Langsung ke konten utama

Perempuan di Pinggir Jalan dan Mobil yang Sering Menyala Sendiri

 


“Kadang, kita tak pernah benar-benar sendiri di jalan. Ada yang ikut tanpa kita tahu, dan ada yang pergi tanpa pernah benar-benar pergi.”


Lima tahun lalu, aku mengalami malam yang entah harus kukategorikan sebagai pengalaman mistis, atau hanya kejadian aneh yang kebetulan.
Yang jelas, setiap aku ingat malam itu, bulu kudukku masih suka berdiri.
Dan aku tidak bercanda.

Waktu itu sekitar jam delapan malam, aku lagi rebahan di kamar, nonton tivi sambil ngemil kacang rebus.
Lalu masuk pesan singkat dari teman lama, sebut saja namanya Rudi.
Pesannya singkat:
“Nar, temenin gue ke Sukabumi, bisa nggak? Keluarga ada yang meninggal. Gue butuh temen biar nggak ngantuk di jalan.”

Aku baca, mikir sebentar, terus jawab:
“Bisa. Kapan berangkat?”

Rudi balas cepat:
“Sekarang.”

Karena dia teman lama yang sering bantu aku juga, aku nggak mikir panjang.
Aku ganti baju, cuci muka, dan cabut dari rumah.
Jam sembilan kurang, Rudi udah nongkrong di depan rumahku, bawa mobil Avanza warna hitam.

Awalnya perjalanan lancar.
Kami ngobrol macam-macam, dari kerjaan, mantan pacar, sampai gosip selebriti yang nggak penting.
Rudi bilang dia minta temenin supaya ada yang bisa gantiin nyetir kalau dia capek.
Karena jarak Jakarta-Sukabumi kan lumayan juga kalau malam-malam.
Apalagi dia nggak biasa nyetir jauh.

Tapi suasana berubah waktu masuk daerah pinggir Sukabumi yang jalannya mulai sepi.
Lampu jalan jarang, rumah-rumah juga makin jarang.
Udara dingin mulai terasa masuk dari celah jendela.
Dan aku baru sadar, jam di dashboard udah nunjukin hampir tengah malam.

Waktu itu kami lagi nyetir pelan karena jalan agak rusak, dan tiba-tiba aku lihat sesuatu.
Ada perempuan berdiri di pinggir jalan.

Dia nggak bawa tas, nggak ada kendaraan di sekitar, dan dia cuma berdiri diam, dengan rambut panjang agak berantakan, baju putih lusuh, dan wajah yang samar-samar kelihatan pucat di bawah cahaya lampu depan mobil.
Kakinya telanjang.

Rudi yang nyetir juga lihat.
Dia spontan bilang,
“Nar, itu orang beneran kan?”

Aku juga nggak yakin.
Tapi aku jawab,
“Iya kali… kasihan juga, cewek sendirian di jalan kayak gini.”

Mobil pelan-pelan berhenti di depannya.
Rudi buka kaca, tanya pelan,
“Mau kemana, Mbak?”

Si perempuan jawab dengan suara pelan banget, hampir kayak bisikan,
“Ikut… ikut aja, Bang.”

Rudi lihat aku, aku lihat Rudi.
Kami sama-sama ragu.
Tapi karena nggak enak hati, akhirnya kami buka pintu.
Dia masuk ke bangku belakang, duduk tanpa suara.

Sepanjang perjalanan, dia diem aja.
Mukanya nggak jelas, karena lampu dalam mobil nggak nyala, dan Rudi juga nggak berani nyalain.
Aku cuma lihat bayangan samar dia duduk, tangannya dilipat di pangkuan, rambutnya jatuh ke depan, dan tatapannya lurus ke kaca depan.

Sesekali aku nengok ke belakang lewat spion.
Dan jujur, aku nggak nyaman.
Karena ada perasaan aneh yang bikin tengkukku dingin, kayak ada yang bisik-bisik di telinga, padahal nggak ada suara apapun.

Rudi sempat nyeletuk,
“Nar, kok merinding ya… AC-nya nggak terlalu dingin, tapi badan gue dingin banget.”

Aku jawab sambil menelan ludah,
“Sama, Rud. Gue juga…”

Kami terus jalan, sampai akhirnya si perempuan bilang,
“Berhenti di depan… aku turun di sini.”

Padahal itu jalan gelap, nggak ada rumah, nggak ada lampu, cuma ada pohon-pohon di kiri-kanan.

Rudi sempat ragu,
“Mbak, bener mau turun di sini? Ini di mana?”

Tapi si perempuan cuma diem, nggak jawab.
Akhirnya Rudi berhenti, dan dia turun tanpa bilang terima kasih, tanpa noleh, tanpa apa-apa.
Dia jalan pelan ke arah gelap, dan hilang di antara bayangan pohon.

Kami berdua diem.
Hening.
Nggak ada yang ngomong.
Cuma suara mesin mobil yang masih nyala, dan suara jangkrik dari luar.

Akhirnya Rudi bilang,
“Nar… tadi ada yang aneh nggak sih?”

Aku jawab jujur,
“Ada. Banget.”

Kami coba mikir logis, tapi makin dipikirin, makin nggak masuk akal.
Cewek sendirian di tengah jalan gelap, tanpa kendaraan, tanpa lampu, jalan kaki, terus turun di jalanan sepi?
Siapa yang masuk akal mau begitu?

Kami lanjut perjalanan, tapi suasananya makin nggak enak.
Rudi bilang dia merasa ada yang duduk di belakang, padahal kami udah jelas-jelas cuma berdua.
Aku juga beberapa kali dengar suara kecil di belakang, kayak orang bisik-bisik.
Tapi pas nengok… kosong.

Sampai di rumah keluarga Rudi, kami berusaha nggak ngomong apa-apa.
Nggak mau bikin suasana makin tegang.
Kami ikut takziah sebentar, lalu istirahat.

Tapi cerita nggak selesai sampai di situ.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, Rudi cerita lewat telepon.
“Nar, lo nggak akan percaya. Mobil gue suka nyala sendiri sekarang.”

Aku bingung.
“Maksud lo nyala sendiri?”

Dia jawab,
“Iya, jadi mobil gue itu, kadang malam-malam, lampunya nyala sendiri. Mesin juga kadang tiba-tiba hidup, padahal kunci nggak ada di dalam. Gue udah cek ke bengkel, nggak ada masalah di kelistrikan. Montirnya juga bingung.”

Aku diem.
Nggak tahu harus jawab apa.

Akhirnya, beberapa bulan kemudian, Rudi mutusin untuk jual mobil itu.
Katanya dia udah nggak tahan, sering mimpi buruk juga.
Dan kabarnya, yang beli mobil itu adalah seorang pengusaha kecil dari Bogor.
Sampai sekarang, aku nggak tahu kabar mobil itu gimana.
Apakah pemilik barunya juga ngalamin hal yang sama?
Atau mungkin makhluk yang dulu minta tumpangan itu sudah pindah ke rumah barunya?

Kadang aku mikir, malam itu mungkin jadi pengingat bahwa dunia ini nggak cuma diisi manusia.
Ada yang lain.
Ada yang nggak kelihatan, tapi ada.

Dan kalau kamu lagi nyetir malam-malam, terus ada perempuan sendirian di pinggir jalan,
jangan asal kasih tumpangan.
Karena bisa jadi… yang naik bukan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...