“Jika kau duduk di depan cermin pukul dua pagi, pintu dunia lain bisa terbuka. Tapi siapa sangka... yang keluar justru ingin tinggal.”
Pamali, Setan, dan Seorang Anak yang Terlalu Penasaran
Ada sebuah kepercayaan lama yang bilang begini:
Kalau kamu duduk di depan cermin pukul dua pagi, pintu alam gaib akan terbuka. Mata batinmu juga ikut melek, dan roh-roh akan bermunculan dari balik bayangan.
Tapi… benarkah semua itu?
Hai, aku Nara.
Dan aku pernah jadi orang paling logis dan paling sok tahu dalam urusan hal-hal mistis.
Aku bukan cuma skeptis. Aku bahkan pernah ngomong, “Kalau setan itu beneran ada, kenapa dia nggak bikin seminar, buka jasa konsultasi, atau paling nggak, daftar jadi seleb?”
Padahal ya, ironisnya, aku tumbuh di lingkungan yang penuh dengan pantangan dan pamali.
Aku besar di sebuah kota kecil di Kalimantan Barat, tempat di mana petuah nenek bisa lebih dipercaya daripada hasil uji laboratorium.
Pamali itu ada di mana-mana, dan yang lebih lucu: makin beragam budaya yang tinggal di sana, makin banyak juga versi pamalinya.
Contohnya saja: kampunan.
Ini semacam pantangan menolak suguhan makanan atau minuman dari orang lain.
Kalau kamu nolak, bisa celaka.
Kalau suguhannya kopi, konon bisa… meninggal.
Iya, meninggal cuma gara-gara nolak kopi.
Karena katanya, kopi adalah minuman kesukaan makhluk gaib yang menjaga kita.
Kalau kita menolak, mereka bisa tersinggung, dan mundur dari tugasnya sebagai satpam pribadi.
Lalu kita? Bebas diserang makhluk lain.
Solusinya?
Ada dua: jama dan pusa.
Jama itu cukup mencicipi sebutir nasi atau sesendok makanan.
Pusa itu semacam sandiwara kecil. Kamu sentuh bibirmu, tenggorokanmu, lalu bilang "pusa" seolah memberi makan roh penjaga.
Iya, kamu pura-pura nyuapin makhluk tak kasat mata.
Mungkin terdengar aneh, tapi waktu kecil, aku pernah pusa ke gorengan.
Dan aku yakin… itu salah satu keputusan hidup terbaik. Karena gorengannya keras kayak batu bata.
Bahkan makhluk gaib pun mungkin bilang, “Terima kasih, saya lewat saja.”
Selain kampunan, ada juga pamali sehari-hari yang dulu sering didengungkan:
-
Duduk di pintu = susah jodoh
-
Goyang kaki saat makan = jadi miskin
-
Mengintip orang mandi = bintitan
Yang terakhir itu cukup populer. Dan di kampungku, ada solusinya juga:
Pelototin garam.
Katanya kalau mata bengkak atau bintitan, tatap saja segenggam garam.
Logikanya nggak pernah jelas. Tapi…
aku pernah nyoba waktu mataku bengkak karena digigit serangga.
Biasanya butuh dua hari buat sembuh. Tapi waktu itu, aku coba tatap garam… dan cuma setengah jam kemudian, bengkaknya kempes.
Aku sempat bingung.
Aku tatap garam. Garam tatap balik.
Kami saling tatap dalam keheningan.
Dan aku sembuh.
Sejak itu, aku mulai menatap garam dengan perasaan hormat.
Setidaknya, lebih hormat daripada tatapanku ke tukang kredit yang suka ngetok pintu jam tujuh pagi.
Nah, dari sekian banyak pamali, setengahnya berkaitan dengan makhluk halus.
Dan salah satu yang paling populer adalah pamali tentang cermin jam dua pagi.
Mereka bilang, kalau kamu duduk di depan cermin pada pukul dua pagi, roh akan muncul.
Cerminnya berubah jadi gerbang. Kamu jadi bisa melihat… sesuatu.
Tergantung kepekaanmu.
Waktu aku SMA, aku anggap ini semua lelucon.
Omong kosong.
Mitos doang.
Dan mungkin karena kebanyakan baca komik, aku merasa sudah terlalu pintar untuk takut pada cerita rakyat.
Aku bilang ke temanku, Bima, soal rencana gilaku:
Aku mau duduk di depan cermin, jam dua pagi. Sendirian.
Bima yang percaya penuh pada dunia gaib langsung panik.
Dia bahkan sempat berdoa buatku, seperti melepas orang naik haji.
“Aku yakin kamu kerasukan bukan karena setan. Tapi karena keras kepala,” katanya.
Aku nggak peduli.
Bagiku, ini eksperimen.
Dan sebelum jam dua tiba, aku memutuskan buat tambah daftar pelanggaran pamali, biar sekalian.
Malam itu, jam sebelas, aku bosan menunggu.
Waktu itu belum ada ponsel pintar, belum ada acara tengah malam yang seru di televisi, dan modem dial-up masih suka ngik-ngik-ngik kayak kereta api mogok.
Jadi aku keluar rumah. Jalan-jalan ke taman dekat rumah.
Di taman yang sepi dan gelap itu, aku duduk.
Dan… keluarkan gunting kuku.
Pamali lagi.
Katanya, memotong kuku malam hari itu berbahaya.
Kalau buang kukunya sembarangan, bisa dimakan setan.
Kalau setannya suka, dia bisa masuk ke badanmu.
Tapi waktu itu, kuku tangan sudah pendek.
Jadi aku potong kuku kaki.
Sambil bersiul—yang katanya juga pamali karena bisa mengundang setan.
Kukunya aku buang di sekitar bangku.
Dan... tidak ada yang terjadi.
Setan nggak datang.
Yang datang malah nyamuk.
Aku sempat berpikir,
“Kalau setan itu bisa milih, mungkin dia juga males nyamperin kuku bau kaki.”
Baru saja aku menyimpulkan eksperimen ini gagal, tiba-tiba ada bayangan muncul.
Bukan hantu.
Tapi… bencong.
Iya. Tengah malam. Di taman kosong.
Dan yang datang malah bencong dengan baju menyala.
Aku nggak tahu kenapa, tapi waktu itu aku lebih takut sama bencong daripada pocong.
Mungkin karena dia senyum terlalu lebar.
Mungkin juga karena dia duduk terlalu dekat.
Pokoknya, aku langsung pulang.
Lari.
Napas ngos-ngosan.
Di jalan pulang, aku makin niat.
Setiap pohon aku tunjuk satu per satu—pamali lagi, katanya bisa bikin penghuninya ikut pulang.
Aku tunjuk bulan juga—katanya nanti jariku bisa putus atau telingaku dipotong.
Aku tunjuk pintu rumah tetangga—nggak ada alasan mistis, cuma iseng.
Begitu sampai rumah, jam menunjukkan setengah dua.
Aku masuk dapur.
Ambil nasi.
Tancapkan sumpit di tengahnya—pamali berat katanya, karena artinya kamu mengundang setan makan bareng.
Lalu aku makan.
Sendok pertama.
Sendok kedua.
Tidak terjadi apa-apa.
Aku minum air putih.
Masih tidak terjadi apa-apa.
Lalu, akhirnya…
Jam dua pagi tiba.
Aku duduk di depan cermin.
Lampu kamar ku-matikan.
Hanya cahaya remang dari luar yang menyinari.
Aku menatap.
Dan menatap.
Pantulan wajahku juga menatap.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada bayangan lewat.
Tidak ada wajah asing di balik cermin.
Satu-satunya hal menyeramkan adalah wajahku sendiri.
Wajah kurang tidur, dengan mata merah, rambut awut-awutan, dan bekas jerawat di pipi kiri.
Aku mendadak ingin mandi dan ganti baju.
Tapi aku tetap duduk.
Karena eksperimen belum selesai.
Aku menatap cermin lagi.
Dan merasa...
sedikit kecewa.
Indigo, Pertarungan Gaib, dan Ciuman yang Tak Pernah Aku Minta
Pagi itu, setelah malam yang penuh tatapan kosong di depan cermin, aku tertidur dengan wajah nempel di bantal.
Masih dalam keadaan kecewa.
Tidak ada setan. Tidak ada suara aneh. Tidak ada pintu gaib yang terbuka.
Hanya kantuk.
Dan sedikit penyesalan karena semalam aku terlalu serius menatap wajah sendiri, sampai sekarang pun rasanya aku agak trauma bercermin.
Sekitar jam sembilan pagi, aku terbangun karena dering telepon rumah.
Itu dari Bima.
Suara paniknya langsung menyapa telinga.
“Nar, lo nggak kenapa-kenapa kan?”
“Aku baik-baik aja. Kenapa?”
“Gue ke rumah lo sekarang. Gue bawa temen gue. Dia indigo.”
Aku mendesah.
Dalam hati, aku mikir,
“Indigo? Ini pagi-pagi kok udah kayak acara uji nyali…”
Tapi aku nggak nolak.
Mungkin memang menarik, mendengar ‘penilaian profesional’ soal eksperimen ngawurku tadi malam.
Sekitar setengah jam kemudian, Bima datang bersama seorang perempuan.
Namanya Yani. Pendiam. Wajahnya pucat. Rambutnya diikat, dan matanya seperti… selalu waspada.
Aku sapa mereka seperti biasa.
Bima masuk duluan, duduk di ruang tamu.
Yani masuk…
…dan lima langkah dari pintu, dia berhenti.
Matanya membelalak.
Napasnya terengah.
Lalu…
Bruk!
Dia pingsan.
Langsung begitu saja, tanpa peringatan.
Aku panik.
Bima lebih panik.
Kami sibuk mencari minyak kayu putih, menyemprot-nyemprotkan sesuatu yang katanya air suci dari gereja, dan mengipas-ngipasi Yani pakai majalah bekas.
Lima menit kemudian, Yani sadar.
Dia langsung duduk.
Tapi wajahnya masih pucat.
“Apa yang kamu lakukan semalam?” tanyanya pelan.
Aku masih bingung, “Loh, emangnya kenapa?”
“Rumahmu… penuh. Penuh banget.”
“Penuh apa?”
“Penuh makhluk. Banyak banget. Seperti habis ada perang.”
Aku mulai merinding.
Dan bukan karena angin dari jendela.
Tapi karena tatapan Yani saat bilang itu…
…bukan tatapan orang yang bercanda.
Yani lanjut menjelaskan.
Katanya, setelah masuk rumahku, dia langsung ‘melihat’ makhluk-makhluk gaib saling bertarung.
Berebut tempat.
Berebut dominasi.
Karena… aku semalam membuka jalur yang seharusnya tidak dibuka.
Gara-gara aku duduk di depan cermin pukul dua pagi.
Gara-gara aku nyanyi sambil potong kuku.
Gara-gara aku tunjuk pohon.
Gara-gara aku tusuk nasi pakai sumpit.
Semua tindakan ‘iseng’ itu, kata Yani, seperti undangan resmi.
Aku ibarat bikin pesta, lalu menyebar undangan ke dua alam sekaligus.
Dan yang datang?
Ya… siapa saja.
Menurut Yani, makhluk-makhluk itu datang berebut posisi untuk ‘tinggal’ di rumahku.
Tapi dari semua yang datang, ada satu yang paling kuat.
Hantu perempuan.
Dia mengalahkan semua makhluk lain.
Dan sekarang… dia yang menguasai rumah.
Bima yang mendengar penjelasan ini langsung pucat.
Sementara aku… masih setengah percaya, setengah ngantuk.
Yani menatapku serius.
“Dia suka sama kamu.”
Aku tertawa.
Salah satu tawa gugup paling palsu yang pernah aku buat.
“Tunggu… maksud kamu, hantu itu... naksir aku?”
Yani mengangguk.
“Dan dia bilang, dia tidak akan pergi sampai kamu… menciumnya.”
Aku menatap Yani dalam diam.
Ingin tertawa. Tapi jujur… leherku kaku.
Tiba-tiba hawa ruangan berubah.
Sejuk. Tapi beda dari angin biasa.
Bukan seperti AC, bukan seperti kipas angin.
Lebih seperti… nafas dingin yang menempel di kulit.
Aku belum sempat berpikir lebih jauh, ketika bibirku terasa…
dingin.
Dingin bukan seperti minum es.
Dingin yang membuatmu berpikir:
“Ini bukan udara. Ini bukan air. Ini bukan benda.”
Ini seperti disentuh sesuatu yang tidak punya tubuh.
Tapi sangat nyata.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Bima makin panik.
Yani menunduk.
Katanya,
“Dia sudah mulai. Dia akan ambil ciuman pertamanya sekarang.”
Aku tersentak.
“Apa maksudmu ‘pertama’?”
“Dia mau tiga kecupan. Baru dia bisa pergi.”
Aku langsung berdiri, mencoba berkeliling rumah.
Tapi ke mana pun aku melangkah, rasa dingin itu tetap mengikutiku.
Seperti kabut. Tapi hanya menempel di sekitar bibir.
Ciuman pertama terasa seperti kabut es.
Ciuman kedua datang saat aku membuka kulkas—dengan dalih mau minum air.
Ciuman ketiga terjadi… saat aku berusaha membaca doa sambil menggenggam buku yang bahkan bukan kitab suci, melainkan majalah horor edisi tahun lalu.
Dan setelah tiga ciuman itu…
rasa dinginnya hilang.
Ruangan kembali normal.
Yani diam.
Bima berkeringat.
Dan aku berdiri mematung.
Tidak tahu harus merasa bangga atau malu.
Ciuman pertamaku…
…bukan dengan pacar.
Bukan dengan gebetan.
Bahkan bukan dengan manusia.
Ciuman pertamaku adalah dengan…
setan.
Yani berkata bahwa makhluk itu sudah pergi.
Untuk sekarang.
Tapi dia juga meninggalkan pesan.
“Aku akan kembali… kalau dia memanggilku lagi.”
Aku tidak tahu siapa ‘dia’.
Aku juga tidak tahu bagaimana cara memanggil.
Tapi satu hal yang pasti:
Aku tidak akan pernah duduk di depan cermin pukul dua pagi lagi.
Dan Sejak Itu...
Aku tidak pernah lagi menantang pamali dengan cara sok berani.
Tapi aku juga tidak jadi penakut.
Aku hanya lebih bijak sekarang.
Kalau ada orang tua bilang, “Jangan duduk di depan cermin jam dua pagi,” aku akan jawab:
“Baik, Bu. Saya akan duduk di depan kompor saja.”
Karena jujur…
sudah cukup satu kali saja aku mencium setan.
Dan dia mencium balik.
Sampai hari ini, aku belum pernah cerita kejadian itu ke banyak orang.
Bukan karena malu.
Tapi karena… orang pasti akan tertawa.
Dan jujur saja, aku pun masih tertawa setiap mengingatnya.
Tapi tiap kali aku melewati cermin malam-malam, aku menatap pantulan wajahku… dan kadang, aku merasa…
ada yang menatap balik.
Mungkin dia.
Mungkin juga hanya bayangan.
Tapi satu hal yang jelas:
cermin bukan lagi benda biasa di hidupku.
Kalau kamu sedang sendiri malam ini, dan tidak sengaja melihat ke cermin…
…jangan senyum-senyum sendiri.
Karena mungkin, ada yang sudah lebih dulu menyukai senyumanmu.
Komentar
Posting Komentar