Langsung ke konten utama

Lowongan Hantu: Ketika Pocong Harus Tinggi, Menarik, dan Siap Selfie

 


“Dulu hantu cuma butuh bikin orang lari. Sekarang, kayaknya hantu juga harus bikin orang pengen foto bareng.”

Hantu yang Diseleksi Layaknya Model Majalah:

Aku baru aja nemu lowongan kerja yang bikin aku garuk-garuk kepala sambil nahan ketawa. Di satu sisi, aku kagum sama kreativitas manusia zaman sekarang. Di sisi lain, aku mikir, “Ini seriusan? Atau aku yang kurang update dengan dunia pekerjaan?”

Jadi begini, ada sebuah rumah hantu di pusat hiburan—tempat anak-anak muda biasanya teriak-teriak sambil pura-pura berani—lagi buka lowongan kerja. Posisi yang ditawarkan: pemeran hantu. Iya, betul, hantu bohongan. Bukan hantu beneran yang gentayangan tengah malam sambil narik-narik rambut orang. Ini hantu profesional yang tugasnya nakut-nakutin pengunjung biar wahana rumah hantunya rame dan viral.

Tapi yang bikin aku mikir dua kali bukan soal jadi hantunya. Bukan juga soal gaji, atau jam kerja, atau lokasi tempat kerjanya. Yang bikin aku mikir: SYARATNYA. Aku ulangi ya, biar makin jelas. Syarat utama buat jadi hantu di rumah hantu itu adalah:

  • Minimal tinggi badan 165 cm,

  • Usia 17 sampai 25 tahun,

  • Dan, yang paling bikin aku meringis sambil geleng-geleng: berpenampilan menarik.

Aku ulangi sekali lagi, biar makin nyantol di kepala kita semua: BERPENAMPILAN MENARIK.

Oke, ini mulai aneh.
Pertanyaan bodoh yang langsung muncul di otakku: Sejak kapan jadi hantu harus cakep?
Ini seriusan?
Apa jangan-jangan aku yang selama ini salah kaprah tentang dunia perhantuan? Apa definisi serem di dunia hiburan modern sekarang sudah bergeser dari serem karena jelek jadi serem karena bikin jatuh cinta?

Coba kita bayangkan bareng-bareng.
Ada pocong tinggi, glowing, dengan muka kinclong kayak model iklan pembersih wajah, jalan di lorong sempit rumah hantu. Eh, pengunjung malah teriak bukan karena takut, tapi karena kesengsem.
“Ih, pocongnya glowing banget, ya…!”
“Cakep banget itu pocong, mana tingginya 175 cm, kayak model!”
Lalu pocongnya senyum malu-malu sambil angkat satu tangan yang dibungkus kain kafan.
Ini bukan serem…
Ini audisi untuk jadi duta skincare.

Syarat tinggi minimal 165 cm juga bikin aku mikir. Sejak kapan tinggi badan jadi syarat penting buat jadi hantu? Apakah kalau ada kuntilanak 150 cm, terus dia berdiri di sudut ruangan sambil ketawa cekikikan, itu kurang serem?
Atau kalau ada pocong 155 cm lompat-lompat di depanmu sambil nyanyi lagu pengantar tidur, terus kamu nggak bakal kaget?
“Ah, santai aja, pocongnya pendek kok. Nggak ada yang perlu ditakutin.”
Lho, kalau serem itu urusan tinggi badan, berarti harimau di kebun binatang juga harus ikut audisi dulu sebelum bisa dibilang menakutkan.

Dan yang paling bikin aku pengen nulis pesan panjang kayak ulasan film adalah syarat usia 17 sampai 25 tahun.
Ini rumah hantu atau komunitas K-Pop sih?
Apa penonton rumah hantu sekarang lebih tertarik sama hantu muda dengan pipi tirus dan rahang lancip, daripada hantu-hantu tua yang biasa nongkrong di film-film horor?
Kalau gitu, nggak heran nanti ada kuntilanak yang tampil sambil bawa handphone, selfie di cermin, lalu update status di media sosial: “Lagi haunting, jangan ganggu dulu yaa~.”

Sungguh aku jadi mikir, standar dunia kerja di Indonesia kadang kayak main tebak-tebakan iseng di grup WhatsApp. Semua bidang minta penampilan menarik, bahkan untuk peran yang sejatinya nggak butuh cakep.
Kayak waktu itu aku lihat lowongan kerja jadi tukang parkir di restoran mahal, ada yang nyantumin syarat: “Berpenampilan menarik dan tinggi minimal 160 cm.”
Tukang parkir, lho. Yang tugasnya berdiri di pinggir jalan, nyamperin mobil, terus bilang, “Mundur… mundur… OKE.”
Mereka bukan model kalender bengkel yang harus senyum manis sambil pegangan kunci pas.

Tapi inilah realita di negeri kita tercinta. Mau daftar kerja apa aja, syarat penampilan seringkali jadi pertimbangan utama.
Jadi admin? Harus menarik.
Jadi barista? Harus menarik.
Jadi kasir minimarket? Harus menarik.
Jadi hantu? Iya, harus menarik.

Ah, entah kenapa aku ngerasa makin lama, standar dunia kerja kita makin jauh dari logika.
Kadang aku jadi mikir, mungkin sebentar lagi ada lowongan jadi penggali kuburan yang syaratnya: tinggi minimal 170 cm, kulit bersih, dan berwajah fotogenik. Karena, siapa tahu, orang yang datang melayat butuh pemandangan yang estetik biar bisa upload story di media sosial.

Sambil mikir-mikir soal syarat jadi hantu yang harus tinggi dan menarik, aku mulai inget-inget pengalaman pribadi yang nggak kalah bikin dahi berkerut. Kayak waktu dulu aku daftar kerja di salah satu perusahaan, posisinya sebagai staf admin biasa—tugasnya data entry, ngurus dokumen, sama sesekali bikin kopi kalau bos lagi pengen. Tapi syarat yang tertera di brosur lowongan itu bikin aku pengen nanya ke langit:
“Tuhan, apakah aku lahir ke dunia ini cuma untuk memenuhi standar tinggi badan 170 cm, kulit bersih, dan wajah menarik?”

Waktu aku datang ke ruang interview, aku malah jadi kayak peserta audisi model dadakan. Ruangan terang benderang, penuh kaca, dan di sana ada tiga orang HRD yang duduk rapi kayak dewan juri pencarian bakat.
Salah satunya, sambil senyum sok ramah, bilang, “Mas Nara, boleh berdiri sebentar ya, kita lihat tinggi badannya.”
Aku yang niatnya mau ngelamar kerja, malah disuruh berdiri sambil diukur-ukur kayak manekin di toko baju.
Dalam hati aku mikir, “Ini interview kerja, apa fitting baju pengantin?”
Tapi ya, aku berdiri juga, sambil pasrah.
Setelah itu, ada pertanyaan yang bikin aku pengen garuk tembok:
“Mas Nara, bisa senyum sedikit ya… biar kita lihat aura wajahnya.”
Waduh.
Senyumku langsung kaku, kayak senyum patung lilin di museum, nahan biar nggak ketawa sendiri.
Mungkin kalau aku senyum terlalu lebar, mereka takut aku jadi kayak Joker.
Atau kalau aku senyum terlalu tipis, mereka mikir aku pemurung.
Sungguh, dunia kerja kadang kayak ajang pencarian bakat tanpa bakat.

Dan aku mulai sadar, standar "menarik" ini seringkali absurd dan penuh tafsir. Karena menarik itu… ya, relatif. Apa definisi menarik? Apakah harus punya lesung pipit? Hidung mancung? Atau kulit secerah sinar lampu jalan?
Padahal kalau dipikir-pikir, kita semua punya potensi untuk bikin orang lain tertarik, tergantung konteksnya.
Contoh nih: pocong dengan wajah manis dan kulit mulus, mungkin menarik di mata netizen yang haus konten.
Tapi coba dia nongol di jalan kecil jam tiga pagi, mendadak berdiri di tengah lampu sorot motor, kamu kira orang akan bilang:
“Wah, glowing banget nih pocong. Bentar, gue selfie dulu!”
Yang ada juga mentalmu langsung lari sambil teriak, “TOLONG… TOLONG…!!”

Aku pernah denger cerita dari temenku, dia kerja di rumah hantu selama seminggu, dan keluar dengan alasan yang bikin aku nggak bisa nahan ketawa.
Dia bilang, “Gue nggak kuat, Nar. Bayangin, tiap malem disuruh acting jadi pocong, tapi harus tetap jaga postur biar kelihatan menarik. Nggak boleh bungkuk, nggak boleh kelihatan letoy, harus ada aura ‘high value’ katanya.”
HIGH VALUE, katanya.
Lah, pocong kok kayak influencer yang jualan skincare.
Pocong, Nar. PO-CONG.
Makhluk yang seharusnya bikin bulu kuduk berdiri, bukan bikin alis naik sambil bilang, “Hmm, glowing juga nih, mau tanya rahasia perawatan wajahnya.”

Kadang aku mikir, kalau standar kerja makin begini terus, mungkin besok-besok lowongan jadi juru parkir juga ada syarat: “Harus punya aura menenangkan dan penampilan fresh look.”
Atau lowongan jadi tukang jagal ayam, ada catatan: “Berwajah ramah, mampu memotong ayam sambil senyum dan sesekali memberikan motivasi pada pelanggan.”
Atau yang lebih lucu lagi: lowongan pemulung, syaratnya “berpenampilan modis, nyaman di kamera untuk kebutuhan dokumentasi.”
Karena kalau semua kerjaan harus "menarik", aku nggak heran kalau besok-besok ada audisi jadi patung di taman kota, syaratnya: “Berpenampilan aesthetic, tinggi minimal 165 cm, dan mampu pose dengan aura misterius.”

Aku mulai mikir, jangan-jangan ini semua bagian dari fenomena masyarakat kita yang terlalu cinta dengan pencitraan.
Semua hal dilihat dari tampilan luar.
Padahal ya… yang penting kan esensinya.
Hantu itu tugasnya nakut-nakutin, bukan bikin jatuh hati.
Tukang parkir tugasnya ngatur kendaraan, bukan bikin pengendara pengen nyantol.
Admin itu tugasnya ngetik data, bukan bikin bos kepincut tiap lihat monitor.
Tapi ya gitu deh… kadang kita memang lebih sibuk ngejar yang keliatan keren di luar, lupa sama inti pekerjaannya.
Jadinya ya begini: lowongan jadi hantu pun harus menarik.

Kalau terus-terusan gini, dunia kerja kita bisa jadi kayak dunia panggung sandiwara. Semua peran butuh wajah cantik, tubuh ideal, dan senyum yang menghipnotis.
Lalu gimana nasib orang-orang yang pengen kerja jadi hantu tapi nggak masuk standar "menarik" ala HRD?
Apa harus ada hantu spesialis buat yang berwajah pas-pasan?
Mungkin nanti bakal ada departemen baru: Hantu Kategori B.
Isinya ya hantu-hantu biasa, yang nggak terlalu glowing, nggak terlalu tinggi, tapi tetep loyal sama kerjaan.
Mereka mungkin nggak akan masuk feed Instagram wahana, tapi mereka yang bikin rumah hantu itu tetep rame. Karena orang datang bukan buat lihat model, tapi buat rasain sensasi seremnya.
Dan kadang, yang bikin serem itu bukan tampang, tapi timing dan suasana.

Jadi, kalau kamu lagi cari kerja dan nemu lowongan yang bikin kamu mikir,
“Loh, ini kok syaratnya kayak cari calon pacar, bukan cari karyawan?”
Tenang.
Kamu nggak sendirian.
Aku juga pernah ada di posisi itu.
Dan aku percaya, di luar semua standar aneh itu, ada pekerjaan yang memang butuh skill, bukan sekadar tampang.
Jadi kalau ada yang bilang,
“Mas, maaf ya, kita cari yang penampilannya menarik.”
Kamu boleh jawab sambil senyum:
“Pak, saya cari kerja, bukan audisi cover boy.”
Karena pada akhirnya, dunia kerja yang sehat itu bukan soal siapa yang paling menarik di foto, tapi siapa yang paling niat dan tangguh di lapangan.

Dan ingat…
Kalau suatu hari kamu lagi jalan di rumah hantu, lalu ada pocong tinggi glowing yang senyum-senyum genit sambil bilang,
“Selamat datang… ada yang bisa saya bantu?”
Jangan heran.
Karena mungkin… dia dulu lolos audisi dengan syarat minimal tinggi 165 cm, usia 17-25 tahun, dan penampilan menarik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...