Langsung ke konten utama

Panduan Bertahan Hidup Saat Ospek

 

Berdiri Diam Selama Tiga Jam Ternyata Tidak Sesederhana Kedengarannya

Aku pernah berada di posisi kamu sekarang. Mahasiswa baru. Mata masih berbinar, tas masih bau toko buku, dan otak masih percaya bahwa kampus adalah tempat yang penuh diskusi intelektual, kopi pahit, dan percakapan tentang masa depan bangsa.

Lalu datanglah ospek.

Ospek itu sebenarnya singkatan dari sesuatu. Aku yakin ada kepanjangannya. Waktu dulu aku tahu. Sekarang sudah lupa. Mungkin karena otakku sengaja menghapus sebagian memori itu demi kesehatan mental. Otak manusia memang pintar memilih mana yang perlu diingat dan mana yang sebaiknya disimpan di lemari trauma kecil di pojok kepala.

Yang jelas, setiap mahasiswa baru biasanya diwajibkan mengikuti ospek. Katanya untuk mengenal lingkungan kampus. Dari yang tadinya tidak tahu di mana letak fakultas, jadi tahu. Dari yang tadinya tidak tahu bahwa dosen bisa lebih sibuk dari presiden, jadi tahu. Dari yang tadinya tidak kenal teman seangkatan, jadi tahu siapa saja yang sama-sama terlihat panik setiap pagi.

Dan tentu saja, dari yang tadinya tidak tahu bahwa manusia bisa berdiri berbaris selama berjam-jam tanpa tujuan jelas, jadi tahu.

Kalau kamu mahasiswa baru yang sedang bersiap menghadapi ospek, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu pahami terlebih dahulu. Ini bukan nasihat. Lebih seperti catatan dari seseorang yang pernah melewati masa itu dan masih hidup sampai sekarang, meskipun sedikit berubah secara psikologis.

Hal pertama yang harus kamu siapkan adalah fisik.

Ospek itu, secara mengejutkan, cukup melelahkan. Kamu mungkin mengira kegiatan di kampus akan lebih banyak duduk, membaca, dan berpikir. Ospek dengan cepat mengoreksi asumsi itu. Dalam ospek, kamu akan belajar bahwa berdiri diam ternyata membutuhkan stamina yang cukup serius.

Bayangkan kamu berdiri di lapangan sejak pagi. Matahari naik perlahan seperti seseorang yang terlalu santai masuk kantor. Keringat mulai muncul di punggung. Sepatu terasa semakin sempit. Dan seseorang di depan terus berbicara menggunakan megafon dengan volume yang terdengar seperti sedang memanggil kapal dari pelabuhan lain.

Baris-berbaris adalah kegiatan utama dalam ospek. Kegiatan ini terlihat sederhana. Kamu hanya perlu berdiri lurus dan mengikuti instruksi. Masalahnya, instruksi itu sering kali datang dengan tempo yang tidak masuk akal.

"Maju tiga langkah!"

Kamu maju.

"Mundur dua langkah!"

Kamu mundur.

Di titik tertentu aku mulai berpikir bahwa tujuan latihan ini mungkin bukan untuk melatih kedisiplinan, tetapi untuk memastikan semua mahasiswa baru benar-benar tahu perbedaan antara maju dan mundur dalam kehidupan.

Kadang ada permainan kelompok. Permainan ini biasanya dirancang untuk melatih kerja sama tim. Dalam praktiknya, permainan itu sering terasa seperti eksperimen sosial tentang bagaimana manusia bereaksi ketika diminta melakukan sesuatu yang tidak mereka pahami.

Aku pernah berada dalam satu permainan di mana kelompok kami diminta membawa balon dengan cara yang sangat spesifik. Tidak boleh pakai tangan. Tidak boleh jatuh. Tidak boleh tertawa. Tidak boleh bertanya kenapa.

Balon itu jatuh.

Kami dihukum push-up.

Di momen seperti itu aku mulai menyadari satu hal penting tentang kehidupan kampus: kadang kamu dihukum bukan karena salah, tapi karena gravitasi masih bekerja dengan normal.

Selain fisik, yang harus kamu siapkan adalah mental.

Ospek adalah tempat di mana kamu belajar bahwa tekanan sosial bisa datang dari berbagai arah. Kamu akan diberi tugas yang cukup banyak. Kadang kamu harus membuat sesuatu yang sangat spesifik dalam waktu yang sangat singkat.

Misalnya, membawa atribut yang tidak pernah kamu dengar sebelumnya. Membawa makanan dengan bentuk tertentu. Membawa benda-benda yang kalau dipikir-pikir hanya ada di toko yang tutup sejak tahun 1998.

Kalau kamu lupa satu hal kecil saja, biasanya akan ada konsekuensi.

Tidak selalu besar.

Kadang hanya teguran.

Kadang push-up lagi.

Push-up tampaknya adalah bahasa universal dalam dunia ospek.

Yang menarik adalah bagaimana manusia bereaksi terhadap tekanan seperti itu. Beberapa orang langsung panik. Beberapa mencoba melawan. Beberapa terlihat sangat tenang, mungkin karena sudah menyerah secara spiritual.

Aku dulu termasuk kategori yang bingung.

Di satu sisi aku ingin protes. Di sisi lain aku sadar bahwa protes dalam situasi seperti itu sering terasa seperti mencoba menjelaskan logika kepada microwave.

Bisa saja.

Tapi hasilnya tidak selalu memuaskan.

Kalau kamu ingin melawan, sebenarnya boleh saja. Tidak ada yang melarang manusia menggunakan akal sehat. Hanya saja, cara melawannya perlu sedikit kreativitas.

Aku pernah membayangkan cara terbaik menghadapi senior yang terlalu galak adalah mengajak mereka duel olahraga.

Bayangkan situasi ini.

Seorang senior berteriak keras.

Kamu maju dengan tenang dan berkata, "Baik, kita selesaikan ini dengan elegan. Dua set badminton. Yang kalah traktir gorengan."

Mungkin dia akan kaget.

Mungkin dia akan tertawa.

Atau mungkin kamu akan diminta push-up dua kali lebih banyak.

Tapi setidaknya percakapan itu akan lebih menarik.

Hal lain yang sering direkomendasikan oleh orang-orang berpengalaman adalah mendekati senior.

Ini strategi klasik.

Jika kamu berhasil berteman dengan senior yang cukup berpengaruh, hidupmu selama ospek bisa menjadi sedikit lebih damai. Senior itu bisa menjadi semacam payung sosial yang melindungi kamu dari badai kecil yang kadang muncul.

Tentu saja, mendekati senior bukan pekerjaan mudah. Setiap senior punya karakter yang berbeda. Ada yang ramah. Ada yang terlihat seperti sedang memerankan tokoh antagonis dalam film drama kampus.

Pendekatannya harus berbeda.

Untuk senior yang ramah, cukup senyum dan bicara normal.

Untuk senior yang galak, mungkin pendekatannya lebih filosofis. Kamu cukup berdiri tenang dan berharap aura kepasrahanmu cukup kuat untuk membuat mereka kehilangan minat.

Ada juga satu jenis senior yang paling penting dalam ekosistem kampus: bapak-bapak sekuriti.

Mereka mungkin tidak ikut ospek secara resmi, tapi mereka tahu semua yang terjadi. Mereka melihat semuanya dari pos kecil di dekat gerbang. Dalam banyak situasi, mereka adalah manusia paling rasional di seluruh kampus.

Kalau kamu ingin benar-benar aman, kadang cukup sapa mereka dengan sopan.

Hubungan baik dengan sekuriti kampus adalah investasi sosial yang jarang dibicarakan, tapi sangat berguna.

Selain fisik dan mental, ada satu hal lagi yang mungkin perlu kamu siapkan: kehidupan setelah ospek.

Ini terdengar dramatis, tapi sebenarnya cukup realistis. Setiap tahun selalu ada cerita tentang mahasiswa baru yang terlalu kelelahan, terlalu stres, atau terlalu banyak memikirkan apakah atribut mereka sudah benar.

Karena itu, sebelum ospek dimulai, ada baiknya kamu pulang ke rumah dan berbicara dengan orang tua.

Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal secara dramatis seperti di film perang. Lebih seperti memastikan bahwa mereka tahu kamu sedang memulai fase baru dalam hidup.

Kamu juga bisa meminta restu dari adik, kakak, teman, atau siapa saja yang kebetulan ada di sekitar.

Ini bukan ritual mistis.

Hanya cara sederhana untuk mengingat bahwa hidupmu tidak hanya berisi jadwal ospek.

Dan mungkin yang paling penting adalah meluruskan niat.

Masuk kampus seharusnya untuk belajar. Untuk menemukan sesuatu tentang dunia, tentang diri sendiri, tentang hal-hal yang tidak pernah kamu pikirkan sebelumnya.

Bukan semata-mata untuk mencari gebetan di barisan mahasiswa baru.

Walaupun, jujur saja, kemungkinan itu selalu ada.

Sekarang, kalau aku mengingat masa ospekku dulu, semuanya terasa sedikit absurd. Banyak hal yang pada saat itu terasa sangat serius, tapi sekarang terlihat seperti cerita yang agak lucu.

Aku ingat berdiri di lapangan dengan wajah serius, seolah masa depan bangsa benar-benar bergantung pada kemampuan kami berdiri lurus selama tiga jam.

Aku ingat teman-teman yang sama bingungnya.

Aku ingat betapa cepatnya semua itu berlalu.

Dan yang paling aneh adalah, setelah semuanya selesai, kami justru merasa sedikit lebih dekat satu sama lain. Orang-orang yang tadinya asing tiba-tiba terasa seperti rekan seperjuangan.

Mungkin memang itu tujuan tersembunyinya.

Bukan hukuman.

Bukan tekanan.

Tapi pengalaman bersama yang aneh.

Pengalaman yang suatu hari nanti akan kamu ceritakan lagi sambil tertawa kecil.

Sekarang ospek sudah banyak berubah. Aturannya lebih manusiawi. Banyak kampus yang sudah meninggalkan tradisi perpeloncoan yang terlalu keras.

Tapi aku tetap suka membayangkan, kalau suatu hari ospek kembali seperti zaman dulu, setidaknya ada satu hal yang harus kamu ingat.

Berdiri di lapangan selama tiga jam memang melelahkan.

Tapi itu tidak seberapa dibandingkan berdiri di kehidupan nyata setelahnya.

Untungnya, di kehidupan nyata, biasanya tidak ada yang menyuruhmu push-up.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...