Langsung ke konten utama

Kejantanan Tidak Ditentukan dari Selera Tayangan: Pembelaan Seorang Lelaki yang Suka Drama Korea

 


“Laki-laki sejati bukan dia yang menolak air mata, tapi dia yang tahu kapan harus jujur dengan perasaannya.”


Dari sekian banyak hal yang bisa membuat orang mempertanyakan kelaki-lakian seseorang, aku paling geli ketika mendengar:
“Masa cowok suka drama Korea? Kurang laki banget, sih.”

Sebentar.

Jadi… ukuran kelaki-lakian itu sekarang diukur dari selera tontonan?

Kalau nonton orang baku hantam, kejar-kejaran dengan ledakan di mana-mana, baru bisa dibilang jantan?
Tapi kalau duduk manis menikmati kisah cinta yang rumit, penuh air mata dan latar taman bunga… langsung dicap lemah?

Ini negara atau arena kompetisi maskulinitas musiman?

Aku suka drama Korea.
Iya.
Aku bukan penggemar garis keras yang hafal semua nama aktor atau tahu kapan episode terbaru tayang. Tapi kalau kamu tanya apakah aku bisa duduk maraton nonton 16 episode dalam dua hari, jawabannya: ya, bisa. Dan pernah.

Dan aku tahu aku tidak sendiri.

Banyak teman laki-lakiku juga suka.
Tapi mereka menontonnya diam-diam.
Dengan volume kecil.
Dengan layar disembunyikan.
Dan ketika ditanya, jawabnya pura-pura,
“Gue cuma nemenin adek nonton.”

Padahal ekspresi mukanya waktu adegan patah hati muncul… itu bukan ekspresi ‘nemenin’. Itu ekspresi ‘terluka bersama’.

Kenapa sih, cowok suka drama Korea jadi bahan olok-olok?

Katanya karena cowok seharusnya menyukai hal-hal yang “macho”.
Seperti sepak bola.
Balap motor.
Film yang isinya tembak-tembakan atau paling tidak tokoh utamanya harus bisa membanting orang tiga kali dalam satu adegan.

Kalau suka drama yang penuh dialog dan air mata?
Langsung dicap lemah.
Langsung dibilang melenceng.

Padahal, aku tanya balik deh…
Sejak kapan menangis itu bukan bagian dari jadi manusia?
Dan sejak kapan laki-laki harus selalu tahan air mata?

Aku pernah diskusi dengan seorang teman laki-laki yang sok tegas dan penuh prinsip.
Dia bilang, “Gue nggak akan pernah nonton drama Korea, Nar. Nggak banget. Itu tontonan cewek.”

Aku tanya, “Kenapa?”

Dia jawab, “Karena cowok tuh harus tegas. Nonton tuh harus yang bikin semangat, bukan baper.”

Lalu aku tanya, “Lo nggak pernah baper sama hidup lo sendiri?”

Dia terdiam.

Karena ya… semua orang pasti pernah baper.
Pernah sakit hati.
Pernah kecewa.
Pernah menangis diam-diam di kamar.

Bedanya, yang satu menontonnya sambil disangkal, yang satu mengakuinya sambil makan mi instan tengah malam.

Beberapa orang bilang drama Korea terlalu penuh romansa, terlalu tidak realistis.

Betul, banyak yang begitu.
Tapi siapa bilang tontonan harus realistis?

Kalau begitu, kenapa kamu bisa betah nonton sinetron yang isinya ibu tiri jahat yang gak habis-habis?
Atau film laga yang pelurunya nggak pernah habis dan tokohnya bisa jatuh dari lantai 16 tanpa lecet?

Kenapa giliran drama Korea yang menampilkan cinta yang diperjuangkan, pengorbanan, dan luka batin mendalam… malah dianggap memalukan?

Dan kalau boleh jujur, aku belajar banyak dari drama Korea.

Aku belajar bahwa mengungkapkan perasaan itu penting.
Bahwa luka masa lalu bisa memengaruhi cara kita mencintai.
Bahwa tidak semua yang tampak bahagia itu benar-benar baik-baik saja.

Tiap kali aku nonton adegan orang marah bukan karena benci, tapi karena takut kehilangan…
aku terdiam.
Dan aku merasa mengerti diriku lebih dalam.

Itu salah satu kekuatan drama:
bisa bikin kita berdialog dengan diri sendiri.

Ada satu adegan dari drama yang kulupa judulnya, yang paling aku ingat adalah tentang seorang ayah yang bekerja keras, tapi terlalu pendiam untuk bilang “aku sayang padamu” ke anaknya.

Sepanjang drama, sang ayah hanya diam.
Tapi setiap hari, dia mengantar anaknya ke sekolah.
Dia menyiapkan makanan.
Dia membenahi jaket sang anak sebelum keluar rumah.

Lalu saat sang anak sakit keras, si ayah akhirnya menangis di samping tempat tidur.

Tidak ada ledakan.
Tidak ada adegan tabrakan.
Tidak ada adegan baku hantam.

Tapi aku…
menangis.

Karena aku teringat ayahku sendiri.
Yang jarang bicara.
Tapi selalu memastikan aku makan.
Yang tidak pernah memeluk, tapi selalu bertanya, “Sepedamu masih enak dipakai?”

Apa itu bukan kejantanan?

Apakah hanya karena tidak memakai senjata atau tidak mengejar penjahat lalu jadi tidak layak disebut tontonan ‘laki-laki’?

Kejantanan, menurutku, bukan tentang otot atau suara keras.
Kejantanan itu tentang keberanian untuk bersikap lembut saat semua orang menyuruhmu jadi keras.
Tentang berani bilang, “Aku sakit hati,” saat semua orang bilang, “Sudah, biasa aja.”

Dulu waktu aku masih sekolah, kalau ada cowok yang ketahuan suka lagu-lagu Korea, langsung diledek.

“Ah, lo suka cowok cantik tuh!”

Padahal, lagu itu bisa saja menguatkan dia saat sedang putus cinta.
Atau menemani malam-malam sepi waktu belajar.
Atau bahkan sekadar bikin dia senang.

Kenapa kebahagiaan kecil itu harus dihina?

Dan lucunya, yang suka meledek biasanya adalah yang diam-diam hafal liriknya juga.
Karena ejekan kadang lahir dari rasa takut dianggap berbeda.

Aku juga ingat suatu kali aku sedang nonton drama Korea di ruang keluarga.
Adikku lewat dan nyeletuk, “Kakak kenapa sih nonton ini? Bukan tontonan cowok banget deh.”

Aku jawab, “Memangnya cowok harus nonton apa?”

Dia diam.
Lalu duduk.
Dan… ikut nonton.
Satu jam kemudian, dia nangis lebih kencang dari aku.

Sejak itu, kami sering nonton bareng.
Dan aku sadar, kadang orang menghakimi karena mereka belum mencoba.

Aku tidak menulis ini untuk membela drama Korea semata.
Tapi aku menulis ini untuk membela hak setiap orang—terutama laki-laki—untuk punya rasa.

Untuk bisa menangis.
Untuk bisa menikmati kisah cinta.
Untuk bisa tenggelam dalam kisah menyentuh tanpa takut dibilang lemah.

Karena laki-laki bukan mesin.
Bukan robot.
Kami juga punya luka, punya harapan, dan butuh tempat untuk merasa.

Kalau kamu adalah laki-laki dan kamu suka drama Korea—tonton saja.
Nikmati.
Tertawa.
Menangis.
Jangan merasa kamu harus menutupi itu.

Dan kalau ada yang mengejek?
Tersenyumlah.
Karena kamu tahu, kamu lebih berani dari mereka—berani merasa, berani mengakui, dan berani tetap jadi diri sendiri.

Jadi, buat kamu yang masih percaya bahwa jadi laki-laki harus keras, tegas, dingin, dan selalu nonton tontonan keras—mungkin kamu sedang menekan sisi manusiawimu sendiri.

Buka ruang.
Coba tonton satu dua episode.
Lalu tanya dirimu sendiri…
“Apa ini benar-benar tidak layak? Atau aku cuma terlalu takut menikmati hal yang dianggap ‘tidak seharusnya’?”

Karena sesungguhnya…
kejantan sejati bukan tentang menolak air mata,
tapi tentang tahu kapan kita boleh menangis.

Dan kalau drama Korea bisa membantumu berdamai dengan perasaanmu sendiri,
kenapa harus malu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...