Langsung ke konten utama

Tetangga Mulutnya Tajam, Hatimu Jangan Ikut Tumpul

 


Di dunia ini, ada dua suara yang susah dihentikan: suara ayam tetangga yang berkokok jam empat subuh, dan suara tetangga yang komentarnya nggak bisa direm.


Waktu aku kecil, hidupku tenang-tenang saja.
Aku anak rumahan.
Main? Kadang.
Tapi lebih sering duduk di teras, gambar-gambar di buku tulis bekas, atau bantu ibu nyapu halaman.

Sampai akhirnya... aku punya tetangga yang membuat masa kecilku terasa seperti ikut lomba sabar tanpa piala.

Namanya nggak perlu aku sebut.
Tapi ciri-cirinya jelas: mulutnya aktif, kupingnya tajam, dan hobinya komentar.
Komentar apa saja.
Dari orang lewat, anak main, ibu-ibu masak, sampai ayam peliharaan orang pun dikomentarin.
Aku yakin kalau dia hidup di zaman sekarang, dia bakal jadi ketua kelompok arisan tetangga yang statusnya di papan pengumuman: “Komentator tetap warga RT 04.”

Setiap aku lewat depan rumahnya, dia selalu siap dengan kalimat andalan:

“Anaknya diem banget, ya. Kok aneh. Biasa anak kecil rame.”

Kalau aku lagi main sendiri, entah main kelereng atau gambar-gambar:

“Nggak punya teman ya? Kasihan amat.”

Kalau aku di rumah bantu ibu, nyapu halaman, ngepel:

“Ih, cowok kok diem di rumah aja. Aneh.”

Yang bikin tambah sedih, dia ngomongnya keras-keras.
Kayak biar semua tetangga dengar.
Biar yang awalnya nggak peduli jadi ikut-ikutan dengar.
Biar suara dia menggema sampai tiang bendera depan gang.

Aku masih kecil.
Belum ngerti betul dunia.
Tapi aku tahu satu hal: aku nggak nyaman.

Rasanya kayak dicubit.
Bukan cubit fisik, tapi cubit hati.
Malu iya, sedih iya, kesel juga iya.

Aku sering mikir:

“Apa salah aku? Kok aku nggak boleh jadi diri sendiri?”

Tapi waktu itu aku nggak ngerti harus ngapain.
Yang aku bisa cuma... diam.
Diam sambil dalam hati berharap:

“Besok tetanggaku ini tenggorokannya serak, biar nggak komentar dulu sehari dua hari."

Ibu sering lihat aku pulang ke rumah dengan muka mendung.
Dan ibu selalu bilang:

“Kalau kamu nggak bikin salah, nggak usah malu. Orang begitu ngomong karena dia nggak tahu hatimu.”

Kalimat itu jadi tamengku.
Kalimat itu yang bikin aku kuat menghadapi komentar pedas.
Kalimat itu yang aku ulang-ulang sendiri kalau dengar suara nyinyir dari balik pagar rumah tetangga.

Dan satu lagi pesan ibu yang aku ingat betul:

“Jangan balas nyinyir dengan nyinyir. Nanti bedanya kamu sama dia apa?”

Aku sudah besar sekarang.

Dan aku paham betul kenapa komentar tetangga waktu aku kecil itu terasa buruk.

✅ Karena komentar itu bukan buat kasih solusi.
Kalau komentar itu niatnya baik, mestinya ngajak main bareng, atau nanya mau ditemenin nggak.

✅ Karena komentar itu menyerang pribadi.
Bukan kasih masukan. Bukan kasih semangat. Tapi malah bikin orang kecil hati.

✅ Karena komentar itu bikin aku, anak kecil yang polos, merasa:

“Apa aku ini memang salah? Apa aku nggak pantas di sini?”

Dan sedihnya, komentar begitu kadang dianggap biasa.
Padahal itu nyakitin.
Padahal itu ninggalin bekas.

Tetangga itu unik.
Kadang mereka keluarga kedua.
Kalau kita butuh bantuan, tetangga yang pertama datang.
Kalau ada yang sakit, tetangga yang pertama nganterin.

Tapi kadang juga, tetangga itu ujian kesabaran.
Mulutnya nggak ada remnya.
Komentarnya bikin kening berkerut.
Tatapannya bikin kita pengen pura-pura nggak lihat.

Tapi mau nggak mau, kita tetap harus hidup bareng mereka.
Karena seburuk-buruknya tetangga, tetap lebih dekat daripada saudara di seberang kota.

Waktu kecil aku cuma bisa diam.
Tapi makin besar, aku mulai nemu caraku sendiri:

✅ Aku nggak ikut balas nyinyir.
Karena nyinyir itu kayak api.
Kalau dibalas nyinyir, makin besar apinya.

✅ Aku menulis.
Karena dengan menulis, aku bisa cerita.
Aku bisa lega.
Aku bisa kasih pelajaran ke orang lain tanpa harus menyakiti orang yang dulu menyakitiku.

✅ Aku belajar menghargai orang lain.
Karena aku tahu rasanya dikomentarin tanpa alasan.
Jadi aku nggak mau orang lain ngerasain yang sama.

Kita Nggak Bisa Atur Mulut Orang, Tapi Bisa Atur Hati Kita

Sekarang, kalau aku dengar ada yang dikomentarin tetangga, aku cuma bisa bilang:

“Tenang. Kamu nggak sendirian. Kita semua pernah di posisi itu.”

Karena kita nggak bisa atur mulut orang.
Kita nggak bisa suruh mereka berhenti komentar.

Tapi kita bisa atur hati kita.
Supaya nggak ikut jadi sama buruknya.
Supaya komentar buruk mereka nggak mendikte harga diri kita.

Karena pada akhirnya, yang tahu siapa kita sebenarnya, bukan tetangga, bukan orang yang nyinyir, tapi kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...