Sapaan dari orang asing itu seperti pesan nyasar—kadang bikin takut, kadang bikin hangat, tapi selalu meninggalkan jejak.
Aku percaya, setiap orang pasti pernah ngalamin momen ini: lagi jalan sendiri, duduk sendiri, atau sekadar nunggu bus sendirian… tiba-tiba ada orang asing nyapa.
Sapaan itu bisa jadi semanis permen karet gratis, bisa juga seseram panggilan tak dikenal tengah malam.
Tiba-tiba…
Ada bapak-bapak berdiri di depanku. Senyum lebar. Bajunya batik, celananya longgar, dan wajahnya kayak... ya kayak orang baik.
Dia lihat aku lama. Lalu dia bilang:
“Kamu pasti bukan dari dunia ini.”Lah?
Langsung otakku muter cepat.
Antara dia paranormal… atau tokoh pembuka cerita urban legend.
Aku respon pelan, “Maaf, Pak?”
Dia cuma senyum lagi, lalu duduk di ujung bangku.
Nggak ngomong lagi.
Cuma duduk.
Setenang pohon beringin habis disiram kembang tujuh rupa.
Tapi jangan salah, nggak semua sapaan asing itu serem.
Aku jawab, “Nunggu hidup ini berubah, Pak.”
Katanya, “Siapa tahu di sini ada berita baik.”
Aku pegang koran itu seharian.
Nggak aku baca.
Tapi aku lipat rapi, karena aku tahu… itu bukan sekadar kertas, tapi bentuk perhatian kecil dari seseorang yang bahkan nggak tahu namaku.
Dia nunjuk aku:
“Mas, itu resleting tasnya kebuka, loh.”Aku panik. Cek tas. Bener.
Aku bilang, “Wah, makasih ya, Bu.”
Ada juga momen yang bikin aku ingin menghilang dari permukaan bumi.
Contohnya waktu di trotoar, seorang bapak menghampiri aku dan langsung bilang:
“Eh, kamu pasti temen SMP saya! Waktu itu ikut ekstrakurikuler marawis, kan?”Aku yang bahkan nggak tahu cara megang rebana, cuma bisa kaku.
“Maaf, Pak. Mungkin salah orang.”
Dia masih yakin.
“Serius lho. Kamu mirip banget sama Ucup!”Dan masalahnya… aku juga pernah punya panggilan Ucup waktu kecil.
Makin bingung kan?
Jangan lupakan jenis sapaan yang satu ini:
“Mas, saya suka auranya. Pernah kepikiran buka usaha sendiri?”Lalu disusul dengan ajakan ngopi, diskusi bisnis, dan menjual mimpi yang… rasanya terlalu bagus untuk jadi nyata.
Cuma… ya, cara menyapanya itu loh.
Salah waktu, salah tempat, dan sering bikin trauma sosial.
Kalau ada yang bisa menyapa tanpa beban dan langsung menyentuh hati… itu anak kecil.
Aku senyum, “Om nggak punya uang receh, Dik.”
Dia mikir bentar. Lalu jawab:
“Om, kalau sedih… jangan nangis di jalan ya.”Waduh.
Itu kalimat level sapaan atau nasihat hidup?
Aku pengen peluk tuh bocah.
Tapi aku sadar… aku asing buat dia.
Dan dia asing buatku.
Tapi di antara keasingan itu, dia kasih sesuatu yang bikin aku ngerasa manusia lagi.
Aku tumbuh di lingkungan yang percaya pada pamali.
Dan salah satu pamali yang paling sering diulang oleh nenekku adalah:
“Kalau kamu disapa dari arah yang nggak jelas, jangan langsung jawab.”Suara pelan.
Aku jawab, “Iya, bentar.”
Pas nengok, kosong.
Sejak itu, aku belajar satu prinsip hidup penting:
Tengok dulu, baru jawab.
Dari semua kejadian itu, aku sadar satu hal:
Disapa itu seperti dikasih cermin kecil, untuk liat reaksi kita sendiri.
Apakah kita terbuka?
Apakah kita waspada?
Atau… apakah kita terlalu capek sampai nggak punya tenaga buat menyapa balik?
Dan mungkin, dari cara kita menyikapi sapaan asing itu… kita bisa lihat, siapa kita sebenarnya.
Kadang aku masih duduk sendiri di halte, di angkot, atau di bangku taman.
Dan kadang masih ada orang asing yang menyapa.
Entah itu:
“Mas, ini duduknya sendiri aja?”
“Udah makan belum?”
“Mukanya kayak orang yang lagi mikir keras.”
Dan aku akan senyum. Pelan.
Karena sekarang aku tahu…
Disapa orang asing itu seperti pesan nyasar.
Bisa jadi salah sambung.
Bisa jadi jodoh.
Bisa juga cuma lewat sesaat… tapi meninggalkan kesan yang nggak ilang seumur hidup.

Komentar
Posting Komentar