Langsung ke konten utama

Damri: Daster, Daster, Intel!

 


Aku kira dia cuma suka nyanyi dangdut dan ngasih mie goreng tengah malam. Ternyata… dia bawa borgol.


Dulu aku pernah dikirim dinas luar kota. Tiga bulan. Di Medan.

Buat yang belum tahu, Medan itu kota yang keras. Bukan cuma karena orang-orangnya tegas kalau ngomong, tapi juga karena tukang nasinya tega banget ngasih sambel kayak mau ngajak tawuran. Tapi ya, karena itu juga aku betah.

Awalnya aku pikir, hidup selama tiga bulan di kota orang bakal ngebosenin. Tapi itu sebelum aku kenal Damri.

Nama lengkap di KTP: Damri bin Saprudin.

Tapi kalau di kontrakan dan sekitarnya, dia lebih dikenal sebagai: Katherine.


Waktu aku pindah ke kontrakan itu, aku belum kenal siapa-siapa. Letaknya di pinggiran Medan. Bangunannya rumah petak, satu deret enam pintu. Kontrakan murah, karena ya memang bukan buat jangka panjang. Cocok buat perantau yang cuma mampir sebentar, seperti aku.

Di bulan pertama, semuanya biasa aja.

Pagi-pagi bangun, berangkat ke kantor, pulang sore, makan di warung sebelah, tidur. Gitu terus. Hidupku waktu itu kayak nasi kotak seminar: lengkap, tapi nggak ada kejutan.

Nah, masuk bulan kedua, barulah hidupku berubah.

Karena pintu nomor tiga, yang tadinya kosong, kedatangan penghuni baru.

Dia datang naik becak motor, pakai kacamata hitam, jaket denim, dan… heels.

Iya, sepatu hak tinggi.

Badan segede tukang parkir, tapi langkahnya… gemulai.

Aku yang lagi nyapu depan langsung berhenti.

Dia turun dari becak, senyum ke aku sambil melambai, “Hai… tetangga baruuu~”

Nada suaranya naik turun kayak penyanyi dangdut yang baru direkrut jadi backing vocal di lomba 17-an.

Aku hanya bisa senyum dan angguk pelan. Belum siap.


Hari-hari berikutnya, Damri alias Katherine langsung jadi bintang di kontrakan.

Setiap pagi, dia nyapu sambil nyanyi lagu jadul. Kadang pakai daster bunga-bunga, kadang kaos ketat dan celana pendek gambar patrick si bintang laut.

Kalau dia lewat depan kamar, dia suka manggil sambil centil:

“Mas Naraa~ udah sarapan beeluuum?”

Aku cuma bisa jawab singkat, “Udah, Kak.”

“Duh… panggil aku Kakak terus. Aku tuh seumuran loh… paling beda dua tahun. Tapi kalau kamu mau manggil ‘sayang’ juga nggak papa~”

Setiap hari begitu.

Aku mulai terbiasa.

Bahkan diam-diam aku merasa: kontrakan ini jadi lebih hidup sejak ada Katherine.

Dia itu jenis manusia yang… nyebelin tapi bikin kangen. Ngomongnya ceplas-ceplos, tapi hatinya baik.

Pernah satu malam, aku pulang agak larut karena ada kerjaan tambahan. Perut lapar, tapi warung tutup. Eh, Damri ngeluarin dua piring mie goreng dari kamarnya.

“Makan dulu, Bang. Nanti baru cerita, siapa yang nyakitin kamu malam ini~”

Padahal aku cuma kerja lembur.

Tapi cara dia ngomong, bikin aku ngerasa seolah barusan diputusin.


Ada juga momen kocak waktu dia nyalonin salah satu tetangga.

Jadi di kamar nomor lima, ada bapak-bapak usia 40-an, baru cerai. Wajahnya suram terus, tiap pagi duduk di teras sambil ngelamun liatin langit.

Suatu hari, Damri nyamperin.

“Pak Anton~ aku boleh duduk sebelah sini nggak? Biar awan-awan juga tahu, ada yang lebih cerah dari mereka~”

Aku nyaris nyedot kopi lewat hidung waktu denger itu.

Tapi anehnya, Pak Anton malah senyum-senyum kecil.


Tapi cerita ini bukan cuma soal gaya centil Damri.

Karena di balik senyumnya yang selalu lebay, dan suara melengkingnya yang bisa ngalahin alarm motor… ternyata dia nyimpan sesuatu yang bahkan aku nggak pernah duga.

Sesuatu yang bikin aku melongo di akhir bulan ketiga.


Hari itu, aku lagi beres-beres buat pulang ke Jakarta.

Kontrak dinas udah selesai. Semua berkas udah diserahin. Rasa campur aduk: senang, lega, tapi juga… sedih. Tiga bulan itu sebentar, tapi banyak kejadian yang bikin aku ngerasa kayak lagi ikut acara sinetron sore.

Siang itu, aku pamit satu-satu ke penghuni kontrakan.

Pak Anton cuma angguk pelan sambil ngelus pundakku.

Mas Yudi dari kamar dua ngasih aku dua bungkus kopi medan sebagai kenang-kenangan.

Dan Damri… seperti biasa, dramatis.

“Naraa~ jangan lupa sama kita-kita yaaa~ nanti kalo kamu udah jadi orang penting, jangan pura-pura lupa kontrakan ini!”

Aku ketawa, “Nggak mungkin lupa, Kak. Suara kamu aja nyangkut di otak.”

“Huh. Pengen tak keplak pakai lipstick!”

Kami berpelukan. Aku nggak bilang ini, tapi… aku sedih juga.


Tapi… semuanya berubah satu jam kemudian.

Aku lagi duduk nunggu jemputan di ujung gang kontrakan, waktu aku lihat Damri… lari.

Iya. LARI.

Bukan jalan centil. Bukan sambil joget.

Tapi LARI. Dengan kecepatan penuh. Kayak atlit.

Heels-nya ditenteng. Daster digulung. Wajahnya serius.

Aku bingung.

Lebih bingung lagi waktu lihat dia ngejar seorang lelaki dari arah kamar enam.

Lelaki itu juga lari. Panik. Bawa tas gendong. Wajahnya pucat.

Dan Damri… mengejarnya kayak bek liga Inggris ngejar bola terakhir di final.

Suara napasnya berat, tapi langkahnya cepat. Dua menit kemudian, dia berhasil tackle lelaki itu sampai jatuh.

Dan yang bikin aku makin kaget…

Dia ngeluarin borgol.

Iya.

BORGOL.

Langsung narik tangan lelaki itu ke belakang, borgol diklik, dan sambil ngos-ngosan dia bilang:

“Kau kira aku bencong biasa? Aku nunggu kau tiga bulan, Bang. Tiga BULAN!”

Aku berdiri terpaku.

Warga mulai keluar. Ada yang ngerekam. Ada yang nyeletuk, “Ya Allah… si Katherine intel ternyata!”

Lelaki yang ditangkap itu, ternyata buronan kasus penipuan lintas provinsi.

Dan Damri… alias Katherine… adalah petugas intelijen yang udah tiga bulan nyamar sebagai waria.

Karena targetnya punya kecenderungan suka godain waria.

Iya. Segitu dalamnya penyamaran.


Malamnya, sebelum aku benar-benar pulang, Damri dateng ke kamar bawa gorengan.

Kali ini udah nggak pakai daster. Tapi pakai kemeja hitam, rambut dicepol, dan… ID card yang digantung di leher.

“Jangan bilang-bilang ya, Ra. Aku tuh sebenernya nggak pengen kamu tahu. Tapi ya gimana… dia akhirnya munculnya pas kamu masih di sini.”

Aku duduk, masih nggak percaya.

“Aku kira kamu… ya… waria biasa.”

Dia ketawa.

“Iya, aku juga sempat lupa kalo aku intel.”

Aku melongo.

“Tapi sumpah, aku kangen juga sih gaya bebas di kontrakan. Bisa nyanyi, bisa becanda, bisa masak mie jam dua pagi.”

“Terus sekarang kamu balik jadi Damri?”

“Yaa… tergantung tugas berikutnya. Tapi selama masih bisa nyamar, ya aku nikmatin aja. Kadang jadi bencong, kadang jadi tukang parkir, pernah juga jadi marbot masjid.”

Aku tepuk jidat. “Luar biasa.”

“Yang penting, kita kerja pakai hati. Meskipun dandanan kadang bukan hati nurani.”

Dan begitulah.

Aku pulang ke Jakarta bukan cuma dengan koper dan oleh-oleh.

Tapi juga dengan cerita yang bakal aku simpan selamanya.

Bahwa di satu sudut kontrakan di Medan, pernah ada tetangga bernama Damri, yang suka nyanyi lagu dangdut pagi-pagi, suka godain Pak Anton, dan suka ngasih mie goreng tengah malam…

…tapi juga nangkep buronan pake daster dan heels.

Kadang, hidup itu kayak sinetron.

Tapi bedanya, ini nyata.

Dan aku pernah jadi salah satu penonton langsungnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...