Aku masih ingat jelas kejadian ini. Malam hari, sekolah sepi, dan kami bertiga — aku, Farhan, dan Bima — nekat menginap di ruang kelas, dengan alasan kegiatan ekstrakurikuler yang sebetulnya sudah selesai sejak jam empat sore.
Tapi dasar anak SMP, logika kami waktu itu seperti sandal jepit tertukar — tetap dipakai meski jelas-jelas tidak cocok.
Kami bilang ke guru piket bahwa kami sedang mengerjakan tugas kelompok penting. Guru piket percaya, karena wajah kami polos dan membawa map tebal penuh kertas kosong.
Padahal niat kami cuma satu: main jelangkung.
Kenapa Jelangkung? Kenapa Tidak Main Dam-Daman Saja?
Pertanyaan bagus.
Waktu itu, kami sedang mabuk ketertarikan dengan hal-hal gaib.
Bukan karena ingin kesurupan atau ikut sekte sesat, tapi karena... bosen.
Anak SMP zaman dulu, kalau bosan, pilihannya cuma tiga:
-
Lempar penghapus ke tembok
-
Bikin pesawat kertas dari buku pelajaran
-
Main pemanggil arwah karena katanya bisa tahu siapa yang naksir kita
Jelangkung adalah solusi dari semua kegabutan.
Alatnya murah, tidak perlu listrik, dan katanya, bisa dipakai buat komunikasi lintas alam.
Kalau sekarang ada orang yang bilang “ayo cari sinyal”, yang mereka maksud pasti tentang ponsel pintar atau gawai lainnya.
Tapi waktu itu, kami juga cari sinyal — sinyal dari dunia sebelah.
Persiapan yang Lebih Serius dari Ujian Nasional
Kami bawa alat-alat lengkap.
Batok kelapa dari dapur rumah Farhan.
Lidi dari belakang kelas.
Spidol, karena katanya harus digambari wajah biar setannya betah.
Kain putih kecil buat dijadiin jubah.
Dan tentu saja, selembar kertas penuh huruf dan angka, disusun melingkar seperti keyboard malas.
Itu adalah papan oujia versi Indonesia.
Sederhana, tradisional, dan bisa dipakai ulang buat tugas Seni Budaya.
Kami juga bawa lilin, karena lampu kelas harus dimatikan. Dan konon, setan lebih senang datang kalau suasana remang-remang dan ada lilin berkedip-kedip seperti mau mati.
Intinya, kami serius.
Lebih serius daripada waktu ngerjain PR Matematika.
Ritual Dimulai: Jelangkung, Jelangkung...
Kami duduk melingkar, kaki bersila, wajah penuh harap, dan nafas ditahan-tahan karena Bima kentut diam-diam saat lilin dinyalakan.
Batok kelapa sudah berdiri tegak di tengah lingkaran, tangan-tangannya berupa dua batang lidi yang kami genggam bersama-sama.
Dan mulailah Farhan membaca mantra:
“Jelangkung, jelangkung, datang tak dijemput, pulang tak diantar…”
Kami mengulanginya tiga kali. Lalu...
Diam.
Hening.
Tidak ada angin.
Tidak ada bunyi.
Tidak ada pintu terbuka tiba-tiba.
Tidak ada suara perempuan tertawa dari balik tirai.
Yang ada cuma... keringat dingin.
Dan Bima yang mengaku tangannya mulai kesemutan.
Kami bertiga mulai saling pandang.
Aku mulai ragu.
Farhan masih serius.
Dan Bima... mulai menggigil karena angin malam masuk dari jendela yang lupa ditutup.
Tiba-Tiba, Boneka Itu Bergerak
Entah sugesti, atau memang ada yang datang, tapi batok kelapa itu benar-benar bergerak.
Pelan.
Maju sedikit.
Lalu mundur.
Lalu berhenti di huruf “N”.
Kami semua menegang.
N... untuk siapa?
Farhan bertanya,
“Namamu siapa?”
Lalu boneka itu bergerak lagi.
“N”
“U”
“R”
Nur?
Kami saling pandang.
Bima gemetar.
Lalu Farhan lanjut:
“Kamu dari mana?”
Boneka bergerak lagi.
“B”
“E”
“K”
“A”
“S”
“I”
Nur dari Bekasi.
Wah, kayak judul sinetron.
Pertanyaan Bodoh yang Harusnya Tidak Ditanyakan
Kami mulai keterusan.
Farhan bertanya lagi:
“Kenapa kamu meninggal?”
Dan itu...
Itu adalah pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan oleh tiga bocah SMP yang belum kuat mental dan masih suka nyuri gorengan waktu buka puasa bersama.
Boneka itu bergerak cepat.
“T”
“A”
“N”
“G”
“G”
“A”
“L”
TANGGAL.
Kami bingung.
Tewas karena tanggal?
Apa... kepalanya kejatuhan kalender?
Atau mungkin... setannya bingung.
Kami pun bingung.
Dan akhirnya memutuskan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengakhiri percakapan lintas dimensi.
Farhan membaca mantra pamit,
“Jelangkung, jelangkung, pulanglah dengan damai, jangan ganggu kami lagi.”
Tapi... batok kelapa tidak berhenti bergerak.
Malam Itu Kami Pulang Tidak Dengan Nyawa Penuh
Karena tiba-tiba, lampu kelas berkedip.
Jendela tertutup sendiri.
Dan Bima mulai menangis.
Bukan menangis karena kerasukan.
Tapi karena dia lupa pipis sejak sore.
Kami bertiga langsung membongkar lingkaran, mencabut lilin, membalik batok kelapa, dan lari keluar kelas sambil teriak lirih karena takut guru piket dengar.
Kami tidur di ruang OSIS.
Bukan karena lebih aman.
Tapi karena ada lampunya terang.
Pagi harinya, kami pura-pura seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi kami nggak bisa lupa, kalau Bima... ngompol.
Kalau Dipikir Sekarang, Konyol Juga
Bagaimana mungkin kami percaya bahwa batok kelapa bisa jadi saluran komunikasi?
Bahwa tulis-tulisan huruf di kertas bisa jadi semacam pesan singkat dunia lain?
Tapi ya begitulah anak-anak.
Kami tumbuh dalam budaya yang percaya bahwa dunia ini luas — dan yang terlihat hanya sebagian kecilnya.
Jelangkung, seperti halnya tradisi lisan lainnya, bukan sekadar permainan.
Ia adalah bentuk pencarian.
Pencarian atas rasa penasaran, atas misteri, atas sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan pelajaran IPA.
Dan anehnya, meskipun takut, kami ketagihan.
Bukan karena ingin berkomunikasi dengan arwah, tapi karena itu membuat kami merasa... hidup.
Jelangkung: Papan Pesan Sebelum Ada Gawai
Kalau dipikir-pikir, jelangkung itu seperti pesan singkat di masa lalu.
Kita tanya, dia jawab.
Kadang jawabannya kabur.
Kadang terlalu jujur.
Kadang malah bikin kita mikir sendiri.
Ini mirip dengan zaman sekarang, ketika kita tanya ke mesin pencari:
“Kenapa mantan tiba-tiba ngehubungi?”
Dan yang muncul adalah artikel tidak relevan, berjudul, “5 tanda kamu belum move on.”
Bedanya, kalau salah tanya ke jelangkung, kita bisa kesurupan.
Kalau salah tanya ke internet, kita cuma salah arah.
Refleksi dari Sebuah Batok Kelapa
Sekarang aku sudah dewasa.
Sudah tidak main jelangkung.
Sudah tidak tidur di ruang OSIS karena takut.
Tapi kadang aku rindu... masa itu.
Masa di mana rasa takut datang dari hal-hal yang sederhana.
Masa di mana kegelapan bukan karena tagihan belum dibayar, tapi karena lilin kecil dan keberanian besar.
Masa di mana batok kelapa jadi media komunikasi.
Dan tulis-tulisan tangan di kertas jadi jendela ke dunia lain.
Masa di mana kami bertiga, bocah-bocah tolol penuh semangat, percaya bahwa ada arwah bernama Nur dari Bekasi yang meninggal karena... tanggal.
Sampai sekarang, kami masih membicarakan malam itu.
Kami tertawa.
Tapi juga sadar, bahwa pengalaman itu — seaneh dan sekonyol apapun — adalah bagian dari tumbuh.
Dan siapa tahu, di luar sana,
Nur juga sedang tertawa.
Atau... masih menunggu,
di balik batok kelapa,
di antara huruf-huruf yang belum sempat disusun menjadi kalimat utuh.

Komentar
Posting Komentar