Langsung ke konten utama

Datang Tepat Waktu, Tapi di Hari yang Salah


Kadang kita terlalu percaya diri, sampai lupa cek ulang hal sepele yang bikin hidup berantakan.


Aku selalu percaya kalau hidup itu penuh kejutan. Tapi ternyata, kejutan itu bukan cuma datang dari orang lain. Kadang, yang paling sering bikin kaget… ya diri kita sendiri.

Contohnya kejadian satu setengah bulan lalu, waktu aku harus terbang dari Jakarta ke Surabaya. Ceritanya sederhana: aku ketinggalan pesawat. Tapi penyebabnya? Bukan karena macet, bukan karena ketiduran, bukan juga karena ada kawanan alien nangkep aku di jalan.

Aku ketinggalan pesawat karena aku ngerti jam, tapi… aku nggak ngerti hari.

Jadi gini. Karena rencana keberangkatan ini mendadak, aku nggak punya banyak pilihan, setelah mencari-cari akhirnya aku dapat tiket penerbangan tanggal 20 April, jam 00.30. Di pikiranku yang entah kenapa agak lemot hari itu, aku langsung mikir, “Oke, berarti nanti aku ke bandara tanggal 20 April malam, jam 21.30. Supaya banyak waktu buat santai, nggak usah buru-buru.”

Sampai akhirnya, di hari H, tepat 20 April jam 21.30, aku dengan santainya masuk ke bandara, bawa koper, jalan pelan-pelan, sambil dengerin pengumuman penerbangan yang nggak ada habisnya.

Aku jalan kayak pahlawan kesiangan. Liat orang-orang lari-lari kecil, aku malah nikmatin suasana bandara. Dan yang paling bikin aku percaya diri, aku sempat mampir ke toko roti buat beli cemilan. Dalam hati, aku mikir, “Tenang, pesawat masih lama.”

Aku duduk, ngunyah roti, sambil ngecek jadwal penerbangan di ponsel. Nah, ini momen yang bikin aku pengen cubit pipi sendiri.

Mataku ngeliat jadwal:
Penerbangan Surabaya, 20 April 00.30 – STATUS: Departed

Aku baca pelan-pelan, karena otakku kayak perlu waktu buat nyambungin kata-kata itu.

“Departed.”

Aku ulang lagi.

“Departed.”

Rasanya kayak lagi nonton film drama, pas tokohnya baru sadar kalau dia sudah ditinggal sama cintanya. Tapi ini bukan film. Ini nyata. Dan yang ditinggal? Ya aku sendiri.

Aku diem, mata melotot ke layar. Dalam hati, ada percakapan random yang muncul:

“Eh, Nar, itu pesawat kamu, kan?”

“Iya, kayaknya. Kok statusnya Departed?”

“Lah, katanya terbangnya 20 April jam 00.30? Sekarang 20 April jam 21.30. Masih di hari yang sama dong?”

Dan di situlah aku nyadar… Pesawat jam 00.30 itu bukan penerbangan malam di tanggal 20, tapi justru dini hari di antara 19 dan 20. Harusnya aku ke bandara 19 April jam 21.30. Bukan 20 April malam!

Setelah sadar, aku langsung lari ke counter maskapai. Napasku ngos-ngosan, keringet dingin mulai keluar, kayak maling yang baru ketahuan.

“Mbak, pesawat ke Surabaya yang ini, jam 00.30, masih ada nggak ya?” tanyaku dengan suara gemetar sambil nunjuin tiket.

Setelah periksa tiketku, Mbak counter itu cuma senyum tipis, senyum yang rasanya kayak tamparan halus. “Maaf, Pak. Itu pesawatnya sudah berangkat tadi pagi.”

“Tadi pagi?”

“Iya, Pak. Jam 00.30 itu dini hari tadi. Bukan malam ini.”

Aku diem. Otak kayak lagi restart. Semua suara di bandara rasanya hilang. Aku cuma ngeliat Mbak itu yang senyumnya makin lebar, kayak dia sudah terbiasa menghadapi manusia-manusia bego kayak aku.

Dan aku cuma bisa bilang, “Oh… iya… maaf, Mbak.” Lalu jalan menjauh, sambil bawa koper yang rasanya makin berat.

Aku duduk di kursi tunggu, diem, ngeliat koper di kakiku, dan mikir:

“Gimana bisa ya, Nar? Kamu kan udah sering naik pesawat. Masa salah paham soal jam segitunya?”

Tapi semakin aku mikir, semakin aku sadar… mungkin aku terlalu yakin sama diriku sendiri. Terlalu percaya kalau “tanggal 20 April jam 00.30” itu artinya tanggal 20 malam. Padahal itu artinya tanggal 19 malam menjelang 20.

Kadang, masalah dalam hidup itu nggak datang dari luar. Tapi dari keyakinan yang salah di kepala kita.

Aku yakin aku ngerti jadwal, ternyata nggak. Aku pikir aku pinter, ternyata cuma pinter ngarang-ngarang di kepala.

Dan yang paling nyesek, aku harus beli tiket baru, yang harganya… jangan ditanya. Kalau harga tiket itu diibaratkan makanan, aku kayak beli mie instan, tapi harganya sama kayak nasi tumpeng lengkap dengan ayam, telur, sambal, dan kerupuk.

Seminggu berselang, aku balik dari Surabaya dan cerita ke temanku yang setengah india, Jamal, dia cuma ngakak sambil bilang, “Nar, lu ini kayak orang yang mau berenang, tapi malah bawa parasut.”

Aku cuma bisa ketawa pahit. Karena ya gimana lagi, aku memang salah.

Temen-temen lain juga ikut-ikutan. Ada yang bilang, “Nar, lu itu kayak orang yang ngerti cara nyalain kompor, tapi nggak paham cara masak.”

Ada yang bilang, “Nar, lu pinter, tapi suka kelewatan.”

Ada yang malah nyeletuk, “Nar, kayaknya kamu perlu bawa papan tulis kecil kalau pergi. Tulis jam dan tanggal gede-gede, biar nggak salah.”

Aku cuma bisa diem sambil nyengir, karena semakin aku melawan, semakin aku kelihatan bodoh.

Akhirnya, aku belajar satu hal: kadang hidup itu bukan soal ngerti jam, tapi ngerti konteks.

Tanggal 20 April jam 00.30 itu artinya malam 19 April menjelang 20, bukan malam 20 April menjelang 21.

Dan kadang, kita terlalu sibuk ngerasa pinter, sampai lupa cek ulang hal sepele.

Jadi ya, mulai sekarang, aku nggak mau sok yakin lagi. Kalau ada jadwal, aku baca ulang. Kalau ada rencana, aku cek dua kali. Karena ketinggalan pesawat itu bukan cuma soal rugi duit, tapi juga soal harga diri yang tercabik-cabik di depan petugas counter.

Dan buat kalian yang lagi baca ini… semoga nggak ada yang ngalamin kayak aku. Karena percaya deh, rasanya… kayak mau masuk ke lubang tikus, tapi nggak muat karena badan kegedean.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...