Langsung ke konten utama

Kenapa Naskahmu Ditolak Penerbit? Mungkin Bukan Salah Naskahnya

 


“Para penerbit lebih menilai karya berdasarkan reputasi penulisnya daripada nilai isinya.”
Multatuli, Max Havelaar (1860)


Penerbit, Follower, dan Nasib Naskah yang Menganggur

Coba deh, bayangin begini.
Kamu sudah capek-capek nulis naskah, riset berbulan-bulan, begadang sampai mata kayak kantong kresek yang dicelupin ke kopi. Pas dikirim ke penerbit? Dibalas… tapi cuma pakai auto-reply. “Terima kasih atas kiriman naskahnya. Kami akan segera meninjau dan memberikan kabar…”

Lalu?
Kabar itu lenyap kayak mantan yang bilang, “Nanti kita ngobrol ya,” tapi ternyata ngobrolnya sama orang lain.

Aku dulu berpikir, penerbit itu seperti rumah jodoh bagi para naskah. Tinggal kirim, dicocokin, terus… jreng! buku nongol di toko-toko. Ternyata? Dunia perbukuan itu keras, Nak. Lebih keras dari bantal kos tipis yang kalau ditinju malah mental ke jidat sendiri.

Jauh sebelum kamu ngerasain pahitnya ditolak penerbit, Multatuli—si empunya Max Havelaar—udah lebih dulu ngamuk soal ini. Tahun 1860, dia nulis, “Para penerbit lebih menilai karya berdasarkan reputasi penulisnya daripada nilai isinya.”

Bayangin ya, ini orang ngomel soal kelakuan penerbit dari jaman penjajahan, dan lucunya… sampai sekarang kelakuannya masih sama. Bahkan mungkin penerbit zaman sekarang udah upgrade: nggak cuma nanya naskah kamu bagus atau nggak, tapi juga, “Follower kamu berapa, Mas?”

Iya, betul. Naskah sekarang bukan cuma butuh ending yang mind-blowing. Tapi juga butuh… fans.

Masuklah kita ke era kapitalisme berjubah media sosial. Dulu, nulis buku itu urusan idealisme, sekarang? Jangan salah, idealisme tetap penting… tapi di tangan yang pegang kalkulator, yang dihitung itu bukan cuma jumlah halaman, tapi berapa banyak yang bakal beli buku ini?

Kalau zaman dulu penerbit cari penulis ke taman-taman baca atau komunitas sastra, sekarang? Mereka nyari ke Wattpad, Instagram, TikTok. Di sana, yang ditanya bukan, “Sudah berapa puisi yang kamu tulis?” tapi, “Udah centang biru belum?”

Pernah denger istilah best seller?
Nah, itu adalah mantra sakti. Semacam password buat buka pintu penerbitan. Sayangnya, kalau kamu belum punya follower segede populasi kecamatan, jangan harap pintu itu kebuka.


Naskah Bagus Bukan Jaminan, yang Penting Laris Manis

Mari kita bicara soal kenyataan yang suka bikin perut mules walau baru makan. Naskah yang kamu anggap sudah kayak mahakarya—dengan alur berliku, tokoh yang hidup, konflik menggetarkan hati—itu… belum tentu dilirik.

Kenapa?
Karena penerbit sekarang bukan lagi sibuk cari naskah yang bikin pembaca mikir dalam. Mereka lebih sibuk mikirin: “Kalau buku ini terbit, yang beli siapa?”

Jangan heran, sekarang naskah yang diburu itu bukan yang tebal-tebal penuh makna, tapi yang sudah duluan punya penonton. Yang diunggah di Wattpad misalnya, sudah dibaca jutaan kali. Belum terbit saja sudah bikin pembaca heboh, bikin status di mana-mana, nulis “Ini tuh gue bangettt!” sambil pakai huruf t berjajar panjang seperti kereta api.

Kenapa penerbit suka sekali dengan penulis semacam itu?
Karena urusan jualan buku itu sama saja seperti jualan gorengan. Enak saja nggak cukup. Kalau nggak ada yang beli, gorengan itu cuma numpuk di etalase, dingin, dan akhirnya dikasih ke ayam.

Nah, buku juga begitu. Sekalipun isinya renyah, gurih, dan bikin pembaca melek kehidupan, kalau nggak laku? Ya, numpuk di gudang. Kalaupun dibanting harganya di pojok obral, tetap saja tak kunjung laku.

Di sisi lain, buku yang katanya “biasa saja” tapi ditulis penulis yang punya penggemar segambreng? Wah, baru pre-order saja sudah habis. Cetakan pertama ludes, cetakan kedua langsung diserbu, penerbit senyum-senyum girang sampai pipinya kram.

Dan kalau sudah begitu, jangan heran kalau naskah dari penulis yang punya banyak penggemar itu bukan cuma dilirik penerbit. Rumah produksi film besar pun langsung pasang badan. Naskah yang tadinya cuma berdebu di media sosial, tahu-tahu sudah nongol di layar lebar, lengkap dengan gala premier dan karpet merah.


Apakah Harus Punya Banyak Pengikut Dulu Baru Boleh Menulis?

Nah, sekarang pertanyaan besarnya:
Apa berarti kita harus sibuk cari pengikut dulu, bikin unggahan tiap hari, lempar cerita receh di media sosial, baru boleh nulis buku?

Kalau jawabannya iya, kasihan dong para penulis jujur yang hidupnya lurus-lurus saja. Yang nulis karena memang suka, bukan karena pengen viral. Bayangkan betapa lelahnya hidup kalau setiap mau nulis harus mikir dulu, “Ini udah cukup ramai belum yang suka buku saya?”

Tenang. Hidup ini masih ada harapan, kok.

Kalau kamu belum punya pengikut banyak, bukan berarti kamu dilarang menulis. Menulis itu bukan perlombaan siapa yang duluan naik panggung. Menulis itu urusan hati. Urusan kamu sama kertas, atau layar ponsel yang sudah pecah di sudut tapi tetap kamu pakai buat ngetik malam-malam.

Toh, Multatuli sudah bilang sejak ratusan tahun lalu, penerbit memang cenderung memilih penulis yang sudah dikenal. Tapi ingat, kata kuncinya “cenderung”, bukan “selalu”. Ada saja penerbit yang masih percaya sama kualitas. Hanya saja, mereka perlu diyakinkan lebih keras, seperti orang tua yang nggak percaya anaknya bisa mandiri sebelum benar-benar ditinggal pergi dari rumah.

Dan kalaupun tulisanmu belum dilirik siapa-siapa, ya terus saja menulis. Mau dicetak atau tidak, diterbitkan atau hanya disimpan sendiri, itu urusan nanti.

Ingat, menulis itu bukan sekadar urusan dijual dan laris manis. Menulis itu cara kita meninggalkan jejak. Kalau kata Pramoedya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Dan satu hal lagi: tulislah dengan sepenuh hati. Karena tulisan yang jujur dari hati itu, meskipun tak segera dibaca banyak orang, suatu hari pasti menemukan jalannya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...