Langsung ke konten utama

Jengkol vs Pete: Perdebatan yang Tak Pernah Selesai dan Memang Tak Perlu Diselesaikan

 


Makan jengkol atau pete itu bukan soal enak atau nggak enak. Tapi soal siapa yang masih tahan hidup dengan bau mulut sendiri.


Kalian pernah nggak sih duduk santai di warung tenda malam-malam, lagi seru-serunya makan nasi uduk, lalu dari arah belakang ada dua orang bapak-bapak mulai debat kusir?

Pete itu lebih enak, Bos!”
“Ah, jengkol lah, rasa dagingnya berasa!”
“Pete itu bisa dimakan mentah!”
“Jengkol bisa dimasak rendang!”

Terus tiba-tiba dua-duanya terdiam. Bukan karena kehabisan argumen. Tapi karena sama-sama nyadar… napas mereka bikin lalapan layu.

Aku sering banget nemu kejadian semacam ini. Kadang dari mulut ibu-ibu komplek, kadang dari status WA paman yang terlalu aktif, dan paling sering sih, dari mulutku sendiri. Karena jujur ya, aku pecinta keduanya. Pete iya. Jengkol juga iya. Dan aku juga menyadari satu hal penting: tidak semua orang sanggup hidup berdampingan dengan napasnya sendiri setelah makan keduanya.

Tapi anehnya, makin banyak orang yang memojokkan salah satu. Kayak dunia ini cuma bisa muat satu jenis bau di pagi hari. Padahal, dua-duanya punya potensi bikin tetangga bangun dari tidur siang.

Bau yang Membanggakan

Kalau kita pikir-pikir, satu-satunya makanan yang bisa bikin kamu merasa berdosa padahal cuma makan itu ya jengkol sama pete. Dan anehnya, walaupun baunya kayak... yah, kamu tahu lah, kita tetap makan itu dengan penuh semangat. Bahkan saking bangganya, ada orang yang sengaja ngetes kekuatan jengkol dengan membuka mulut tepat di depan kipas angin. Biar apa? Biar semua orang tahu, “Aku habis makan jengkol dan aku bangga.”

Pete pun begitu. Kadang lebih licik. Karena dia bisa dimakan mentah. Diselipin di nasi. Dipadukan dengan sambal terasi. Terus dimakan sambil ngupil dan nonton sinetron. Hasilnya? Bau yang tak terdeteksi saat itu juga… tapi muncul tiba-tiba saat kamu keringetan di angkot tanpa AC.

Itulah keajaiban dua makhluk ini. Mereka tidak hanya menyatu dalam rasa, tapi juga dalam kenangan. Karena tidak ada yang makan jengkol atau pete lalu melupakannya begitu saja. Selalu ada jejak. Entah di kamar mandi, di bantal, atau di wajah teman sekantor yang duduk terlalu dekat.

Kenapa Harus Bertengkar?

Ini pertanyaan mendasarnya: kenapa sih harus ada kubu jengkol dan kubu pete? Kenapa nggak kita bentuk koalisi jengkol-pete, lalu bikin gerakan nasional: "Satu Mulut, Dua Bau"?

Kita hidup di negara yang penuh toleransi makanan. Lihat saja warteg: satu rak bisa isinya ayam goreng, semur jengkol, balado pete, dan tahu bacem dalam satu garis dapur. Tapi anehnya, netizen suka sekali membuat perdebatan ini jadi adu superioritas rasa. Padahal lidah manusia beda-beda. Kalau kamu bisa menikmati es krim rasa durian, seharusnya kamu bisa lebih toleran terhadap mulut orang yang habis makan jengkol.

Dan yang bikin aku makin bingung, kadang orang yang paling lantang menjelekkan jengkol, ternyata ngaku-nyicip pas jengkol disemur sama mertua. Terus diam-diam nambah nasi. Habis itu komentar, “Ya ampun, ini tuh kayak daging ya!”
Iya. Jengkol itu daging versi tanaman. Dan pete itu parfum versi pertanian.

Warisan dari Leluhur

Mari kita sedikit serius. Tapi nggak usah terlalu serius, nanti kram otak.

Jengkol dan pete itu bukan makanan sembarangan. Mereka itu warisan budaya. Bukan dari museum atau buku sejarah, tapi dari mulut ke mulut—secara harfiah. Zaman dulu, anak kecil yang makannya susah, bakal dikasih pete goreng pake kecap. Dan entah kenapa, lidah kecil itu langsung nurut.

Jengkol pun begitu. Di banyak daerah, jengkol punya tempat terhormat di dapur. Di Betawi, jengkol semur itu seperti lagu wajib saat ada hajatan. Di daerah Sunda, jengkol balado adalah senjata makan siang yang tak bisa ditolak. Bahkan di Sumatera, jengkol bisa dipadukan dengan rendang. Makanan yang katanya paling enak di dunia itu... diberi topping jengkol.

Dan soal kandungan gizi, jangan tanya. Jengkol punya protein nabati tinggi. Pete punya zat pengusir setan bernama triptofan. Bahkan ada yang bilang, pete bisa bikin kamu tidur lebih nyenyak. Kalau kamu tidur sendiri, tentu. Karena kalau tidur bareng orang lain, kamu bakal dibangunin... bukan karena mimpi buruk, tapi karena napas kamu bikin mereka mimpi buruk.

Menu Sejuta Tafsir

Pernah nggak kalian nyicip sambal pete dari warung Padang? Itu bukan sekadar sambal. Itu adalah bentuk cinta yang disisipkan ke nasi bungkus. Pete di dalamnya mungkin cuma tiga biji, tapi rasa dan aromanya bisa membuat kamu merasa lebih hidup.

Atau kamu pernah ketemu semur jengkol yang teksturnya empuk, bumbunya masuk sampai ke hati jengkolnya? Itu bukan semur biasa. Itu bentuk peradaban. Karena jengkol yang tidak dimasak dengan benar bisa menyebabkan kerusakan hubungan sosial. Tapi begitu diolah oleh tangan ibu-ibu rumah makan, jengkol bisa jadi penghapus dendam dan pemupuk keakraban.

Pete juga begitu. Kadang dia nongol di lalapan, kadang jadi bahan utama sambal ijo, kadang muncul di nasi liwet. Tapi yang paling penting dari semua itu adalah... kamu tidak pernah sendirian ketika makan pete. Karena siapa pun yang mencium aromamu setelah itu, akan tahu kamu sudah menjalani ritual yang sama.

Aroma, Rasa, dan Kejujuran

Hal yang jarang dibahas adalah kejujuran yang ditawarkan oleh dua bahan makanan ini. Jengkol dan pete tidak pernah berpura-pura. Mereka tidak menyamar jadi makanan mewah. Mereka tidak tampil di restoran berlampu temaram dengan harga semangkuk seharga setengah gaji bulanan. Mereka hadir di warteg, di angkringan, di pinggir jalan. Mereka adalah cita rasa rakyat.

Dan mereka tidak pernah berbohong soal dampaknya. Kamu makan, kamu tahu akibatnya. Tidak ada kejutan. Tidak ada tipu daya. Mereka bukan seperti makanan ringan yang diklaim sehat tapi bikin kolesterol naik. Mereka tidak menjanjikan langsing, tidak menjanjikan glowing. Tapi mereka jujur. Dan jujur itu mahal.

Perdamaian di Meja Makan

Aku pernah makan di sebuah warteg di kawasan Tebet. Di sebelahku, dua orang bapak-bapak sedang makan. Satunya ambil jengkol, satunya ambil pete. Dan mereka duduk bersebelahan. Tak ada perdebatan. Tak ada sindiran. Yang ada cuma tawa dan ucapan, “Enak ya, jengkolnya hari ini!”
Dibalas dengan, “Peteku juga wangi bener nih!”

Itu momen damai yang sangat sederhana. Tapi membekas. Karena aku sadar, perdebatan jengkol-pete sebenarnya tidak pernah perlu ada. Yang kita butuhkan bukan pembuktian mana yang lebih unggul, tapi pengakuan bahwa keduanya layak disayangi.

Dan kalau kamu merasa jengkol terlalu tajam, mungkin kamu butuh pete yang lebih ringan. Atau sebaliknya. Dan kalau kamu suka dua-duanya? Selamat. Kamu orang dengan lidah paling berani dan napas paling mengkhawatirkan.

Akhirnya, setelah ribuan kata ini, aku tidak akan menyimpulkan siapa pemenangnya. Karena jujur saja, tidak ada. Karena makanan bukan tentang menang atau kalah. Makanan adalah tentang kenangan. Tentang rasa yang mengikat. Tentang bau yang tinggal lama dan bikin kamu kangen rumah, atau setidaknya... bikin kamu segera beli obat kumur.

Jadi, kalau besok kamu ketemu lagi sama teman yang nyela jengkol, jangan dilawan. Cukup ajak makan bareng. Sediakan pete dan jengkol di atas piring. Buka nasi, tuang sambal, dan biarkan mulut yang bekerja.

Karena dalam dunia yang penuh kebohongan ini, jengkol dan pete adalah dua dari sedikit hal yang masih jujur.

Dan itu... layak kita rayakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...