Kadang, rumah yang murah bukan karena jelek... tapi karena isinya sudah terlalu ramai buat orang biasa. Kontrakan 8C itu murah. Saking murahnya, aku sempat curiga jangan-jangan harganya hasil musyawarah arwah. Bayangkan saja: Rp400 ribu per bulan, listrik sudah termasuk, air deras seperti dendam kesumat, ada jemuran, bahkan lemari dua pintu yang—kalau ditilik dari aromanya—kayaknya sempat jadi saksi bisu tragedi. Entah tragedi apa, tapi pasti tidak menyenangkan. Tapi aku terpaksa menerimanya. Kosan lamaku mengusir karena aku sudah telat bayar tiga bulan. Pilihannya tinggal dua: tidur di kontrakan 8C atau rebahan di parkiran minimarket sambil berharap disangka patung hidup oleh pengunjung yang lagi beli sabun cuci. Hari pertama pindah, belum juga sempat naruh semua barang, kontrakan itu sudah unjuk gigi. Tepat pukul dua pagi. Aku lagi tidur ayam—bukan karena nyaman, tapi karena kasurnya masih digulung, dan aku cuma punya tikar anyaman dengan motif bunga layu. Lalu tiba-tiba... “Uu...