“Kadang, solusi tercepat untuk hati yang berantakan bukan pelukan atau nasihat… tapi air mendidih dan sebungkus mie instan.”
Aku pernah masak Indomie sambil nangis.
Bukan karena bawang, bukan juga karena mie-nya terlalu pedas. Tapi karena hari itu segalanya terasa kacau dan aku butuh sesuatu yang rasanya aku bisa kontrol.
Kompor aku nyalakan.
Air aku panaskan.
Lalu bumbu-bumbu aku buka satu-satu—yang serbuk, yang cair, yang pedas, yang minyak—semuanya aku susun rapi, seperti sedang menyusun hidupku yang tidak rapi sama sekali.
Saat mie itu mulai mengembang di dalam air, aku berdiri diam sambil menatap uap yang naik pelan. Rasanya damai.
Dan sedih.
Indomie itu aneh.
Dia bisa jadi penyelamat dalam banyak situasi: saat kamu bokek, saat kamu begadang, saat kamu baru putus cinta, bahkan saat kamu lagi diet tapi udah nggak tahan lagi sama salad.
Dia fleksibel.
Bisa jadi sarapan, makan siang, camilan sore, atau pengganti makan malam yang tertunda karena tumpukan kerjaan.
Tapi juga bisa jadi jebakan:
Karena setelah kamu makan, masalahmu nggak ikut tercerna.
Perasaanmu tetap kusut.
Dan kadang, kamu tambah sedih karena kamu tahu… kamu habis makan mie instan di jam dua pagi sambil bengong.
Indomie itu seperti mantan yang tahu kapan harus datang.
Dia tahu kapan kamu lelah.
Dia tahu kapan kamu butuh ditemani.
Dan dia selalu ada di laci, siap diandalkan.
Tapi sama seperti mantan yang terlalu kamu percaya, dia juga nggak pernah menyelesaikan luka lama.
Hanya menunda.
Hanya mengisi perutmu, sementara hatimu tetap penuh tanda tanya.
Lucunya, masak Indomie itu bisa terasa seperti terapi.
Ada semacam ketenangan saat mendengar air mendidih.
Ada kepuasan kecil saat melihat bumbu larut perlahan.
Ada sensasi nyaman saat mengaduk mie yang mulai lembut.
Dan ketika mie itu masuk ke mulut, kamu bisa pura-pura percaya bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal cuma kenyang.
Bukan lega.
Bukan tenang.
Bukan selesai.
Karena di tengah dunia yang sibuk, jawaban cepat kadang lebih penting daripada jawaban tepat.
Indomie mungkin bukan jawaban terbaik.
Tapi dia mudah dijangkau.
Cepat dimasak.
Indomie memang nggak bisa menyelesaikan masalah,
tapi setidaknya dia bisa menemani saat semua orang sibuk.

Komentar
Posting Komentar