Langsung ke konten utama

Ruangan yang Hanya Muncul Saat Kita Luka

 


Kadang, satu-satunya cara untuk berdamai dengan diri sendiri... adalah duduk berhadapan lalu saling diam.


AKU sendiri lupa kapan terakhir kali masuk ke ruangan ini. Tapi semuanya masih sama. Meja itu. Kursi itu. Dinding-dinding putih yang terlalu bersih. Bau kayu tua yang selalu membuat napas ingin pelan-pelan saja. Dan tentu saja... dia.

Masih duduk di sana. Dengan postur tegap, dagu sedikit terangkat, dan tatapan yang seolah ingin bilang: “Kukira kau tidak akan kembali.”

“Bukankah terakhir kali kau bilang tak akan kemari lagi?” tanyanya sambil menyunggingkan senyum miring yang sudah akrab sekali dengan wajahnya. Senyum khas: setengah ejek, setengah sayang.

Aku duduk di hadapannya. Kursi kayu dengan bantalan tipis yang mengingatkan pada bangku ruang BK — tidak nyaman, tapi selalu membuat ingin jujur.

“Apa kabar?” tanyaku, mencoba bersikap hangat.

“Apa itu perlu kujawab?” Ia menyeringai. “Kau pasti sudah tahu.”

Ya. Aku memang tahu. Tapi itu bukan alasan utama pertanyaanku. Kadang kita hanya butuh membuka percakapan dengan formalitas bodoh. Sama seperti saat ditanya satpam: “Ada keperluan apa?” padahal sudah jelas kita berdiri depan kantor pos sambil bawa surat.

Aku mulai bercerita. Soal hari-hari yang lewat. Soal nasi uduk yang makin mahal. Soal bos tempat kerja yang hobi bicara soal produktivitas sambil main catur di jam kerja. Soal temanku yang mendadak ikut seminar motivasi dan pulang-pulang menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri.

Awalnya dia malas mendengar. Mulutnya melipat, matanya bosan. Tapi perlahan berubah. Ia mulai tertawa. Kadang mencibir. Kadang memukul meja sambil bilang, “Kau sungguh melakukan itu?! Dasar tolol!”

Aku tertawa juga. Gaya tertawa yang lama tidak keluar. Tawa yang tidak canggung. Tidak dibayar. Tidak dibuntuti rasa bersalah.

“Hahaha! Kau memang tidak pernah belajar ya!” katanya sambil menunjukku.

Aku terus bercerita, sampai dia tiba-tiba mengangkat tangan. “Sudah cukup. Sudah cukup basa-basinya,” katanya sambil memicingkan mata. “Apa alasanmu datang ke sini?”

Aku diam.

“Masih ingin mencoba melenyapkanku?” Ia menyeringai, setengah marah, setengah menantang.

Aku menggeleng pelan.

“Kali ini tidak,” kataku. “Aku sudah lelah.”

Dia terdiam. Senyum sinisnya memudar. Keningnya mengernyit. "Ini... taktik barumu atau...?"

“Tidak. Aku sungguh lelah. Mulai sekarang, kau bisa mengambil kendali. Aku akan duduk di sini. Kau, pergilah keluar.”

Aku menunjuk ke pintu yang sama sekali tidak mencolok. Pintu kayu biasa, dengan gagang bundar.

“Bukankah itu yang selama ini kau inginkan?”

Dia memelototiku. Lama. Seolah ingin memastikan aku tidak sedang bercanda.

“Kau bercanda? Setelah sekian lama? Setelah semua usaha kita... atau usahamu untuk mengurungku di sini?”

Aku mengangguk. Pelan. Tidak meyakinkan. Tapi tidak goyah.

“Pergilah,” kataku pelan. “Aku tak akan menahanmu lagi.”

Suasana mendadak hening. Hening yang begitu nyata, sampai detak jantungku bisa kudengar memantul di dinding ruangan. Kami saling tatap. Lama. Seperti dua pemain catur yang sudah kehabisan langkah tapi tetap enggan mengakui kalah.

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanyanya akhirnya. “Ini pasti jebakan. Aku tak akan...”

“Kau bisa lihat sendiri,” kataku sambil mengangguk ke arah pintu. “Kalau ini jebakan, kau akan tahu saat melewatinya.”

Dia menoleh. Matanya mengikuti arah telunjukku. Pintu itu masih tertutup. Tak ada cahaya di baliknya. Tidak ada tanda apa pun. Hanya pintu.

“Kau sadar kan,” katanya, “ada kemungkinan aku tak akan kembali setelah melewati pintu itu? Dan kau akan terjebak di sini. Selamanya.”

Aku mengangguk. Tidak menjawab apa-apa. Hanya menutup mata. Dan diam.

Hening lagi. Kali ini lebih lama. Sampai akhirnya, aku mendengar suara gesekan. Kursinya ditarik. Ia berdiri.

Lalu langkah kaki.

Lalu... suara pintu terbuka. Lembut. Seperti seseorang yang tahu bahwa pintu ini tidak ingin dibuka dengan kasar.

Suara langkah menjauh.

Pintu tertutup.

Aku membuka mata.

Sendiri.

Tidak ada suara.

Tidak ada dia.

Hanya aku.

Dan keheningan yang menyambut seperti sahabat lama. Keheningan yang tidak kosong, tapi penuh. Penuh ketenangan. Penuh jawaban yang tak perlu diucap. Penuh penerimaan.

Aku menutup mata lagi. Kali ini, bukan untuk tidur. Tapi untuk sekadar... tenang.

Entah sudah berapa lama aku duduk di situ, ketika aku mendengar suara pintu dibuka lagi. Perlahan. Ragu-ragu.

Dia kembali.

Wajahnya tidak seperti biasanya. Tidak ada sinis. Tidak ada ejekan. Tidak ada seringai. Wajahnya lelah. Kusut. Seperti orang baru saja berlari dari badai dan menemukan diri duduk di ruang tunggu rumah sakit tanpa tahu harus menelepon siapa.

Dia duduk di depanku.

“Kau...” katanya pelan. “Bagaimana selama ini kau bisa menghadapi semua itu?”

Suara itu... bukan suara seorang musuh. Tapi suara seseorang yang sedang bingung. Lemas. Takut. Dan... kagum.

Dia mulai bercerita. Tentang dunia di luar ruangan. Tentang kebisingan yang tidak bisa dibungkam. Tentang orang-orang yang bicara tapi tidak mendengar. Tentang rasa sakit yang datang bukan dari luka, tapi dari tatapan orang yang tidak melihat.

Dan ia menangis.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia menangis. Tangis yang tidak keras. Tapi dalam. Tangis yang tidak minta belas kasihan, hanya ingin didengar.

Aku menunggunya selesai. Lalu aku bicara.

“Sekarang kau mengerti, kan? Aku tidak pernah berniat mengurungmu. Aku ingin melindungimu. Dari semuanya.”

Aku berdiri pelan. Kaki-kakiku terasa ringan. Ada perasaan aneh yang membuatku ingin keluar dari ruangan ini. Tapi juga ingin tetap di sini. Bersamanya.

“Kuharap sekarang kau bisa menghargai keheningan ini. Ruangan ini.”

Dia menatapku. Panik.

“Kau mau kembali ke luar sana? Apa kau sudah gila?! Kau bisa tinggal di sini. Denganku. Tidak perlu lagi menghadapi itu semua.”

Aku tersenyum. Senyum kecil. Senyum yang muncul saat akhirnya kita memahami seseorang, walau butuh waktu bertahun-tahun.

“Ruangan ini... hanya bisa ada kalau salah satu dari kita di luar sana. Kalau kita berdua tinggal di sini terlalu lama, ruangan ini akan lenyap. Dan kita berdua tidak akan punya tempat untuk kembali.”

Dia membuka mulut. Menutupnya lagi. Seperti hendak berkata banyak, tapi tak ada yang cukup tepat untuk diucapkan.

Aku mendekat. Memeluknya.

Pelukannya kaku. Tapi tidak menolak.

“Terima kasih telah mencobanya,” bisikku.

Dia tidak menjawab.

Aku berjalan ke arah pintu. Membuka gagangnya. Udara dari luar terasa... biasa saja. Tidak dingin. Tidak panas. Tapi nyata.

“Kali ini mungkin sungguh kunjungan terakhirku,” kataku sambil melangkah keluar.

Tepat saat pintu mulai menutup, aku mendengar suaranya lagi.

“Terima kasih... sudah mencoba memahamiku.”

Aku tersenyum kecil. Menutup pintu perlahan.

Dan kembali.

Ke dunia yang sama.

Tapi dengan cara yang berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...