Langsung ke konten utama

Sisa yang Memilih Pulang

 


Kadang, yang mati adalah kita. Tapi yang pulang... sisa yang lupa bagaimana caranya jadi manusia.


BANYAK hal yang bisa membuat seseorang jatuh cinta: senyum manis, tatapan lembut, atau kuah mie instan yang dicurahkan dengan penuh kasih sayang. Tapi hari itu, yang membuat Arif hampir jatuh cinta—adalah sabit. Tepatnya, sabit besar berkilau yang diayun pelan oleh seorang perempuan berpakaian hitam elegan, dengan wajah cantik seperti putri bangsawan dan sepasang mata merah delima.

Sungguh, andai sabit itu tidak sebesar pintu lemari, mungkin Arif sudah langsung menyatakan cinta dan mengajak ngopi.

Sayangnya, hari itu dia sedang mati.

Mati. Persis begitu. Tidak dalam arti “lelah banget rasanya pengin mati”, bukan pula “malu rasanya pengin ditelan bumi”. Tapi mati yang sebenarnya. Terbaring kaku di tanah, satu kaki bengkok ke arah yang seharusnya tidak bisa dicapai oleh makhluk hidup normal.

"Maaf kalau aku lancang," kata perempuan itu sambil memutar sabitnya seperti orang pamer ketrampilan memotong rumput, "tapi bisakah kau ikut bersamaku dengan tenang?"

Arif tidak langsung menjawab. Sulit bagi seseorang yang baru saja jatuh dari tebing, lalu melihat tubuhnya sendiri tergeletak seperti ketupat isi tulang, untuk langsung merespons dengan logis.

Dia menoleh ke arah tebing. Tinggi. Curam. Gelap. Dan licin. Gabungan sempurna untuk sebuah ide liburan yang bodoh.

Seharusnya malam itu Arif tidur di dalam tenda, mendengarkan suara jangkrik sambil rebahan manja, bukan jadi tumpukan protein dingin di bebatuan. Tapi teman-temannya malah ribut soal foto siluet dari puncak. “Biar feed liburan kita beda!” kata mereka.

Feed. Feed apaan. Mau makan juga harus disuapi, itu feed. Dia cuma ikut naik karena kalah suara. Satu-satunya suara yang menolak adalah miliknya sendiri, dan suara itu... sekarang mengambang di antara dunia.

"Aku tadi tanya, bisakah kau ikut dengan tenang?" ulang si perempuan.

Arif mengernyit. "Berarti aku boleh menolak?"

Perempuan itu tertawa pelan. Tidak manis. Tidak menyeramkan juga. Tapi jenis tawa yang bikin bulu kuduk berdiri karena terlalu tenang.

"Ya. Untuk kali ini, kau boleh memilih," katanya sambil duduk di batu seperti orang mau piknik. "Kau bisa hidup kembali."

Arif mengedip. Lalu mengedip lagi. Tapi penglihatan tidak berubah. Masih perempuan dengan sabit. Masih tubuhnya sendiri terbujur di tanah. Masih kaki kiri yang membentuk sudut yang hanya bisa dicapai oleh boneka rusak.

"Benarkah? Tidak mungkin semudah itu."

"Kau pintar. Aku suka itu. Tapi memang tidak semudah itu. Bagian sulitnya datang setelah kau hidup kembali."

Perempuan itu menjelaskan panjang lebar. Penyelamat baru akan datang dua hari lagi. Itu pun setelah sinyal nyangkut di telepon salah satu temannya yang baru sadar Arif nggak balik-balik. Dua hari itu harus ia lewati sendiri, tergeletak di antara batu dan akar pohon, menahan sakit, kedinginan, dan—ini yang paling penting—melawan kebosanan tanpa ponsel.

"Kalau kau tidak kuat, kita akan bertemu lagi. Tapi waktu itu, aku tidak akan bertanya lagi. Kau langsung ikut."

Arif mengangguk pelan. Itu bisa diterima. Lalu ia diam sebentar.

"Dan... itu saja?"

"Oh, tidak," jawab perempuan itu sambil menunjuk ke arah semak. "Kau juga akan mulai bisa melihat mereka."

Arif menoleh. Dan melihatnya.

Makhluk itu berdiri sekitar dua meter dari tubuhnya. Tinggi, kurus, dan tampak seperti... sesuatu yang dicuci tapi tidak pernah dijemur. Kulitnya lembab. Matanya seperti bekas dipoles dengan spidol. Dan cara dia menatap tubuh Arif... seperti anak kos menatap ayam goreng terakhir.

"Kalau aku hidup kembali, aku harus melihat mereka?"

Perempuan itu mengangguk santai. "Ya. Tapi jangan khawatir. Mereka tidak selalu menyerang. Kadang mereka cuma... menempel. Atau membisikkan hal-hal yang bikin kau jadi pesimis seumur hidup."

Arif memandangi makhluk itu. Makhluk itu membalas dengan lirikan seperti bilang: “Ayo dong, bangun. Aku udah ngidam manusia dua hari.”

Akhirnya, Arif menghela napas—yang entah napas siapa, karena dia sudah mati—dan berkata pelan, "Aku tidak mau hidup seperti itu."

Perempuan itu tersenyum lebar. Senyum yang tidak menjanjikan apa-apa, tapi seolah berkata, "Aku tahu kamu bakal bilang begitu."

"Aku selalu benar," katanya, lalu mengulurkan tangan kanannya.

Baru saat itulah Arif menyadari, tangan itu tidak ditutupi kulit. Hanya tulang. Jari-jari putih cemerlang, seperti tulang ayam setelah direbus terlalu lama.

Arif ragu-ragu, tapi akhirnya menyalami tangan itu. Cahaya terang memancar dari titik sentuhan. Tidak panas. Tidak menyakitkan. Hanya... terang. Seperti lampu belajar yang terlalu jujur.

"Baik. Sekarang ikuti aku."

"Begitu saja? Kupikir akan lebih dramatis."

"Tidak semua kematian punya efek khusus," katanya santai.

Arif menoleh sekali lagi ke arah tubuhnya. Kali ini, makhluk tadi sudah tidak ada. Hanya tubuhnya yang tergeletak. Tapi ada yang aneh. Tubuh itu mulai bergerak. Gemetar.

Arif mundur setengah langkah. "Tunggu. Bukankah sudah kubilang aku tidak ingin hidup seperti itu?"

Perempuan itu masih tersenyum. "Kau tidak mau. Tapi yang lain... tidak keberatan hidup seperti itu."

"Apa maksudmu?"

Perempuan itu berbalik, berjalan pelan sambil sabitnya menyeret tanah dan menimbulkan suara seperti sendok digeret ke wajan.

"Manusia yang mengalami kecelakaan... suka bilang mereka hilang ingatan," katanya.

Arif mengerutkan dahi. "Ya?"

"Menurutmu, mereka sungguh melupakan siapa diri mereka? Atau mereka cuma... kehilangan bagian yang ingin mereka buang?"

Sunyi.

Angin malam berembus ringan, tapi seolah membawa bisikan dari akar pohon yang tak pernah tidur.

Arif tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung, menatap tubuhnya yang kini... duduk. Tidak berdiri. Tidak merangkak. Tapi duduk, pelan, seperti orang tua yang baru saja sadar mereka tertinggal di angkot.

Tubuh itu memandangi sekeliling. Menyentuh lututnya. Menepuk pelan dada. Lalu—dan ini bagian yang membuat kepala Arif berdenyut—tertawa.

Tidak lebar. Tidak lepas. Tapi cukup membuat bulu tengkuknya menegak.

Perempuan itu berhenti. Menoleh.

"Aku harus pergi," katanya. "Aku ada janji bertemu dengan penyair yang terlalu sering menulis puisi sedih. Sekarang dia tahu, ternyata cinta tidak bisa ditukar dengan pantun."

Arif masih terpaku.

Tubuhnya yang sudah mati... bangkit. Tapi bukan dia yang di dalamnya. Bukan pikirannya. Bukan perasaannya. Hanya... sisa.

Dan si sisa itu kini berjalan, pincang, pelan, meninggalkan tempat jatuhnya. Seperti tahu jalan pulang, seperti tahu harus apa.

"Siapa dia?"

Perempuan itu tidak menjawab langsung. Hanya menatapnya sebentar, lalu berkata,

"Kadang manusia bisa memilih untuk mati. Tapi lebih sering, mereka cuma... dikosongkan."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...