Langsung ke konten utama

Naik Kapal, Miskin Katanya: Sebuah Dialog Aneh di Tengah Laut

 


Kadang, yang bikin kita mikir bukan ombak di lautan, tapi omongan aneh dari orang yang duduk di sebelah.


Kadang hidup itu penuh kejutan, ya. Kita jalan santai di jalanan, tiba-tiba ada yang nyeletuk, bikin kepala mendadak pengen dipentungin ke tembok. Contoh paling nyata aku alami waktu naik kapal laut dari Jakarta ke Makassar beberapa tahun lalu. Perjalanan panjang yang niatnya mau hemat, malah jadi pengalaman yang bikin aku mikir: “Ini gue beneran miskin, atau orang ini aja yang mikirnya sempit?”

Jadi begini, ceritanya berawal dari aku yang rindu naik kapal laut. Bukan karena nggak ada ongkos buat beli tiket pesawat tapi pengen ngerasain sensasi laut, liat ombak, bau garam yang kadang bikin rambut jadi lepek tapi tetap romantis kalau dilihat dari kejauhan. Selain itu, naik kapal juga kayak nostalgia, inget zaman dulu sebelum tiket pesawat murah dan gampang dipesan lewat aplikasi. Dulu, orang naik kapal itu biasa aja, nggak ada yang bilang “miskin” segala. Sekarang? Naik kapal malah dianggap kayak pilihan terakhir, kayak main kartu uno tapi kebagian warna jelek.

Jadi, aku naik kapal dari Tanjung Priok, Jakarta, menuju Makassar. Naik KM. Apa ya, waktu itu? Lupa namanya, pokoknya kapal besar, gede banget, kayak mall terapung, walau di dalamnya tetep aja sempit dan sumpek kalau pas jam makan. Aku bawa ransel, isinya baju ganti, kopi sachet, sama buku catatan yang udah lecek-lecek karena sering ditaruh sembarangan. Aku juga bawa bekal mie instan, karena kata orang-orang, makanan di kapal itu… yah, gimana ya, bukan yang paling menggugah selera dan mahal.

Begitu masuk kapal, suasananya rame banget. Ada yang ngobrol, ada yang tiduran di bangku panjang, ada juga yang bawa tikar sendiri kayak mau piknik keluarga. Aku cari tempat duduk di dek tengah, duduk di pojokan sambil nyeruput kopi dari termos kecil yang kubawa. Dari sinilah petualangan dimulai.

Karena di kapal itu, entah kenapa, orang jadi gampang banget ngobrol sama orang asing. Mungkin karena kita sama-sama terjebak di ruang yang sama, dengan pemandangan laut yang itu-itu aja, jadi ngobrol sama orang jadi hiburan. Nah, pas aku lagi duduk santai, ada bapak-bapak duduk di sebelahku. Wajahnya biasa aja, rambutnya agak jarang di depan, pakai baju kaos oblong yang udah melar, celana pendek bolong di ujung. Dia bawa kresek hitam gede yang entah isinya apa.

Dia nengok ke aku, senyum, terus nanya,
“Mas, kok naik kapal? Miskin, ya?”

Aku langsung diem.
Kepala ini langsung lemot kayak komputer jadul yang dipaksa buka lima aplikasi sekaligus.
Aku nggak ngerti ini maksudnya ngeledek, bercanda, atau emang dia polos banget sampe bisa nanya gitu tanpa mikir.
Dan menariknya adalah: Dia kan juga naik kapal yang sama.
Lho, kalau naik kapal artinya miskin, terus dia apa? Teman sepenanggungan? Satu kasta? Atau dia naik kapal sebagai bos rahasia yang nyamar jadi rakyat jelata biar bisa evaluasi sistem transportasi laut?

Aku cuma senyum kecil, sambil bilang,
“Wah, nggak juga, Pak. Lagi pengen aja naik kapal. Mau ngerasain suasana laut.”
Dia manggut-manggut, tapi matanya kayak masih pengen nanya lebih banyak.
Aku curiga, jangan-jangan dia ngira aku ini anak orang kaya yang lagi uji nyali, kayak di sinetron-sinetron.
Atau mungkin dia nunggu aku bilang,
“Iya, Pak, ini sebenernya misi rahasia dari negara. Saya nyamar.”
Padahal kenyataannya, aku cuma Nara Senandika, manusia biasa yang pengen hemat ongkos dan pengen ngerasain vibe pelayaran panjang kayak zaman dulu.

Aku liatin sekeliling, dan makin mikir: Kenapa sih orang bisa sampe mikir naik kapal itu tanda miskin?
Apa karena tiket kapal lebih murah dibanding pesawat?
Apa karena di kapal orang lebih keliatan ‘berjuang’?
Atau cuma karena stigma aja, kayak orang yang naik motor bebek dibilang nggak sukses, padahal yang naik motor sport juga belum tentu bahagia.

Di kapal, semua orang itu sama.
Ada yang duduk di lantai sambil makan nasi bungkus, ada yang main kartu sambil ngakak-ngakak, ada yang tiduran sambil kipas-kipas karena kipas angin di langit-langit cuma muter pelan kayak niat hidup yang udah luntur.
Semua sama-sama manusia yang lagi nyari jalan buat sampe ke tujuan.
Nggak ada yang bawa papan nama,
“Halo, saya orang kaya, cuma lagi pengen merakyat.”
atau
“Halo, saya orang miskin, terpaksa naik kapal karena nggak ada pilihan lain.”
Nggak ada.

Tapi anehnya, selalu ada orang yang merasa dia lebih tinggi derajatnya, padahal dia juga lagi duduk di dek yang sama, makan menu yang sama, bahkan sama-sama cium bau toilet yang kadang bikin mual.
Dan itu bikin aku mikir: Mungkin manusia itu butuh pembanding biar ngerasa lebih baik.
Kalau dia lagi di bawah, dia cari orang yang lebih di bawah, biar bisa bilang,
“Lah, aku nggak sejelek itu kok.”
Padahal, ya sama aja.

Perjalanan kapal itu panjang banget, sekitar dua hari dua malam.
Selama di kapal, aku sempat ngobrol sama berbagai orang. Ada ibu-ibu yang bawa anaknya sambil cerita soal suaminya yang kerja di luar negeri. Ada pemuda yang lagi cari kerja di Makassar, katanya dia pengen coba peruntungan di bidang kuliner. Ada juga bapak-bapak tukang ojek yang mudik ke kampung halamannya, sambil cerita panjang lebar tentang motor tuanya yang katanya udah kayak pacar kedua.

Semua cerita itu bikin aku sadar: orang naik kapal bukan cuma karena “nggak punya uang”. Banyak yang naik kapal karena pengen bawa barang banyak, karena pengen menikmati perjalanan, karena pengen hemat, atau karena ya... emang suka naik kapal aja.
Nggak semua orang harus terjebak di standar: naik kapal = miskin, naik pesawat = kaya, naik mobil = sedang-sedang saja.
Hidup nggak sehitam putih itu.

Kadang, orang naik pesawat malah ngutang, biar bisa pamer di sosial media.
Kadang, orang naik kapal justru lagi nabung buat beli rumah.
Kadang, orang naik motor tua malah punya tanah sawah satu hektar di kampung.
Kadang, yang keliatan sederhana itu justru yang paling bahagia, karena dia nggak repot mikirin citra.
Dan kadang, yang paling sibuk ngomentarin orang lain, justru dia yang paling kosong hidupnya.

Jadi, waktu bapak tadi nanya, “Mas, kok naik kapal? Miskin, ya?”
Aku pengen jawab,
“Pak, kita semua naik kapal yang sama. Kalau saya miskin, berarti kita berdua sama-sama miskin. Dan kalau semua penumpang di kapal ini dianggap miskin, berarti kita semua miskin berjamaah. Enak, kan? Nggak perlu ngiri sama siapa-siapa.”
Tapi ya sudahlah.
Aku cuma senyum tipis, nyeruput kopi yang mulai dingin, sambil mikir:
“Pak, mungkin hidup kita sama-sama nggak kaya, tapi minimal kita masih bisa ngetawain pertanyaan yang aneh.”

Dan di situlah aku sadar: kadang, yang bikin perjalanan panjang itu jadi berkesan bukan cuma pemandangan laut, bukan cuma angin yang nyelonong masuk jendela kabin, tapi momen-momen kecil yang bikin kita mikir,
“Lah, kok bisa ya ada orang yang ngomong gitu?”
Itu yang bikin hidup jadi penuh cerita.
Dan cerita-cerita kayak gini, meskipun sepele, justru yang bikin kita senyum-senyum sendiri di kemudian hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...