Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Pisang Goreng, Teh Hangat, dan Rumah yang Sudah Lupa Waktu

  Kadang, kita nggak sadar sedang duduk di tempat yang seharusnya sudah lama ditinggalkan. Aku pernah ngalamin kejadian aneh, yang sampai sekarang masih bikin aku mikir: Kadang, yang bikin kita merinding bukan karena kita lihat setan. Tapi karena kita sadar, kita pernah duduk manis di ruang tamu rumah yang seharusnya udah nggak ada. Ini cerita waktu aku dan temanku, Jamal naik motor dari Bandung ke Jakarta. Perjalanan yang awalnya cuma rencana santai, berujung jadi pengalaman yang bikin aku mikir, “Ini bukan film horor, kan?” Tapi sayangnya, ini beneran kejadian. Mendung, Hujan, dan Ide Bodoh untuk Ngegas Malam-Malam Ceritanya, waktu itu matahari udah mau terbenam tapi Jamal masih bersikeras mau tetap ke Jakarta hari itu juga  padahal langit udah mendung dari jam tiga.  Jam lima, hujan mulai turun. Jam enam, makin deres. Hujan nyatanya tak menyurutkan keinginan Jamal yang bilang  “Tenang, Nar. Paling juga hujannya hanya sebentar.” Kenyataannya? Hujannya makin deres, ...

Kebodohan yang Tidak Kita Sadari, Tapi Menyusahkan Banyak Orang

  “Kebodohan itu seperti kematian: pemiliknya tidak sadar, tapi orang lain yang harus menanggung.” Ketika Kebodohan Lebih Mematikan daripada Mati Itu Sendiri Aku pernah dengar satu kalimat yang bikin aku mikir panjang: Ketika kamu mati, kamu nggak tahu kamu mati. Yang susah itu orang lain yang harus menerima kenyataan kamu nggak ada. Dan anehnya, kata orang, hal yang sama juga berlaku buat kebodohan. Kebodohan itu kayak kematian yang nggak kerasa buat pelakunya, tapi nyakitin banyak orang di sekitarnya. Bedanya, kalau orang mati itu cuma bikin sedih, orang bodoh itu bisa bikin kesel, malu, bahkan kadang bikin pengen banting kursi. Aku nggak asal ngomong. Aku pernah lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kebodohan ini menyelinap pelan-pelan, kayak kecoa di dapur, lalu tiba-tiba bikin semua orang pengen nangis atau ngamuk. Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala, si pemilik kebodohan ini sering kali nggak sadar. Mereka jalan dengan santai, senyum-senyum, kayak nggak ada masala...

Cinta Satu Dekade: Bima, Perasaan yang Nggak Pernah Diterima, Tapi Juga Nggak Mau Pergi

  “Kadang kita nggak butuh punya dia. Cukup tahu dia ada, itu sudah bikin hati tenang.” Kalau ada satu hal yang lebih awet dari mie instan di laci dapur, itu adalah perasaan Bima ke perempuan yang sudah jelas-jelas nggak mau sama dia. Iya, Bima. Temanku yang dari dulu selalu jadi bahan bercandaan di tongkrongan karena satu hal: cintanya nggak bisa mati. Bahkan, setelah ditolak, dipinggirkan, di-ghosting, dan disaksikan bareng-bareng bahwa perempuan itu jalan sama cowok lain, Bima tetap setia. Kalau cinta Bima itu diibaratkan tanaman, dia kayak pohon jati di hutan: tumbuh kuat, nggak peduli angin badai, dan butuh gergaji gede buat motongnya. Nggak bisa cuma dipatahkan dengan kata “nggak suka.” Cerita ini berawal di malam mendung yang gelap. Bukan gelap romantis kayak di film-film yang ada adegan suami istri ngopi di teras sambil dengerin suara hujan, tapi gelap yang bikin kamu mikir, “Ini mau hujan atau nggak, sih?” Udara dingin, bintang nggak kelihatan, cuma lampu jalan yang seseka...

Mak Erot: Sang Legenda Urban yang Nggak Sengaja Jadi Komedi Remaja

  Semua yang besar pernah kecil. Kadang yang kecil juga malah bikin cerita jadi besar. Kalau kamu tumbuh besar di awal tahun 2000-an, masa-masa di mana ponsel masih kayak batu bata dan internet cuma sebatas mimpi mahal di warnet, ada satu nama yang entah kenapa bisa menyusup sampai ke obrolan anak-anak SMP di pelosok Kalimantan Barat: Mak Erot . Iya, Mak Erot. Nama ini muncul kayak bisikan mistis di antara obrolan bocah-bocah yang baru ngerti apa itu puber . Padahal kita tinggal jauh banget dari Pulau Jawa, tempat Mak Erot konon berpraktik. Tapi anehnya, nama Mak Erot bisa sampai ke telinga kami yang masih sibuk main gundu di halaman sekolah. Dan lebih aneh lagi, nama Mak Erot sering disebut dengan nada serius… campur geli… campur penasaran… kayak ngomongin rahasia besar yang nggak boleh diketahui guru. Aku inget banget waktu itu, sekitar kelas dua SMP. Lagi nongkrong di kantin, makan bakwan dingin yang udah kayak spons cuci piring, temenku yang namanya Iwan nyeletuk, “Eh, kalian t...

Naik Kapal, Miskin Katanya: Sebuah Dialog Aneh di Tengah Laut

  Kadang, yang bikin kita mikir bukan ombak di lautan, tapi omongan aneh dari orang yang duduk di sebelah. Kadang hidup itu penuh kejutan, ya. Kita jalan santai di jalanan, tiba-tiba ada yang nyeletuk, bikin kepala mendadak pengen dipentungin ke tembok. Contoh paling nyata aku alami waktu naik kapal laut dari Jakarta ke Makassar beberapa tahun lalu. Perjalanan panjang yang niatnya mau hemat, malah jadi pengalaman yang bikin aku mikir: “Ini gue beneran miskin, atau orang ini aja yang mikirnya sempit?” Jadi begini, ceritanya berawal dari aku yang rindu naik kapal laut. Bukan karena nggak ada ongkos buat beli tiket pesawat tapi pengen ngerasain sensasi laut, liat ombak, bau garam yang kadang bikin rambut jadi lepek tapi tetap romantis kalau dilihat dari kejauhan. Selain itu, naik kapal juga kayak nostalgia, inget zaman dulu sebelum tiket pesawat murah dan gampang dipesan lewat aplikasi. Dulu, orang naik kapal itu biasa aja, nggak ada yang bilang “miskin” segala. Sekarang? Naik kapal m...

Perempuan di Pinggir Jalan dan Mobil yang Sering Menyala Sendiri

  “Kadang, kita tak pernah benar-benar sendiri di jalan. Ada yang ikut tanpa kita tahu, dan ada yang pergi tanpa pernah benar-benar pergi.” Lima tahun lalu, aku mengalami malam yang entah harus kukategorikan sebagai pengalaman mistis, atau hanya kejadian aneh yang kebetulan. Yang jelas, setiap aku ingat malam itu, bulu kudukku masih suka berdiri. Dan aku tidak bercanda. Waktu itu sekitar jam delapan malam, aku lagi rebahan di kamar, nonton tivi sambil ngemil kacang rebus. Lalu masuk pesan singkat dari teman lama, sebut saja namanya Rudi. Pesannya singkat: “Nar, temenin gue ke Sukabumi, bisa nggak? Keluarga ada yang meninggal. Gue butuh temen biar nggak ngantuk di jalan.” Aku baca, mikir sebentar, terus jawab: “Bisa. Kapan berangkat?” Rudi balas cepat: “Sekarang.” Karena dia teman lama yang sering bantu aku juga, aku nggak mikir panjang. Aku ganti baju, cuci muka, dan cabut dari rumah. Jam sembilan kurang, Rudi udah nongkrong di depan rumahku, bawa mobil Avanza warna hitam. Awaln...

Bubur Itu Memang Seharusnya Diaduk: Sebuah Pembelaan untuk Kaum yang Waras

  “Bubur bukan sekadar makanan, dia adalah pelajaran kecil tentang hidup: rasa baru akan lengkap kalau semua bahan bersatu, bukan terpisah-pisah hanya demi pamer.” Ada satu perdebatan kuno di negeri ini yang belum pernah tuntas sampai sekarang. Bahkan mungkin, perdebatan ini lebih panas dari obrolan politik, lebih keras dari debat calon presiden, dan lebih melelahkan dari diskusi soal siapa yang harus bayar saat nongkrong. Perdebatan itu adalah: “Bubur diaduk atau tidak diaduk?” Sebagai warga negara yang baik, yang setiap pagi sering ditemani semangkuk bubur hangat, aku merasa terpanggil untuk mengakhiri pertikaian ini dengan satu kesimpulan yang tegas dan jelas: Bubur itu seharusnya diaduk. Titik. Dan buat kamu yang masih keras kepala bilang bubur nggak boleh diaduk, aku sarankan untuk segera merenung, introspeksi, dan kalau bisa… pindah aliran. Karena kalau kamu pikir-pikir baik-baik, pilihan untuk tidak mengaduk bubur itu… bukan hanya keliru, tapi juga mengkhianati prinsip das...