Langsung ke konten utama

Nasi Kotak, Pisang, dan Kekuatan Sugesti Teman Sebangku

 


Kadang, nasi kotak itu sederhana. Tapi kalau sudah kena omongan teman, rasanya bisa berubah jadi eksperimen rasa aneh yang nggak pernah dipesan lidah.


Tadi siang, kantor mengadakan acara kecil-kecilan.
Biasa. Ada sambutan, ada doa bersama, ada tukang dokumentasi yang sibuk ambil foto sambil nyuruh kita lebih rapat biar kelihatan ramai.
Dan tentu saja, ada nasi kotak.

Nasi kotak ini sudah jadi bagian tak terpisahkan dari setiap acara kantor.
Kalau acara kantor tanpa nasi kotak, rasanya kayak pesta ulang tahun tanpa undangan: hampa.

Begitu acara selesai, semua orang mengincar kotak nasi.
Karena selain isinya, yang ditunggu dari nasi kotak itu adalah... momen membuka kotaknya, sambil berharap isinya lebih mewah dari biasanya.

Kotak nasi kali ini berwarna coklat polos.
Aku buka dengan penuh harap.
Isinya?

Nasi, ayam goreng, sambel, irisan timun kecil, dan satu buah pisang.
Pisangnya sudah agak berbintik hitam, tapi masih dalam batas wajar untuk dimakan tanpa mikir dua kali.

Aku mulai makan dengan tenang.
Ayamnya gurih, sambelnya pas, nasinya pulen.
Aku sudah siap menuntaskan semuanya tanpa drama.

Sampai akhirnya, teman kantor yang duduk di sebelah aku—seorang perempuan yang biasanya pendiam—tiba-tiba berbisik:

“Aduh, kenapa sih kotak nasi pakai dikasih pisang begini? Nanti aromanya masuk ke nasi, nasinya jadi rasa pisang…”

Aku yang tadinya nggak kepikiran apa-apa, langsung berhenti ngunyah.
Sendok menggantung di udara.
Otak mulai bekerja lebih keras daripada waktu nulis laporan bulanan.

Aku mulai mikir:

“Eh iya ya, jangan-jangan ini nasi rasanya udah berubah...”

Suapan berikutnya aku coba dengan hati-hati.
Dan benar saja.
Entah itu beneran atau cuma sugesti, aku merasa ada bayang-bayang rasa pisang yang nyelip di nasi.

Nasinya masih putih, ayamnya masih ayam, sambelnya masih sambel, tapi di lidahku, muncul rasa manis samar-samar, kayak bisikan hantu pisang yang nyasar ke kotak nasi.

Anehnya, aku nggak marah.
Aku nggak jijik.
Aku malah mikir:

“Loh, ternyata nasi rasa pisang nggak buruk juga. Ada manisnya dikit, ada wangi-wanginya.”

Dan aku mulai berimajinasi:
Kalau nasi campur pisang bisa diterima lidah,
mungkin nasi campur durian juga bisa jadi tren kuliner baru?
Atau nasi kotak dengan aroma mangga, sebagai gebrakan inovasi katering kantor?

Yang aku pelajari dari kejadian itu adalah, kadang rasa itu bukan cuma soal lidah.
Kadang, rasa itu lebih banyak dipengaruhi pikiran.
Kalau lidah kita sudah siap nerima nasi ayam sambel, tapi pikiran kita disuguhi kata-kata “pisang”, ya yang muncul di lidah adalah nasi ayam sambel rasa pisang.

Sugesti itu kuat.
Seperti kalau kita dikasih tahu, “Hati-hati, ini sambelnya pedas banget.”
Padahal sambelnya biasa aja, tapi lidah kita sudah keburu panas duluan.

Aku akhirnya habiskan juga kotak nasi itu sampai tandas.
Pisangnya aku simpan buat nanti sore.
Dan aku berjanji dalam hati, kalau besok-besok makan nasi kotak lagi, aku akan tutup kuping.
Biar rasa yang masuk ke lidah itu murni rasa makanan, bukan rasa dari omongan teman sebelah.

Karena kalau lidah kita gampang goyah cuma karena ucapan orang, bisa-bisa nanti makan bakso rasa gosip, makan soto rasa nyinyiran.

Rasa Itu Kadang Bukan dari Makanan, Tapi dari Cerita yang Menyelimutinya

Seperti hidup.
Kadang kita menikmati sesuatu sampai ada yang komentar:

“Kok kamu seneng sih sama itu?”
Atau
“Ah, itu biasa aja, nggak spesial.”

Dan sejak itu, kita mulai ragu.
Padahal tadinya kita bahagia.
Padahal tadinya kita puas.

Jadi, hari itu aku belajar:
Nikmati dulu.
Jangan biarkan omongan orang mencampuri rasa yang kita miliki.
Karena rasa itu bukan cuma soal lidah,
tapi juga soal seberapa kuat kita percaya pada apa yang kita nikmati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...