. Bayangkan, dalam perjalanan sejauh itu, aku sempat berdebat dengan tubuhku sendiri: siapa yang lebih berkuasa atas keputusan hidup ini—aku atau perutku? Tentu saja aku kalah. Perut menang. Dan sejak saat itu aku menyadari: ada kalanya manusia harus menyerah. Menyerah pada kenyataan bahwa kita hanyalah makhluk hidup yang sewaktu-waktu bisa dilumpuhkan oleh satu sendok sambal. Toilet Umum Bukan Musuh, Tapi Juga Bukan Teman Kita semua tahu, toilet umum itu ibarat kawan lama yang kadang menolong, tapi kadang juga bikin trauma. Ada toilet yang bersih dan wangi, tapi jumlahnya sangat langka, seperti legenda urban. Kebanyakan toilet umum itu... ya, begitu. Pintu yang sudah sulit ditut...