Kadang kita mau nolong orang, tapi kok ujung-ujungnya malah jadi kayak orang berdosa karena nggak sesuai harapan?
Siang itu, matahari lagi galak-galaknya.
Aku duduk di bangku kecil dekat parkiran Indomaret.
Niatnya simpel: istirahat sebentar, minum limun madu yang baru aku beli, terus lanjut kerja.
Kepala masih pusing mikirin laporan yang belum kelar.
Tapi minimal, satu dua teguk limun madu bisa bikin hidup sedikit manis.
Atau setidaknya, nggak terlalu pahit.
Baru dua seruput, datang seorang bapak tua.
Badannya kurus, jalannya pelan, dan kalau dilihat sekilas, dia memang kelihatan ringkih.
Aku pikir, ya sudah, paling-paling minta sedekah.
Kalau ada uang receh, aku biasanya kasih.
Nggak banyak, tapi setidaknya bisa bantu beli air minum atau roti.
Tapi bapak ini beda.
Dari awal, nadanya sudah bikin aku berhenti minum limun.
Dia bilang:
“Sedekah lah, nanti kamu masuk neraka kalau nggak mau sedekah!”Aku diam.
Aku pandang dia.
Aku pandang lagi limun yang tinggal separuh.
Aku pandang ke dompet, ke celana, ke saku.
Pertanyaannya muncul di kepala:
“Loh, ini aku mau sedekah yang ikhlas, atau karena diancem neraka?”Karena menurutku, sedekah itu soal niat.
Soal hati yang mau berbagi.
Bukan soal takut ancaman.
Bukan soal dipaksa merasa bersalah.
Tapi, daripada panjang urusan, aku kasih aja.
Dua ribu rupiah.
Recehan yang memang ada di saku celana.
Kupikir, ya sudah lah, ini rezekinya dia hari ini.
Tapi ternyata...
bapak itu malah marah.
Wajahnya berubah.
Tadi lelah, sekarang marah.
“Apa ini? Masa dua ribu aja! Pakaian doang rapi, dasar pelit!”Habis ngomong gitu, dia jalan pergi.
Langkahnya cepat, jauh lebih cepat dari waktu dia datang.
Dan aku cuma bisa ngelus dada.
Aku bukan marah karena sikapnya.
Tapi aku mikir, sedekah itu kan harusnya datang dari hati.
Bukan dari ancaman.
Bukan dari makian.
Bukan dari dorongan supaya orang lain merasa bersalah kalau nggak ngasih sesuai harapan.
Karena kalau sedekah dipaksa gitu, yang ada orang ngasih, tapi sambil dongkol.
Kadang aku lihat juga di jalanan, ada orang sedekah sambil divideoin.
Sambil difoto.
Sambil diumbar.
“Nih, aku sedekah ke si A. Lihat, aku baik kan?”Padahal, kata guru-guru dulu, sedekah itu tangan kanan memberi, tangan kiri jangan tahu.
Sedekah itu nggak usah diumbar.
Apalagi sampai bikin orang lain jadi bahan tontonan.
Dan sedekah itu nggak diukur dari nominalnya.
Seribu, dua ribu, sepuluh ribu, sejuta — semua tergantung niat.
Kalau niatmu tulus, itu sudah cukup mulia.
Bantu Orang Bukan Berarti Kita Harus Sampai Susah
Ini yang juga penting.
Bantu orang itu mulia.
Tapi bukan berarti kita harus sampai memaksakan diri.
Bukan berarti kita bantu orang sampai rumah kita sendiri kosong.
Sampai anak istri kita sendiri nggak kebagian.
Karena bantu orang itu harus sesuai kemampuan.
Dan ingat, kita juga punya tanggung jawab pada diri kita sendiri.
Kalau besok kamu ketemu orang seperti bapak tadi, yang maksa, yang marah kalau nggak dikasih sesuai harapan, nggak usah terlalu dibawa ke hati.
Yang penting kita sudah niat baik.
Kita sudah berusaha bantu.
Kalau orangnya nggak terima, itu urusan dia.
Yang menilai nanti, ya hidup ini sendiri.
Karena hidup ini seperti cermin.
Apa yang kita kasih, baliknya ke kita juga.
Nilai Sedekah Ada di Tangan yang Memberi, Bukan di Mulut yang Meminta
Jadi mulai sekarang, kalau kamu mau sedekah, sedekahlah karena kamu mau.
Karena hatimu tergerak.
Karena kamu ikhlas.
Bukan karena takut ancaman.
Bukan karena takut diomelin.
Karena niat baik itu nilainya bukan dari besar kecilnya uang.
Tapi dari tulusnya tangan yang memberi.
Dan biarlah orang menilai dari sikap kita, bukan dari jumlah yang kita kasih.

Komentar
Posting Komentar