Langsung ke konten utama

Kebodohan yang Tidak Kita Sadari, Tapi Menyusahkan Banyak Orang

 


“Kebodohan itu seperti kematian: pemiliknya tidak sadar, tapi orang lain yang harus menanggung.”

Ketika Kebodohan Lebih Mematikan daripada Mati Itu Sendiri

Aku pernah dengar satu kalimat yang bikin aku mikir panjang:
Ketika kamu mati, kamu nggak tahu kamu mati. Yang susah itu orang lain yang harus menerima kenyataan kamu nggak ada.
Dan anehnya, kata orang, hal yang sama juga berlaku buat kebodohan.

Kebodohan itu kayak kematian yang nggak kerasa buat pelakunya, tapi nyakitin banyak orang di sekitarnya. Bedanya, kalau orang mati itu cuma bikin sedih, orang bodoh itu bisa bikin kesel, malu, bahkan kadang bikin pengen banting kursi.

Aku nggak asal ngomong. Aku pernah lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kebodohan ini menyelinap pelan-pelan, kayak kecoa di dapur, lalu tiba-tiba bikin semua orang pengen nangis atau ngamuk. Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala, si pemilik kebodohan ini sering kali nggak sadar. Mereka jalan dengan santai, senyum-senyum, kayak nggak ada masalah, padahal di belakang mereka ada orang yang lagi pusing tujuh keliling karena ulah mereka.

Biar aku ceritain beberapa pengalaman yang sampai sekarang masih bikin aku meringis sendiri kalau inget.

Si Bapak yang Lupa Waktu dan Tempat

Waktu itu aku lagi antri di loket pembayaran listrik. Di depan aku ada seorang bapak-bapak, pakai batik lengan pendek, celana kain, dan sandal jepit. Gayanya santai, kayak mau beli rokok di warung, padahal antrian sudah panjang sampai ke luar pintu.

Si bapak ini tiba-tiba dengan suara lantang ngomong, “Mbak, saya mau tanya-tanya dulu soal tagihan, ya. Kok bulan ini gede banget, ya?”

Mbak-mbak kasir yang mukanya sudah capek, cuma bisa senyum tipis. “Iya, Pak. Ini tagihan bulan Juni sama Juli, jadi gabung, Pak.”

Tapi si bapak nggak berhenti di situ. Dia mulai nanya, “Lho, kok bisa gabung? Bukannya bulan Juni saya udah bayar?”

Dia ribet sendiri, sambil buka-buka dompet, ngeluarin kertas tagihan dari bulan-bulan sebelumnya, terus nyodorin satu-satu ke mbak kasir. Sementara itu, orang di belakang mulai ngelirik-lirik, ada yang bisik-bisik, ada yang mulai geleng-geleng kepala. Aku sendiri sudah mulai pegal berdiri.

Tapi si bapak? Tenang-tenang aja, kayak lagi ngobrol di ruang tamu. Dia nggak sadar, tindakannya bikin satu antrian penuh harus nunggu lama. Kalau ada yang telat jemput anak sekolah, kalau ada yang buru-buru balik kerja, kalau ada yang lagi nahan pipis... semua harus rela diem karena satu orang ini.

Aku sampai mikir, “Ini bukan cuma soal tagihan listrik. Ini soal rasa peka yang entah kenapa ilang.”

Ibu-Ibu dengan Niat Baik yang Salah Tempat

Aku juga pernah ketemu sama ibu-ibu yang kelihatannya penuh kasih sayang, tapi malah bikin banyak orang bingung. Waktu itu aku naik bus kota, yang isinya sudah penuh banget. Aku duduk di kursi dekat pintu, dan ada seorang ibu-ibu naik sambil gandeng anak kecil yang rewel.

Awalnya biasa aja, sampai anak itu mulai nangis kenceng, teriak-teriak, nggak mau diem. Si ibu mencoba nenangin dengan cara yang… yah, unik.

Dia bilang, “Ssssttt, diem, nanti ada polisi tangkap, loh!”

Anaknya makin nangis kenceng. Si ibu makin panik, terus mulai nunjuk-nunjuk ke orang-orang di sekitar sambil bilang, “Itu Om-Om galak, nanti marahin kamu!”

Bayangin, satu bus isinya jadi kayak diadili. Ada yang senyum kecut, ada yang pura-pura main HP, ada juga yang langsung masang muka datar kayak batu.

Aku cuma bisa mikir, “Bu, anak kecil itu nggak akan tenang kalau ditakut-takutin kayak gitu. Dia malah makin rewel, makin bingung. Dan sekarang... semua orang di bus ini jadi korban.”

Kadang niat baik itu memang harus disertai akal sehat. Karena tanpa itu, niat baik bisa berubah jadi sumber kekacauan.

Teman yang Suka Ngomong Asal dan Bikin Malu

Nah, ini yang paling sering kejadian. Teman yang kalau ngomong, kayak nggak ada rem. Pernah ada satu teman, sebut saja namanya Rahmat. Waktu itu kita lagi ngumpul di kondangan teman lama, suasananya rame, semua orang senyum-senyum, ngobrol ngalor-ngidul.

Tiba-tiba Rahmat nyeletuk keras banget, “Eh, si Joko, kurusan banget, ya! Sakit, ya? Atau masalah rumah tangga?”

Suasana langsung aneh. Semua orang diem, kayak ada yang mencet tombol pause di remote. Si Joko cuma senyum tipis, jelas kelihatan canggung.

Tapi Rahmat? Dia malah ketawa, kayak nggak ada yang salah. Dia nggak sadar, pertanyaan kayak gitu bisa nyakitin. Bisa bikin orang merasa dipermalukan di depan banyak orang. Bisa bikin Joko ngerasa minder, ngerasa nggak nyaman sepanjang acara.

Aku sampai pengen bisikin Rahmat, “Mat, kalau mulutmu itu kayak keran bocor, tutuplah dulu sebelum nyipratin semua orang.”

Tapi ya gimana, kadang kebodohan itu nggak sadar. Yang bikin kesel, kita yang harus repot menahan malu, ngerasa nggak enak, sementara dia? Lanjut ketawa, lanjut makan, lanjut hidup kayak nggak ada yang terjadi.

Orang yang Sering Nyela Tapi Nggak Tahu Apa-Apa

Satu lagi tipe yang sering bikin aku geregetan: orang yang hobinya nyela, tapi nggak ngerti apa-apa.

Pernah ada kejadian di kantor lama. Lagi rapat, semua orang serius bahas proyek, tiba-tiba ada satu orang—sebut aja namanya Agus—dengan percaya diri bilang, “Menurut saya, proyek ini terlalu ribet. Harusnya kita simpelin aja, biar gampang.”

Semua orang nengok ke dia. Manajer nanya, “Oke, Agus, kalau simpelin, caranya gimana?”

Agus diem. Nggak jawab. Cuma senyum-senyum, terus bilang, “Ya pokoknya, biar gampang aja.”

Lho?

Ini kayak ada orang bilang, “Kita bikin pesawat terbang lebih murah, deh.”
Terus ditanya caranya, jawabnya, “Ya pokoknya bikin aja lebih murah.”

Aku cuma bisa tahan tawa sambil ngelus dada. Karena kalau diladenin, nanti malah tambah panjang.

Kebodohan yang Merambat ke Banyak Orang

Yang bikin aku mikir, kebodohan itu bukan cuma soal satu orang yang nggak tahu diri. Kadang kebodohan itu nyebar kayak penyakit menular. Satu orang bodoh ngomong, yang lain ikut-ikutan. Satu orang bikin salah, yang lain latah.

Aku pernah lihat di jalan, ada mobil mogok di tengah. Orang-orang di belakang langsung klakson panjang, teriak-teriak, bahkan ada yang marah-marah sambil keluar dari mobil.

Padahal kalau dipikir, marah-marah nggak bikin mobil itu tiba-tiba nyala. Bukannya bantu dorong, malah bikin macet tambah panjang.

Kadang aku mikir, kenapa ya, di negara ini, kita lebih gampang ngomel daripada nyari solusi?

Malam itu aku pulang ke rumah, duduk di teras, liat bulan yang separuh ketutup awan, dan aku mikir:

Kematian dan kebodohan itu memang mirip. Sama-sama nggak dirasa sama yang punya, tapi bikin sengsara orang lain. Bedanya, kalau kematian itu nggak bisa dihindari, kebodohan itu... bisa dihindari, kalau kita mau belajar.

Tapi ya itu tadi. Kadang orang nggak mau belajar karena merasa sudah paling tahu. Dan di situ letak bahayanya: ketika kita ngerasa paling benar, paling paham, padahal yang kita tahu cuma setitik air di lautan.

Aku nulis ini bukan karena aku paling pintar. Jauh, aku juga sering bikin salah. Tapi aku belajar, kalau salah itu harus diakui. Karena kalau nggak, kita akan jadi orang yang terus nyakitin orang lain tanpa sadar, dan bikin hidup orang lain kayak drama sinetron yang nggak ada habisnya.

Jadi ya, semoga kita semua, kalau nggak bisa pinter, setidaknya jangan nambahin beban hidup orang lain dengan kebodohan kita.

Karena dunia ini udah ribet. Jangan bikin makin ribet dengan kepala yang kosong tapi mulut yang nggak pernah diem.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...