Langsung ke konten utama

Sore, Roti, dan Ego yang Beratnya Kayak Kulkas Dua Pintu

 


Kadang, yang ngajarin kita berdamai bukan psikolog, bukan buku motivasi, tapi seekor semut kecil… yang lewat di saat kita lagi terlalu gengsi buat minta maaf.


Hari Minggu sore. Matahari pelan-pelan tenggelam di balik atap rumah-rumah rendah, warnanya kuning keemasan, tapi terasa seperti kuning kunyit basi. Angin bertiup malas seperti pegawai kantoran hari Sabtu yang dipaksa ikut pelatihan motivasi.

Aku duduk sendirian di bangku taman. Bangku besi yang catnya mulai mengelupas, meninggalkan jejak-jejak karat seperti luka lama yang belum benar-benar sembuh. Di sebelah kanan ada sepasang kekasih yang lagi main tebak-tebakan lagu, dan di kiri, seorang bapak-bapak tertidur sambil mendengkur, entah karena lelah atau sudah pasrah.

Tanganku memegang sepotong roti. Roti tawar isi coklat.

Roti itu kubeli bukan karena lapar. Tapi karena aku tidak tahu harus ngapain setelah bertengkar hebat dengan pacar yang belum resmi jadi mantan.

Iya, kami belum putus. Tapi udah saling diam kayak dua batu nisan yang berdiri bersebelahan. Sama-sama keras kepala, sama-sama berharap yang lain yang minta maaf duluan. Padahal… yang salah bisa dibilang lima puluh lima persen aku, empat puluh lima persen dia. Tapi aku tetap nunggu dia buka suara dulu.

Karena ego. Sesuatu yang aneh, nggak kelihatan bentuknya tapi beratnya bisa bikin orang nyungsep sendirian.

Aku menggigit roti itu pelan.

Gigitan pertama rasanya hambar. Pinggirannya keras. Coklat di dalamnya cuma di bagian tengah. Rasanya seperti hubungan kami sekarang: kelihatan manis dari luar, tapi dalamnya cuma dikit dan susah dicari.

Aku duduk diam. Menatap pohon mahoni di depanku. Dedaunannya melambai pelan kayak mau nyindir, “Lembut dikit napa, sesekali…”

Lalu mataku tertuju pada sesuatu di bawah bangku.

Seekor semut. Kecil. Hitam. Kurus. Gerakannya lincah, tapi canggung. Seperti anak kecil yang baru belajar naik sepeda di jalan berlubang.

Semut itu berhenti sejenak di bawah kakiku, seperti sedang menimbang arah hidup. Lalu dia mendekat ke remah roti yang jatuh dari gigitan pertamaku tadi. Remah itu cukup besar dibandingkan tubuhnya. Kayak orang ngangkat kulkas dua pintu sendirian di jalan menanjak.

Tapi semut itu nekat. Ia mulai menyeret remah itu pelan-pelan. Aku menonton dengan penuh perhatian. Nggak ada yang lebih seru sore ini. Aku tidak tahu harus merasa kasihan atau kagum.

Sampai aku ngomong sendiri, pelan, “Kalau kamu bisa angkat remah seberat itu, kenapa aku nggak bisa angkat ego sendiri, ya?”

Semut itu tidak menjawab.

Tentu saja. Dia semut, bukan psikolog. Tapi kehadirannya seperti menyindir diam-diam, tanpa harus pakai kata-kata.

Aku nyengir sendiri. Sambil meremas bungkus roti yang mulai kusut di tanganku.

Lalu aku mengelus pergelangan tangan kiriku. Di sana, tidak ada gelang, tidak ada jam, tidak ada apapun. Tapi entah kenapa aku merasa… ada yang berat di situ. Seperti beban yang tidak terlihat.

Jam di hatiku mungkin masih berdetak, tapi sudah tidak seirama dengan dia.

**

Kita bertengkar soal hal yang tidak penting.

Dia bilang aku nggak pernah benar-benar mendengarkan.

Aku bilang dia terlalu sering membuat asumsi.

Dia bilang aku susah diajak terbuka.

Aku bilang dia terlalu suka membaca pikiran.

Semua kalimat yang kami lontarkan malam itu seperti pisau-pisau kecil yang dilempar dengan akurasi tinggi. Tidak langsung membunuh, tapi bikin luka ngilu yang nggak kelihatan di kulit.

Lalu kami sama-sama diam.

Dan itu… lebih menyakitkan dari kalimat apapun.

**

Kembali ke taman. Angin mulai mendingin. Roti tinggal separuh. Semut sudah hilang, entah ke mana, membawa remah yang terlalu besar untuk badannya tapi tetap dia usahakan.

Aku membuka ponsel.

Tidak ada pesan masuk.

Layarnya gelap. Seperti suasana hati kami.

Tapi aku tahu, aku juga belum kirim pesan apapun.

Aku menatap layar cukup lama sampai cahaya sore menyentuh permukaan kacanya, membuat wajahku sendiri terlihat samar. Mata sembab, seperti habis nonton sinetron tujuh jam tanpa jeda.

Aku mulai berpikir… selama ini, aku terlalu sering ingin menang dalam percakapan. Tapi lupa, hubungan bukan soal menang atau kalah. Tapi soal saling pengertian yang nggak selalu harus dibicarakan.

Kenapa ya… kita lebih mudah berteriak saat marah, tapi susah sekali untuk berkata, “Aku juga salah…”

Aku ketik pelan-pelan.

Kamu sibuk? Aku masih kesel, tapi lebih kesel lagi kalau kita harus diem-dieman terus. Bisa ngobrol sebentar nggak?

Kirim.

Pesan terkirim. Centang dua. Tapi belum biru.

Aku menatap langit.

Warna jingganya perlahan memudar.

**

Aku jadi ingat hari pertama kami jadian.

Di warung nasi goreng, tempat paling tidak romantis se-kota ini. Tapi dia senang. Karena katanya, “Aku lebih suka yang murah tapi nyata, daripada mewah tapi pura-pura.”

Kami makan nasi goreng berdua sambil rebutan kerupuk.

Dan hari itu, aku merasa… hidup tidak butuh banyak hal untuk bahagia.

Cukup seseorang yang mau duduk di sebelahmu, walaupun kursinya goyang.

**

Hari ini, aku duduk sendirian.

Tapi tidak sepenuhnya kosong.

Ada setengah roti di tangan kiri.

Ada semut yang pernah lewat.

Dan ada hati yang pelan-pelan… mulai bisa memaafkan.

**

Jam di ponselku menunjukkan pukul lima lewat sepuluh.

Tapi entah kenapa, waktu rasanya lambat sekali.

Atau mungkin aku saja yang terlalu sibuk berharap.

Angin sore mulai lembut.

Di kejauhan, seorang ibu lewat sambil mendorong sepeda anaknya. Anak itu tertawa, jatuh, lalu bangkit lagi. Aku iri. Pada anak kecil yang jatuh, tapi tidak gengsi untuk bangkit dan tertawa lagi.

Aku mengecek ponsel.

Centangnya masih dua.

Tapi belum biru.

Tidak apa-apa.

Tidak semua jawaban harus datang cepat.

Kadang… yang penting itu niat untuk memulai.

**

Aku berdiri.

Membawa setengah roti itu ke tempat sampah.

Tapi sebelum benar-benar membuang bungkusnya, aku melihat lagi ke bawah bangku.

Dan di sana, ada semut yang berbeda. Kali ini, tidak sendiri.

Ia datang dengan teman-temannya. Mereka bersama-sama menarik sisa remah yang tadi terlalu berat.

Dan berhasil.

Aku tersenyum. Pelan.

Karena hari ini aku belajar dua hal.

Pertama, berdamai dengan seseorang tidak selalu soal benar atau salah. Kadang cuma perlu satu orang yang cukup waras untuk bicara duluan.

Kedua, kita bisa belajar banyak hal dari semut. Bahkan tentang cinta.

**

Di perjalanan pulang, aku kembali membuka ponsel.

Centang dua itu… sudah biru.

Tidak ada balasan. Tapi tidak masalah.

Karena memulai itu bukan soal dapat jawaban.

Tapi tentang memberi ruang.

Dan mungkin, kalau beruntung, cinta itu seperti semut yang kembali — tidak datang sendirian.

Tapi datang… bersama harapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...