Langsung ke konten utama

Bau Itu Masih Di Hidung Saya

 


Beberapa hal bisa kamu lupakan. Tapi ada bau yang bahkan setelah kamu mandi dua kali dan semprot parfum satu botol… tetap ikut duduk di bahu, diam-diam mengingatkan: “Aku masih di sini.”


Pernah nggak sih, kamu mencium sesuatu… dan tiba-tiba seluruh masa lalu ikut menyerbu masuk lewat hidung?

Saya pernah. Bahkan sering.

Dan menurut saya, kenangan itu kadang nggak datang lewat lagu atau foto. Tapi lewat... bau. Bau yang samar tapi jelas. Bau yang tiba-tiba muncul di tempat tak terduga. Bau yang kamu pikir sudah pergi, tapi ternyata sembunyi di balik memori.

Saya punya daftar bau yang nggak akan saya lupakan. Bukan karena saya pengen ingat, tapi karena tubuh saya udah mencatatnya diam-diam.

1️⃣ Bau Got Setelah Hujan

Saya pernah tinggal di rumah kontrakan kecil. Di gang sempit. Dan gang itu punya spesialisasi: kalau habis hujan, pasti banjir kecil. Tapi bukan banjir lucu yang bisa dibuat main kapal-kapalan. Ini banjir yang membawa cerita.

Suatu malam, saya pulang naik motor. Hujan baru reda. Jalanan licin. Lampu jalan remang-remang. Dan di titik tertentu — saya berhenti.

Kenapa?

Karena hidung saya mendadak protes.

Bau itu… luar biasa.

Seperti got yang sudah lama nggak diperiksa, bertemu dengan bangkai makhluk hidup, ditambah sisa makanan yang dibuang tanpa pamit.

Saya sempat berdiri di depan genangan itu. Diam. Menatap air yang bergerak pelan.

Dan bau itu… bukan cuma mampir ke hidung. Tapi seakan-akan, ikut numpang duduk di bahu saya. Lalu berkata, “Ingat aku baik-baik.”

Sejak malam itu, saya jadi lebih hati-hati kalau lewat gang sempit setelah hujan. Bukan takut jatuh, tapi takut ketemu bau yang bisa bikin trauma masa depan.

2️⃣ Bau Sepatu Teman Main Futsal

Ini kejadian klasik.

Saya naik mobil teman. Kita habis makan bareng. Tiba-tiba dia bilang, “Bentar ya, aku jemput sepatu dulu. Tadi habis futsal.”

Saya mengangguk santai. Nggak punya firasat buruk.

Lalu dia masuk mobil... sambil membuka sepatu.

Dan saat itu juga, saya tahu bahwa saya telah salah.

Bau itu menyeruak. Bukan seperti bau kaki biasa. Ini seperti aroma perjuangan. Seperti sepatu itu baru kembali dari medan perang. Basah, lembap, penuh amarah.

Saya buka jendela. Tapi rasanya tetap sesak.

Saya bilang, “Bro, ini sepatumu masih hidup nggak sih?”

Dia ketawa. Saya tidak.

Dan sejak saat itu, saya belajar bahwa ada sepatu yang perlu disucikan dulu sebelum diajak pulang bareng.

3️⃣ Bau Lemari Kos + Bantal Lawas

Kalau kamu pernah tidur di tempat orang lain — entah numpang, nginap, atau karena keadaan darurat — kamu pasti pernah cium aroma khas: lemari kayu tua, bantal lawas, dan kasur yang sudah terlalu banyak menyimpan cerita.

Saya pernah numpang tidur di kamar teman. Bantalnya… keras. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya, baunya seperti…

...gabungan antara minyak rambut lawas, parfum zaman SMA, dan kepala yang tidak keramas selama beberapa hari.

Saya coba tidur miring. Tapi hidung tetap terpapar.

Akhirnya saya tidur dengan kepala agak menggantung. Lebih baik leher pegal daripada terjebak dalam aroma masa lalu yang tidak saya pilih.

4️⃣ Bau Toilet Umum Terminal

Saya pernah menulis tentang pengalaman di rest area.

Tapi ini beda.

Ini di terminal. Kota kecil. Subuh hari.

Saya kebelet. Masuk toilet umum yang lampunya temaram. Begitu buka pintu… bau itu langsung meninju wajah.

Campuran antara kotoran lama, sabun colek, dan harapan yang gagal.

Saya menahan napas. Masuk. Cepat-cepat. Keluar lagi.

Tapi baunya? Seperti ikut pulang. Bahkan saya sempat merasa, "Apa tadi saya masuk toilet... atau neraka kecil?"

Saya naik bus sambil berharap hidung saya bisa segera lupa.

Tapi ternyata tidak.

5️⃣ Bau Rumah Sakit

Ini bukan bau menyengat. Tapi kalau kamu tahu, ya kamu tahu.

Bau karbol. Bau selang infus. Bau AC yang terlalu dingin. Bau selimut rumah sakit. Bau kasur yang dilapisi plastik. Semua itu membentuk aroma yang khas.

Saya pertama kali mencium bau itu saat Ibu dirawat.

Saya duduk di sebelahnya. Malam hari. Jarum infus terpasang di tangannya. Mesin berbunyi pelan.

Dan saya mencium itu semua.

Saya tidak menangis.

Tapi bau itu... seakan membisikkan: “Sedang ada yang berjuang.”

Dan setelah Ibu tiada, setiap saya mencium bau rumah sakit yang serupa, dada saya ikut sesak. Bukan karena sakit. Tapi karena rindu.

Dan rindu itu kadang muncul… lewat hidung.


Bau Adalah Cerita yang Tak Terlihat

Kadang kita bisa foto tempat, orang, momen. Tapi kita nggak bisa memotret bau. Itu sebabnya, bau jadi hal yang paling jujur. Karena dia tidak bisa ditangkap kamera, tapi bisa tinggal lama di kepala.

Dan dari semua bau itu, saya belajar:

  • Ada bau yang bikin muntah

  • Ada bau yang bikin senyum

  • Ada bau yang bikin kita pengen pulang

  • Dan ada bau yang… bikin kita sadar: kita pernah kehilangan

Bau itu mungkin nggak penting buat orang lain. Tapi buat kita, itu adalah petunjuk bahwa hidup pernah terjadi — dan mencatatkan jejaknya, bahkan di udara yang kita hirup.


Jika kamu pernah mencium bau yang nggak bisa kamu lupakan…
kamu tidak sendirian.

Karena kita semua pernah punya
“kenangan yang masuk lewat hidung, dan tinggal di hati.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...