“Kadang kita nggak butuh punya dia. Cukup tahu dia ada, itu sudah bikin hati tenang.”
Kalau ada satu hal yang lebih awet dari mie instan di laci dapur, itu adalah perasaan Bima ke perempuan yang sudah jelas-jelas nggak mau sama dia.
Iya, Bima. Temanku yang dari dulu selalu jadi bahan bercandaan di tongkrongan karena satu hal: cintanya nggak bisa mati. Bahkan, setelah ditolak, dipinggirkan, di-ghosting, dan disaksikan bareng-bareng bahwa perempuan itu jalan sama cowok lain, Bima tetap setia. Kalau cinta Bima itu diibaratkan tanaman, dia kayak pohon jati di hutan: tumbuh kuat, nggak peduli angin badai, dan butuh gergaji gede buat motongnya. Nggak bisa cuma dipatahkan dengan kata “nggak suka.”
Cerita ini berawal di malam mendung yang gelap. Bukan gelap romantis kayak di film-film yang ada adegan suami istri ngopi di teras sambil dengerin suara hujan, tapi gelap yang bikin kamu mikir, “Ini mau hujan atau nggak, sih?” Udara dingin, bintang nggak kelihatan, cuma lampu jalan yang sesekali mati-nyala kayak hati Bima yang pasrah tapi nggak rela.
Kami duduk di emperan warung kopi, tempat biasa nongkrong kalau dompet tipis tapi pengen ngobrol panjang. Bima duduk sambil sesekali ngelus-ngelus gelas kopinya yang udah dingin, kayak orang yang nggak mau move on dari mantan. Mukanya kayak kertas kado bekas, kusut, dan matanya… ah, matanya itu, kayak habis nonton sinetron 100 episode tanpa tidur.
“Gua heran sama diri gua sendiri, Nar,” katanya pelan. Aku diam, nunggu kalimat berikutnya, karena pengalaman ngajarin, kalau orang udah mulai dengan kata “heran sama diri sendiri,” biasanya kalimat berikutnya akan bikin kita mikir, “Lho, serius?”
“Udah sepuluh tahun, Nar. Sepuluh TAHUN, ngerti nggak?” — dia sampe nepuk meja, bikin gelas kopi getar, kayak hati dia yang juga ikut bergetar tiap perempuan itu upload foto di Instagram dengan caption “bersyukur.” Oke, abaikan, itu cuma perumpamaan. Yang jelas, Bima serius banget.
“Gua suka sama dia dari jaman kita SMP kelas dua. Dia tolak gua, Nar. Jelas-jelas dia tolak. Bukan yang tolak halus kayak, ‘Kita temenan aja ya…’ tapi tolak yang bener-bener tolak. Dia bilang, ‘Maaf, aku nggak bisa. Aku nggak ada perasaan ke kamu.’ Jelas, terang, seterang lampu penerangan di perempatan jalan. Tapi entah kenapa, gua tetap suka sama dia. Dan nggak bisa berhenti.”
Aku mendengarkan. Di antara gelap dan dingin malam itu, aku ngerasa kayak dengerin seseorang ngaku masih makan Indomie rasa kari ayam padahal udah ada banyak pilihan rasa baru. Kayak, dunia tuh bergerak maju, masa kamu diam di tempat?
Aku penasaran. “Kenapa, Bim? Kenapa bisa terus-terusan suka sama dia, padahal dia nggak membalas perasaanmu?”
Bima diem. Lama. Sampai aku mikir dia lagi nyusun teori filsafat baru tentang cinta tak berbalas.
Akhirnya dia ngomong juga. “Karena dia… bikin gua percaya sama hal-hal kecil yang bikin hidup terasa berarti.”
Aku diem, mencoba mencerna kalimat yang baru aja keluar. Maksudnya gimana? Apa ini kode keras buat aku bikin puisi? Atau ini semacam pengakuan spiritual?
Bima lanjutin, “Gua suka sama dia bukan karena dia cantik aja. Cantik, iya, tapi bukan itu yang bikin gua bertahan. Dia tuh… punya cara sendiri buat bikin hari gua lebih baik. Kayak waktu dia tanya, ‘Kamu udah makan belum?’ Itu pertanyaan biasa, kan? Tapi buat gua, itu kayak ucapan mantra. Gua jadi ngerasa… ada yang mikirin gua. Bahkan cuma sebentar.”
Aku terdiam. Mendadak aku kepikiran, gimana rasanya jadi Bima yang selama sepuluh tahun setiap hari berharap, setiap hari ngelihat perempuan itu berbagi tentang kehidupan dia yang tanpa Bima. Kayak nonton film favorit yang ending-nya selalu sama: tokohnya mati, tapi kamu tetap nonton ulang-ulang karena berharap ending-nya berubah.
Bima terus cerita, dan aku cuma bisa manggut-manggut, antara paham dan nggak paham. Ada bagian di mana aku pengen bilang, “Bim, kasihan banget sih hidupmu,” tapi ada juga bagian di mana aku ngerasa, “Wah, ini cinta yang nggak bisa diremehkan.” Cinta yang bikin orang rela sabar nungguin hujan reda sambil berdiri di bawah pohon asem, padahal jelas-jelas nggak ada tanda-tanda hujan mau berhenti.
“Aku inget, Nar,” kata Bima, suaranya makin pelan, “dia pernah cerita, kalau dia pengen punya rumah kecil di pinggir pantai. Waktu itu aku langsung mikir, ‘Kalau suatu hari aku punya rejeki, aku bakal bangunin dia rumah di pinggir pantai.’ Gua tahu itu mimpi gila, Nar. Tapi mimpi itu bikin gua kerja keras. Jadi semangat nyari duit, nabung, belajar ini-itu. Karena gua pengen bikin dia bahagia.”
Aku ngelus kepala sendiri. Bima ini… kalau dibilang bucin, rasanya kok kurang sopan ya. Tapi kalau dibilang pejuang cinta, juga… gimana ya, sepuluh tahun… sepuluh tahun itu lama banget. Bahkan cicilan motor aja nggak ada yang sampe sepuluh tahun.
Aku penasaran, “Terus, sekarang? Dia kan mau nikah, Bim.”
Bima ketawa kecil. Ketawa yang getir, kayak orang baru sadar kalau dia beli mie instan yang kadaluarsa. “Ya, kayak… akhirnya gua bisa berhenti.” Bima ngangguk, senyumnya datar, ada lelah yang nggak bisa disembunyikan. “Karena sekarang gua tau, dia udah bahagia. Gua udah nggak punya peran lagi. Kayak pemain cadangan yang akhirnya disuruh pulang karena pertandingan udah selesai.”
Diam. Aku cuma bisa diam. Karena gimana ya, itu sedih, tapi juga… ada lega di dalamnya.
Di tengah diam itu, aku iseng nanya, “Nggak nyesel, Bim? Sepuluh tahun, lho. Waktu, tenaga, perasaan, semua buat dia. Dan dia… bahkan nggak pernah ngasih kesempatan.”
Bima garuk-garuk kepala, matanya liat ke langit yang mendung, kayak nyari jawaban di antara awan. Terus dia bilang, “Nggak, Nar. Karena… kalau gua nggak pernah suka sama dia, mungkin gua nggak akan ngerti rasanya berharap, berjuang, dan akhirnya belajar ikhlas.”
Aku ngerasa kayak dilempar batu bata dari langit. Berat. Dalam. Tapi juga bikin aku mikir, “Ya juga, ya.”
Kadang kita butuh jatuh cinta sama orang yang salah, biar kita ngerti arti sabar. Kadang kita butuh berharap yang nggak masuk akal, biar kita ngerti cara berhenti. Dan kadang… kita butuh nungguin orang yang nggak akan pernah milih kita, biar kita paham, hidup itu nggak cuma tentang apa yang kita mau.
Bima, dengan semua dramanya, ngajarin aku satu hal: cinta itu nggak harus punya akhir bahagia. Kadang, cinta itu cuma cerita yang bikin kita belajar. Kayak nonton film sedih yang bikin nangis, tapi nggak bikin kapok nonton film lagi.
Malam makin larut. Angin makin dingin. Bima ngeluarin rokok, nyalain, terus hisap dalam-dalam.
Dia buang napas pelan, terus bilang, “Kadang gua mikir, Nar… mungkin gua cuma butuh dia ada. Nggak harus punya dia. Cuma cukup tau dia ada, itu udah bikin hati gua tenang.”
Aku diem. Nggak tau harus ngomong apa. Karena kadang, kata-kata cuma bikin tambah ribet.
Aku cuma bisa mikir, “Gila, ya. Cinta itu kadang kayak hujan gerimis di malam mendung. Nggak bikin banjir, tapi bikin basah. Nggak deras, tapi bikin nggak bisa tidur.”
Dan akhirnya, aku cuma bisa bilang dalam hati, “Bima… semoga kamu nggak jatuh cinta lagi sama orang yang nggak pernah menyadari berharganya dirimu.”
Karena, satu dekade itu lama. Bahkan biji salak aja kalau ditanam, udah jadi pohon gede dalam waktu segitu.

Komentar
Posting Komentar