Langsung ke konten utama

Disapa Orang Asing, Dibikin Merinding dan Merenung Sekaligus

 


Sapaan dari orang asing itu seperti pesan nyasar—kadang bikin takut, kadang bikin hangat, tapi selalu meninggalkan jejak.


Aku percaya, setiap orang pasti pernah ngalamin momen ini: lagi jalan sendiri, duduk sendiri, atau sekadar nunggu bus sendirian… tiba-tiba ada orang asing nyapa.

Sapaan itu bisa jadi semanis permen karet gratis, bisa juga seseram panggilan tak dikenal tengah malam.

Dan yang bikin lucu: efek dari sapaan itu nggak pernah sederhana.
Kadang bikin senyum, kadang bikin siaga, kadang juga bikin kita merenung semalaman sambil nanya: “Tadi itu… maksudnya apa ya?”

Aku sendiri pernah beberapa kali disapa orang nggak dikenal.
Dan jujur aja, rasanya kayak lagi buka kulkas terus nemu kue yang kamu nggak tahu dari mana asalnya.
Antara senang… dan curiga.

Momen yang paling kuingat terjadi waktu aku lagi lembur di kantor.
Pulang malam.
Nggak ada ojek.
Nggak ada taksi.
Jalan kaki ke halte, sambil mikir, “Besok resign nggak ya?”

Sampai di halte, suasananya sepi.
Angin bertiup pelan.
Lampu jalan kedip-kedip, kayak lagi ngambek.

Aku duduk.
Liat jam.

Tiba-tiba…

Ada bapak-bapak berdiri di depanku. Senyum lebar. Bajunya batik, celananya longgar, dan wajahnya kayak... ya kayak orang baik.

Dia lihat aku lama. Lalu dia bilang:

“Kamu pasti bukan dari dunia ini.”

Lah?

Langsung otakku muter cepat.

Antara dia paranormal… atau tokoh pembuka cerita urban legend.

Aku respon pelan, “Maaf, Pak?”

Dia cuma senyum lagi, lalu duduk di ujung bangku.

Nggak ngomong lagi.

Cuma duduk.

Setenang pohon beringin habis disiram kembang tujuh rupa.


Tapi jangan salah, nggak semua sapaan asing itu serem.
Kadang justru bikin haru.

Contohnya: bapak penjual koran di perempatan.
Waktu itu aku lagi nunggu lampu merah, dia nyamperin sambil ngelus janggutnya.

“Udah lama nunggu, Dek?”

Aku jawab, “Nunggu hidup ini berubah, Pak.”

Kami ketawa bareng.
Dia kasih satu koran, gratis.

Katanya, “Siapa tahu di sini ada berita baik.”

Aku pegang koran itu seharian.

Nggak aku baca.

Tapi aku lipat rapi, karena aku tahu… itu bukan sekadar kertas, tapi bentuk perhatian kecil dari seseorang yang bahkan nggak tahu namaku.


Pernah juga aku disapa ibu-ibu di angkot.
Wajahnya ramah, rambut disanggul, bau minyak kayunya menenangkan.

Dia nunjuk aku:

“Mas, itu resleting tasnya kebuka, loh.”

Aku panik. Cek tas. Bener.

Aku bilang, “Wah, makasih ya, Bu.”

Dia senyum, lalu lanjut ngunyah permen jahe.
Sesimpel itu.

Tapi sapaan kayak gini yang bikin aku percaya,
kebaikan itu nggak harus mewah.
Kadang cukup dengan mata yang awas dan niat untuk mengingatkan.


Ada juga momen yang bikin aku ingin menghilang dari permukaan bumi.

Contohnya waktu di trotoar, seorang bapak menghampiri aku dan langsung bilang:

“Eh, kamu pasti temen SMP saya! Waktu itu ikut ekstrakurikuler marawis, kan?”

Aku yang bahkan nggak tahu cara megang rebana, cuma bisa kaku.

“Maaf, Pak. Mungkin salah orang.”

Dia masih yakin.

“Serius lho. Kamu mirip banget sama Ucup!”

Dan masalahnya… aku juga pernah punya panggilan Ucup waktu kecil.

Makin bingung kan?

Tapi akhirnya aku kabur pelan-pelan sambil senyum kaku.
Dan sejak hari itu, aku mulai pakai masker lebih rajin di ruang publik.


Jangan lupakan jenis sapaan yang satu ini:

“Mas, saya suka auranya. Pernah kepikiran buka usaha sendiri?”

Lalu disusul dengan ajakan ngopi, diskusi bisnis, dan menjual mimpi yang… rasanya terlalu bagus untuk jadi nyata.

Sapaan model begini bikin aku siaga.
Karena awalnya sok kenal, lama-lama ngajak beli paket produk harga promosi.

Tapi aku ngerti.
Mereka juga lagi cari penghidupan.

Cuma… ya, cara menyapanya itu loh.

Salah waktu, salah tempat, dan sering bikin trauma sosial.


Kalau ada yang bisa menyapa tanpa beban dan langsung menyentuh hati… itu anak kecil.

Pernah aku lagi berdiri depan minimarket, nunggu jemputan.
Datang anak kecil, rambut acak-acakan, baju sedikit belepotan permen karet, dia lihat aku lama, lalu bilang:

“Om, mau beli balon nggak?”

Aku senyum, “Om nggak punya uang receh, Dik.”

Dia mikir bentar. Lalu jawab:

“Om, kalau sedih… jangan nangis di jalan ya.”

Waduh.

Itu kalimat level sapaan atau nasihat hidup?

Aku pengen peluk tuh bocah.

Tapi aku sadar… aku asing buat dia.

Dan dia asing buatku.

Tapi di antara keasingan itu, dia kasih sesuatu yang bikin aku ngerasa manusia lagi.


Aku tumbuh di lingkungan yang percaya pada pamali.

Dan salah satu pamali yang paling sering diulang oleh nenekku adalah:

“Kalau kamu disapa dari arah yang nggak jelas, jangan langsung jawab.”

Pernah waktu kecil, aku main ke kebun belakang rumah.
Ada suara manggil dari balik pohon pisang.

“Ra… ke sini, Ra…”

Suara pelan.

Aku jawab, “Iya, bentar.”

Pas nengok, kosong.

Pohon doang.
Angin doang.
Tapi merindingnya… sampai dua hari dua malam.

Sejak itu, aku belajar satu prinsip hidup penting:

Tengok dulu, baru jawab.

Sama seperti dalam hidup:
Jangan semua hal langsung disambut.
Kadang kita perlu lihat arah dan niatnya.


Dari semua kejadian itu, aku sadar satu hal:

Disapa itu seperti dikasih cermin kecil, untuk liat reaksi kita sendiri.

Apakah kita terbuka?

Apakah kita waspada?

Atau… apakah kita terlalu capek sampai nggak punya tenaga buat menyapa balik?

Dan mungkin, dari cara kita menyikapi sapaan asing itu… kita bisa lihat, siapa kita sebenarnya.

Karena interaksi itu bukan soal berapa banyak teman,
tapi soal berapa kali kita bisa tetap jadi manusia, meski sedang asing dan sendirian.


Kadang aku masih duduk sendiri di halte, di angkot, atau di bangku taman.

Dan kadang masih ada orang asing yang menyapa.

Entah itu:




“Mas, ini duduknya sendiri aja?”


“Udah makan belum?”


“Mukanya kayak orang yang lagi mikir keras.”

Dan aku akan senyum. Pelan.

Karena sekarang aku tahu…

Disapa orang asing itu seperti pesan nyasar.

Bisa jadi salah sambung.

Bisa jadi jodoh.

Bisa juga cuma lewat sesaat… tapi meninggalkan kesan yang nggak ilang seumur hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...