Aku tidak sedang merasa hebat. Tapi kadang, kalau kita berhenti sebentar dan menengok sekitar, ada banyak hal yang diam-diam memanggil nurani kita.
Aku tidak ingat sejak kapan aku jadi orang yang mudah luluh.
Mungkin sejak kecil.
Mungkin sejak pertama kali lihat penjual mainan duduk di depan sekolah, dagangannya tak disentuh, tapi dia tetap senyum meski anak-anak lebih memilih jajan ciki.
Atau mungkin sejak aku mulai bekerja dan sadar betapa keras hidup ini. Betapa tak semua orang bisa duduk di ruangan sejuk sambil menyesap kopi, mengetik dari layar laptop, dan berharap gajian datang tanpa halangan.
Banyak dari mereka yang masih menggantungkan hidupnya dari satu dua pembeli yang—semoga saja—berhenti.
Dan kadang, pembeli itu… ya kita.
Sore itu aku pulang kerja agak malam. Langit sudah ungu tua, dan angin mulai dingin.
Aku lewat depan masjid. Biasanya ramai, tapi kali ini sunyi.
Di bawah tiang lampu jalan, duduk seorang ibu. Rambutnya sebagian tertutup kerudung lusuh. Di depannya ada kotak kaca kecil, isi bolu warna-warni yang tampak kering di ujungnya. Entah sejak jam berapa dia duduk di sana. Entah sudah berapa orang yang lewat tanpa berhenti.
Aku hampir melewatinya. Tapi di ujung mataku, aku melihat dia tersenyum.
Bukan senyum yang berharap, tapi lebih ke… senyum yang sudah pasrah.
Aku berhenti.
Balik lagi.
Tanya harganya.
“Lima ribu, Nak,” katanya. “Ambil dua, gratis satu.”
Bagian "gratis satu"-nya itu… suaranya pelan, seperti tak yakin akan ada yang tertarik.
Aku beli tiga. Bayar lima belas ribu. Dia membungkusnya pelan, pakai plastik bening tipis yang biasa buat sayur. Tangannya agak gemetar.
Aku bawa pulang.
Sampai rumah, bolunya aku makan satu. Seret. Dua lainnya aku titipkan ke warung depan rumah, siapa tahu ada anak kecil yang butuh camilan.
Bolu itu bukan soal rasa.
Tapi soal… rasa menjadi manusia.
Beberapa hari setelah itu, aku lagi jalan kaki sore-sore. Di ujung jalan, ada bapak-bapak dengan gerobak gorengan. Topinya kumal, bajunya basah keringat, dan wajahnya seperti bekas hari panjang.
Aku cuma pengen beli satu tahu isi.
Tapi melihat dia duduk di depan gerobak, kipas dirinya pelan-pelan, aku nggak tega bilang “satu aja”.
“Bungkus semua, Pak.”
Dia kaget. Senyumnya pelan. Tangannya cepat membungkus gorengan satu per satu.
Padahal aku tahu, itu pasti dagangan sisa dari siang. Tapi aku nggak peduli.
Aku bawa pulang. Bagi ke tetangga.
Dan satu tahu isi yang aku makan malam itu… entah kenapa rasanya lebih enak dari biasanya.
Mungkin karena aku makannya sambil ingat: ada satu bapak tua yang hari itu bisa pulang lebih cepat. Bisa istirahat lebih awal. Mungkin bisa beli susu buat cucunya.
Orang sering bilang: jangan beli kalau nggak butuh.
Betul.
Tapi manusia bukan cuma soal logika. Kadang, hati kita bisa membelokkan arah langkah. Bukan karena kita kaya, bukan karena kita dermawan, tapi karena kita masih punya ruang untuk peduli.
Aku pernah mengorbankan jatah makan malam demi beli lontong sayur yang dari baunya saja aku tahu… nggak akan cocok di lidahku.
Tapi penjualnya diam-diam menyeka air mata saat aku bilang, “Bungkus, Bu.”
Mungkin dia sudah terlalu lama duduk menunggu.
Mungkin dia pikir hari itu akan pulang tanpa satu pun pembeli.
Dan aku?
Aku pulang dengan perut belum sepenuhnya kenyang.
Tapi hati ini… hangat.
Ada orang yang menganggap membeli karena kasihan itu tidak baik.
Katanya, “Jangan kasihan, dong. Kasih pekerjaan lebih baik.”
Tapi tidak semua orang bisa langsung dikasih pekerjaan.
Kadang, yang bisa kita lakukan saat itu hanya membeli satu bungkus makanan.
Dan percayalah, buat beberapa orang, itu sudah lebih dari cukup.
Kasihan itu bukan berarti kita merasa lebih tinggi.
Justru kasihan datang karena kita menyadari bahwa kita sama. Sama-sama manusia. Sama-sama pernah kelelahan. Sama-sama pernah menunggu tanpa kepastian.
Dan kalau hari itu kita kebetulan punya uang sepuluh ribu lebih banyak dari biasanya… kenapa tidak dibagi?
Kita hidup di zaman yang sibuk.
Sibuk mengejar.
Sibuk memotret makanan untuk diunggah.
Sibuk menghitung kalori, menghitung waktu, menghitung pencapaian.
Tapi kadang, kebahagiaan datang dari hal yang tidak masuk hitungan.
Seperti membeli kue bolu kering dari ibu-ibu di bawah lampu jalan.
Atau membeli tahu isi dari gerobak tua yang rodanya berdecit pelan.
Karena yang diberi mungkin cuma makanan, tapi yang diterima adalah pengakuan.
Bahwa mereka ada.
Bahwa mereka dilihat.
Bahwa mereka tidak sendirian.
Aku pernah mikir:
Bagaimana kalau suatu hari nanti aku pensiun, nggak punya tabungan cukup, dan harus jualan kecil-kecilan?
Bagaimana kalau suatu hari aku duduk menunggu pembeli, dan orang-orang hanya lewat tanpa melihat?
Aku mungkin akan berharap, ada satu orang yang berhenti. Tersenyum. Menyapa. Dan berkata:
“Bungkus, Pak.”
Dan semoga hari itu, ada seseorang sepertiku hari ini.
Yang tidak beli karena lapar.
Tapi beli karena sadar… kadang, dunia ini hanya butuh satu tindakan kecil untuk membuat hidup terasa layak lagi.
Bukan semua orang bisa kita bantu.
Tapi hari ini, kita bisa bantu satu orang.
Bukan semua dagangan bisa kita beli.
Tapi hari ini, kita bisa beli satu, dengan penuh hati.
Bukan semua kisah bisa kita ubah.
Tapi hari ini, kita bisa menjadi bagian kecil dari cerita seseorang — bagian yang membuat mereka percaya, bahwa kebaikan itu masih ada.
Dan kamu tahu?
Kadang, itu sudah lebih dari cukup.
“Kalau kamu punya sepuluh ribu yang menganggur di saku,bukan dosa untuk membelanjakannya demi hati orang lain yang sedang menunggu pulang.”

Komentar
Posting Komentar