Langsung ke konten utama

Tolong Jangan Balas Lambaian Itu

 


Sebagian kasus tidak butuh pelaku, tidak butuh bukti, tidak butuh sidik jari. Hanya butuh keberanian... untuk tidak menoleh.


MENJADI polisi generasi ketiga dalam keluarga terdengar keren—sampai kau sadar bahwa yang kau hadapi hari ini bukan perampok, bukan bandar narkoba, bukan juga kecelakaan lalu lintas. Tapi nenek-nenek yang ngamuk di salon.

Aku, Arnold. Atau kalau kata teman-temanku, "Arnold si darah biru". Julukan itu bukan karena aku keturunan kerajaan atau pernah pipis warna ungu, tapi karena kakek dan ayahku polisi, dan sekarang aku meneruskan garis ketegasan keluarga itu... dengan menangani kasus air keran yang katanya berubah jadi darah.

Bersamaku adalah Juna. Rekanku selama tiga tahun terakhir. Kami sudah pernah menghadapi banyak hal bersama: tukang parkir yang ngamuk, sapi kabur dari truk, dan emak-emak rebutan kursi di posyandu. Tapi tidak ada yang sekonyol ini.

Di depan kami sekarang, berdiri tegak seorang nenek-nenek dengan wajah penuh tekad, mata menyala, dan nada suara seperti penyiar radio yang lupa mengecilkan tombol volume.

“Nak Polisi! Aku sungguh tidak mengada-ada! Airnya merah! Darah! Aku bisa mencium baunya! Amis! AMIS!”

Kami berada di sebuah salon kecil yang baru buka sekitar seminggu lalu. Nama salonnya cukup manis: "Anggun dan Bugar". Tapi situasinya hari ini lebih mirip "Panik dan Menjerit".

Pemilik salon berdiri di sampingku, wajahnya lesu seperti nasi dingin yang kelamaan ditinggal kipas. Dia tidak menyanggah, tapi juga tidak membenarkan. Yang dia lakukan cuma senyum kecut dan helaan napas seperti baru gagal undian motor.

Aku mencatat sesuatu di buku kecilku, hanya agar terlihat profesional. Isinya? Garis-garis tak jelas dan satu tulisan besar: “KENAPA SAYA DI SINI.”

Kasus ini adalah yang ketiga kalinya kami dipanggil ke salon ini. Pertama kali lima hari lalu, laporan dari pekerja: air keran berubah jadi darah saat sedang mencuci rambut pelanggan.

Saat kami datang, airnya sudah kembali bening. Tidak ada darah. Tidak ada rambut merah. Tapi baunya? Ya, agak amis. Seperti ada seseorang yang pernah menyembelih ikan di situ dan lupa bersihin tangan. Kami periksa tangki air dan saluran pipa. Bersih. Tidak ada sisa pembantaian.

Kasus kedua datang keesokan harinya. Laporannya: lampu kedap-kedip dan semua pintu serta jendela tidak bisa dibuka. Oke, ini mulai aneh.

Waktu kami datang, pemilik salon lagi panik di luar, mencoba membuka pintu dengan tenaga penuh. Seolah ada lima harimau lapar di dalam.

Begitu aku pegang gagang pintu... terbuka. Mulus. Seperti membuka lemari buku.

Belasan orang langsung berhamburan keluar, ada yang menangis, ada yang berteriak, dan satu ibu-ibu histeris sambil peluk hairdryer.

Kami masuk. Tidak ada lampu kedap-kedip. Tidak ada jendela macet. Tidak ada penampakan. Hanya ruang salon biasa dengan aroma sampo dan keringat.

Teknisi listrik dipanggil. Diperiksa. Nihil.

Dan sekarang... kasus ketiga.

Seorang pelanggan mengaku mendengar jeritan dari kamar mandi. Jeritan perempuan kesakitan. Kami datang, periksa semua kamar mandi—hasilnya seperti ujian Matematika waktu SMP: nihil, kosong, dan bikin frustasi.

Nenek yang sekarang berdiri di depan kami adalah orang yang melaporkan kejadian itu. Dan dia tidak puas karena merasa tidak didengar.

“Aku tidak gila!” teriaknya sambil menunjuk semua orang.

Pemilik salon akhirnya buka suara.

“Pak Arnold… sejujurnya… ada beberapa kejadian lain yang belum kami laporkan…”

Aku dan Juna saling pandang. Bukan karena kaget, tapi karena kehabisan sabar.

“Ada barang yang suka pindah sendiri. Alat-alat salon hilang, lalu muncul di tempat nggak masuk akal. Kemarin, sisir listrik kami ketemu di kulkas. Masih nyala.”

Aku menelan ludah.

“Ada juga yang bilang melihat perempuan berdarah-darah lewat di cermin.”

Pemilik salon menghela napas panjang. Napas panjang ketiga puluh dua, mungkin.

“Aku tahu, ini di luar kapasitas polisi. Karena itu aku memutuskan untuk menutup salon sementara.”

Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya, aku merasa bersyukur mendengar kata "tutup".

“Maaf sudah merepotkan.”

Aku tersenyum kaku. “Tidak apa-apa. Sudah kewajiban kami…”

Di luar, matahari mulai turun. Aku dan Juna pamit. Nenek itu masih berdiri di depan salon, menatap kami seperti kami dua butir ketan basi yang tidak mampu menghadirkan keadilan.


TIGA hari berlalu.

Aku dan Juna sedang patroli malam. Rute biasa. Udara dingin. Jalanan sepi. Di radio, suara statis. Di kepala, suara pertanyaan.

“Jun,” kataku, “menurutmu hantu itu beneran ada?”

Juna diam sebentar. Lalu jawab, “Nenekku bilang, lebih baik kita pura-pura mereka nggak ada.”

Aku mengangguk pelan.

Mobil kami melintasi jalan tempat salon itu berdiri. Di kejauhan, terlihat ada seseorang di depan salon. Berdiri. Tidak bergerak. Lalu mengangkat tangannya. Melambai ke arah kami.

Refleks, aku angkat tangan. Tapi belum sempat mengangkat penuh, tangan kiriku ditangkap Juna.

“Jangan,” katanya pelan.

Aku menoleh ke arahnya. Matanya membelalak. Tangannya gemetar. Kakinya menginjak gas.

“Itu bukan pemilik salon,” katanya dengan suara serak.

Mobil melaju lebih cepat. Melewati salon.

Aku menoleh ke spion.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa di depan salon.

Tapi rasa dingin tidak hilang dari tengkukku.


Yang kuingat berikutnya:

Kami tidak bicara sepanjang jalan.

Radio menyala, tapi tidak ada suara.

Dan aku tidak berani menoleh ke kursi belakang… sampai Juna membawa kami ke tempat paling ramai di kota.

Karena malam itu, di mobil patroli yang seharusnya hanya berisi dua orang…

Aku merasa ada tiga napas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...