Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Sandal Jepit Astral dan Penghuni Kontrakan yang Nggak Mau Pergi

  Kadang, rumah yang murah bukan karena jelek... tapi karena isinya sudah terlalu ramai buat orang biasa. Kontrakan 8C itu murah. Saking murahnya, aku sempat curiga jangan-jangan harganya hasil musyawarah arwah. Bayangkan saja: Rp400 ribu per bulan, listrik sudah termasuk, air deras seperti dendam kesumat, ada jemuran, bahkan lemari dua pintu yang—kalau ditilik dari aromanya—kayaknya sempat jadi saksi bisu tragedi. Entah tragedi apa, tapi pasti tidak menyenangkan. Tapi aku terpaksa menerimanya. Kosan lamaku mengusir karena aku sudah telat bayar tiga bulan. Pilihannya tinggal dua: tidur di kontrakan 8C atau rebahan di parkiran minimarket sambil berharap disangka patung hidup oleh pengunjung yang lagi beli sabun cuci. Hari pertama pindah, belum juga sempat naruh semua barang, kontrakan itu sudah unjuk gigi. Tepat pukul dua pagi. Aku lagi tidur ayam—bukan karena nyaman, tapi karena kasurnya masih digulung, dan aku cuma punya tikar anyaman dengan motif bunga layu. Lalu tiba-tiba... “Uu...

Sore, Roti, dan Ego yang Beratnya Kayak Kulkas Dua Pintu

  Kadang, yang ngajarin kita berdamai bukan psikolog, bukan buku motivasi, tapi seekor semut kecil… yang lewat di saat kita lagi terlalu gengsi buat minta maaf. Hari Minggu sore. Matahari pelan-pelan tenggelam di balik atap rumah-rumah rendah, warnanya kuning keemasan, tapi terasa seperti kuning kunyit basi. Angin bertiup malas seperti pegawai kantoran hari Sabtu yang dipaksa ikut pelatihan motivasi. Aku duduk sendirian di bangku taman. Bangku besi yang catnya mulai mengelupas, meninggalkan jejak-jejak karat seperti luka lama yang belum benar-benar sembuh. Di sebelah kanan ada sepasang kekasih yang lagi main tebak-tebakan lagu, dan di kiri, seorang bapak-bapak tertidur sambil mendengkur, entah karena lelah atau sudah pasrah. Tanganku memegang sepotong roti. Roti tawar isi coklat. Roti itu kubeli bukan karena lapar. Tapi karena aku tidak tahu harus ngapain setelah bertengkar hebat dengan pacar yang belum resmi jadi mantan. Iya, kami belum putus. Tapi udah saling diam kayak dua batu ...

Pee Mak: Kisah Cinta, Hantu, dan Empat Pria yang Tidak Siap Ditinggal Sendirian

  “Kadang, cinta bisa melewati maut. Tapi kalau yang dilewati itu kuburan dan makhluk tak kasat mata, kita perlu teman yang bisa lari kencang.” Aku percaya bahwa cinta sejati itu indah. Tapi kalau cinta itu datang bersama hantu, lalu hantu itu masih cinta, dan yang dicintai belum sadar bahwa yang mencintai sudah wafat... itu bukan indah. Itu menyeramkan. Dan itulah kenapa Pee Mak menjadi salah satu film paling unik yang pernah kutonton. Karena dia memadukan tiga hal yang tidak seharusnya berada dalam satu piring: Cinta, komedi, dan kematian. Dan anehnya... rasanya cocok. Seperti makan ketan campur sambal: tidak lazim, tapi begitu masuk mulut... “Lho, kok bisa enak, ya?” Pee Mak adalah film Thailand tahun 2013 yang konon diangkat dari legenda rakyat. Tapi kalau kamu berharap film ini akan serius seperti cerita sejarah zaman kerajaan, kamu akan kecewa. Karena dari awal sampai akhir, film ini seperti... naik odong-odong berhantu. Menegangkan, tapi lampunya tetap kelap-kelip. Seram, ...

Ngobrol di Toilet, Ngopi di Rest Area, dan Pelajaran Hidup yang Nggak Pernah Aku Rencanakan

  Kadang, obrolan paling tulus justru datang dari orang asing—yang kamu temui pas hidup lagi nggak wangi-wanginya. Toilet umum bukan tempat yang biasanya diasosiasikan dengan momen penuh makna. Bahkan kalau kamu tanya aku sehari sebelum kejadian itu, aku pasti jawab: “Toilet itu cuma tempat singgah. Tempat darurat. Tempat di mana harga diri dan aroma saling bersaing.” Tapi hari itu, di satu rest area entah kilometer berapa, di antara tumpukan rasa capek dan perut yang mulai protes, aku mampir ke toilet dan… malah dapat pelajaran hidup. Ceritanya begini. Aku lagi dalam perjalanan panjang. Nyetir sendiri. Radio sudah kumatikan, playlist habis, sinyal juga hilang-timbul. Kepala mulai pening, bukan karena jalanan macet, tapi karena pikiran sendiri yang muter-muter kayak stir mobil nggak pakai power steering. Akhirnya, aku putuskan berhenti di rest area. Isi bensin, buang air, beli minum. Aktivitas standar manusia yang masih punya metabolisme aktif. Masuk ke toilet, seperti biasa: antre...

Cerita yang Nggak Pernah Tercatat, Tapi Nempel Selamanya

  Kadang, kita butuh cerita sama orang asing… supaya nggak merasa asing sama diri sendiri. Bandara itu tempat yang aneh. Kadang jadi latar belakang adegan perpisahan yang dramatis. Kadang juga jadi tempat ketemu jodoh—katanya. Tapi lebih sering, ya… tempat nunggu pesawat yang nggak kunjung datang, sambil makan mi instan cup yang harganya lebih mahal dari ongkos pulang ke rumah. Hari itu, aku lagi sendirian. Delay. Empat jam. Aku udah pasrah. Udah nggak ada energi buat marah. Udah lewat fase gelisah. Udah nonton semua video pendek di ponsel, sampe algoritma-nya bingung mau kasih apa lagi. Sampai akhirnya… aku duduk di bangku pojok, dekat colokan, dan ada satu bapak-bapak ikut duduk di sebelah. Kami sama-sama celingukan, sama-sama megang botol air mineral isi ulang yang tinggal separuh, dan sama-sama nggak tahu harus ngapain. Lalu, seperti biasa, percakapan paling absurd dalam hidup dimulai dari kalimat klise: “Delay-nya lama juga, ya?” Aku cuma angguk. Senyum sedikit. Basa-basi. Tap...

Nggak Harus Hebat, Asal Tumbuh

  Motivasi yang paling aman bukan yang bikin kamu terbang, tapi yang bantu kamu tetap jalan meski pelan. Aku pernah duduk sendirian di ruang tamu, menatap plafon dengan ekspresi datar kayak tempe habis digoreng tapi lupa dikasih garam. Di tangan ada gelas teh, isinya tinggal ampas, rasanya kayak hidup: pahit dan nyangkut di dasar. Saat itu, entah kenapa aku mikir, “Motivasi hidup yang ideal tuh kayak apa, sih?” Bukan motivasi yang muncul dari seminar-seminar mahal yang isinya penuh jargon dan tangan mengepal ke langit. Bukan juga dari orang yang selalu bilang, “Ayo, kamu pasti bisa!” padahal baru ditanya aja kita udah lelah. Tapi motivasi yang... bisa digenggam. Nggak meledak-ledak, tapi juga nggak hilang ditiup angin kipas angin rusak. Yang bisa tetap kamu peluk meskipun dunia lagi jungkir balik, dan kamu cuma punya sisa semangat selebar ujung kuku kelingking. Dan setelah banyak malam yang isinya gelisah, banyak siang yang penuh rasa bersalah karena merasa “kurang produktif”, d...

Pagi-Pagi Buka Jendela, yang Muncul Bukan Matahari, Tapi Nisan

  Kadang yang bikin kita nggak nyaman itu bukan karena horor, tapi karena batas hidup dan mati yang terlalu dekat. Beberapa hari lalu, temen kantorku—sebut saja namanya Soni—curhat. Tapi bukan curhat soal kerjaan. Bukan soal bos yang kalau lewat bikin deg-degan kayak pengawas ujian. Bukan juga soal gaji yang udah masuk tapi langsung pamit dari rekening kayak pacar yang cuma numpang makan tapi nggak mau kenalan sama orang tua. Dia curhat soal tetangganya. Dan ini bukan sembarang tetangga. Tetangganya ini... baru-baru ini nguburin jenazah di halaman rumah sendiri. Iya. Di halaman. Rumah. Sendiri. Soni cerita sambil nyeruput teh manis di pantry kantor, tapi ekspresinya kayak abis nonton film dokumenter yang plot-nya terlalu jujur buat ditelen. “Gua sih nggak takut ya,” katanya. “Tapi tiap pagi buka jendela, yang nongol... bukan cahaya mentari. Tapi batu nisan.” Awalnya aku kira dia bercanda. Tapi ekspresi Soni serius. Dia tinggal di pinggir kota, daerah perkampungan. Jalanannya masih ...