“Uang seratus ribu mungkin kecil, tapi kalau dipinjam berulang tanpa kembali, nilainya bisa sebesar rasa kesal yang tak terucap.”
Kalau kamu belum pernah dipinjami uang oleh teman dengan pembuka kalimat,
“Bro… pinjam dulu seratus,”
maka dua kemungkinan:
Entah kamu tidak punya teman,
atau kamu yang selama ini bilang kalimat itu.
Kalimat ini—“Pinjam dulu seratus”—mungkin terdengar sepele.
Kecil.
Biasa.
Tapi kalau terjadi terlalu sering, efeknya bisa mengikis ketahanan dompet dan kewarasan hati.
Karena masalahnya bukan cuma uangnya.
Tapi pola.
Dan kenyataan bahwa uang itu sering kali tidak kembali,
sementara hubungan pertemanan terus dibiarkan tergantung—seperti bendera upacara yang lupa diturunkan.
Aku pernah punya teman seperti ini.
Sebut saja namanya… Dino.
Dino ini seperti jam weker rusak: tidak bisa dipercaya kapan akan berbunyi, tapi pasti bikin kaget.
Setiap kali muncul, mukanya selalu penuh senyum.
Lalu pelan-pelan, setelah basa-basi dua tiga kalimat, dia akan mengeluarkan senjata pamungkasnya:
“Lo ada seratus, nggak?”
Masalahnya, orang seperti Dino tidak akan meminjam untuk satu alasan yang jelas.
Bisa untuk beli rokok.
Bisa buat beli gorengan.
Bisa juga untuk tambal-tambal cicilan yang tidak jelas.
Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika kita pinjamkan, lalu besoknya lihat dia unggah foto makan steak.
Dengan caption,
“Hidup itu dinikmati…”
Mau rasanya ditulis ulang caption itu jadi,
“Hidup itu ditraktir…”
Oke.
Jadi bagaimana caranya kita menghindari orang-orang seperti Dino, tanpa harus mengorbankan silaturahmi atau jadi manusia superjutek?
Berikut lima cara yang kugunakan sendiri—dan sudah terbukti ampuh untuk menyelamatkan dompet dan mental.
1. Gunakan Bahasa yang Sama-Sama Tidak Nyaman
Kadang, untuk menghindari orang yang tidak tahu malu, kita harus menggunakan malu itu sebagai senjata.
Contohnya begini.
Kalau dia bilang,
“Lo ada seratus, nggak?”
Jawab saja pelan,
“Ada… tapi untuk bayar utang lo yang sebelumnya belum kembali.”
Atau,
“Wah, ada sih. Tapi nanti gue bingung kalau ditanya anak-anak soal hutang lo yang kemarin…”
Ini bukan tentang mempermalukan.
Ini tentang menyadarkan, bahwa ada harga yang harus dibayar sebelum minta yang baru.
Kalau dia masih maksa?
Katakan saja:
“Kalau seratus-seratus terus, nanti jumlahnya bisa buat DP kulkas dua pintu.”
2. Alihkan ke Barang, Bukan Uang
Kadang kita tidak tega.
Kadang ada rasa bersalah kalau nolak.
Tapi jangan sampai itu membuat kita terus-terusan jadi mesin ATM berjalan.
Jadi, kalau dia bilang,
“Pinjam dulu seratus…”
Jawab:
“Buat apa?”
Kalau dia jawab,
“Buat makan,”
Katakan,
“Ayo, gue beliin. Tapi jangan pinjam uangnya.”
Kalau dia jawab,
“Buat isi pulsa,”
Bantu isi langsung, tapi dengan catatan: sekali ini saja.
Dengan begitu, kita tahu kebutuhannya benar atau tidak.
Dan dia juga tahu bahwa kita bukan toko kelontong tanpa kasir.
3. Jadilah Orang yang Lebih Miskin (Secara Strategis)
Ini cara paling efektif tapi butuh latihan akting.
Begitu dia mulai mendekat, pasang wajah lelah.
Pegang dompet, lalu geleng-geleng.
Sambil berkata lirih:
“Gue juga baru aja minjem…”
Atau:
“Dompet gue juga lagi nangis nih, Din…”
Kalau perlu, sesekali tampilkan nota cicilan atau sengaja pamer aplikasi pinjaman.
Biar dia merasa bahwa kamu bukan target yang menguntungkan.
Karena pengutang itu juga punya insting dagang—mereka tidak akan menyasar orang yang lebih sengsara dari mereka.
4. Ganti Pergaulan Sementara
Kalau dia teman nongkrong,
dan tiap nongkrong berujung minta seratus,
maka yang perlu diganti bukan dompetmu—tapi lokasi dan jadwal nongkrongmu.
Tunda pertemuan.
Atau kalaupun bertemu, pastikan ada orang ketiga yang bisa jadi pengalih perhatian.
Orang ketiga yang lebih cerewet, lebih rame, dan lebih menyita waktu.
Karena orang yang niatnya minjam uang itu biasanya akan menyerang saat kamu sendirian.
Ketika kamu sendiri, dia mendekat seperti pencuri yang tahu pintu belakang rumah tidak dikunci.
Tapi kalau kamu ramai-ramai, dia akan merasa gerakannya diawasi.
Dan akhirnya pulang dengan tangan hampa.
5. Tawarkan Skema Pelunasan
Ini cocok buat yang punya hubungan dekat dan ingin tetap menjaga silaturahmi.
Kalau dia minta seratus,
tanya dengan lembut:
“Din, yang kemarin itu sudah bisa dibayar belum?”
Kalau jawabnya, “Belum,”
jangan langsung tolak. Tapi tawarkan pilihan:
“Aku bantu sekali ini, tapi kita bikin catatan. Totalnya jadi segini ya. Nanti kita bikin pelunasan seminggu sekali. Seribu-seribu juga nggak apa-apa.”
Biasanya, orang seperti Dino akan gelagapan.
Karena niatnya bukan mencicil,
tapi melupakan.
Dan ketika kamu tunjukkan niat mencatat dan menagih,
dia akan berpikir ulang sebelum minta lagi.
Sekarang mungkin kamu bertanya,
“Kenapa repot-repot sampai bikin strategi begitu? Kenapa nggak langsung bilang ‘nggak bisa’ dan selesai?”
Jawabannya:
karena hidup tidak selalu sesederhana itu.
Ada teman yang benar-benar sedang butuh.
Ada teman yang tidak tahu diri.
Dan ada teman yang kita sayangi, tapi kalau terus dibiarkan, akan membuat kita menyesal.
Maka dari itu, butuh cara.
Butuh pendekatan.
Butuh sikap yang tidak memutus tali, tapi cukup mengencangkan batas.
Pinjam seratus mungkin terdengar kecil.
Tapi kalau berkali-kali?
Itu bukan cuma soal uang.
Itu soal rasa dihargai.
Soal ketulusan yang disalahgunakan.
Soal batas yang dilanggar berkali-kali.
Dan jujur saja,
kalau kamu punya lima teman yang semua hobi pinjam seratus…
kamu bisa bangkrut tanpa sempat merasa jadi orang kaya.
Jadi kalau hari ini ada yang datang padamu dengan kalimat:
“Pinjam dulu seratus…”
Jangan langsung bilang “nggak ada”.
Tapi lihat dulu siapa orangnya.
Kalau itu teman yang kamu tahu punya niat baik dan sedang kesulitan—bantu.
Tapi kalau itu Dino…
kamu tahu harus lakukan apa.
Komentar
Posting Komentar