Langsung ke konten utama

Pagi-Pagi Buka Jendela, yang Muncul Bukan Matahari, Tapi Nisan

 


Kadang yang bikin kita nggak nyaman itu bukan karena horor, tapi karena batas hidup dan mati yang terlalu dekat.


Beberapa hari lalu, temen kantorku—sebut saja namanya Soni—curhat.

Tapi bukan curhat soal kerjaan. Bukan soal bos yang kalau lewat bikin deg-degan kayak pengawas ujian. Bukan juga soal gaji yang udah masuk tapi langsung pamit dari rekening kayak pacar yang cuma numpang makan tapi nggak mau kenalan sama orang tua.

Dia curhat soal tetangganya.

Dan ini bukan sembarang tetangga. Tetangganya ini... baru-baru ini nguburin jenazah di halaman rumah sendiri.

Iya. Di halaman. Rumah. Sendiri.

Soni cerita sambil nyeruput teh manis di pantry kantor, tapi ekspresinya kayak abis nonton film dokumenter yang plot-nya terlalu jujur buat ditelen.

“Gua sih nggak takut ya,” katanya. “Tapi tiap pagi buka jendela, yang nongol... bukan cahaya mentari. Tapi batu nisan.”

Awalnya aku kira dia bercanda.

Tapi ekspresi Soni serius.

Dia tinggal di pinggir kota, daerah perkampungan. Jalanannya masih tanah merah, suara ayam tetangga bisa jadi jam weker alami, dan anak-anak kecil masih main bola plastik di lapangan yang setengahnya sawah, setengahnya kubangan air hujan.

Satu sisi, suasananya damai.

Tapi sejak kuburan itu muncul, dia bilang... suasana damainya berubah jadi “damai... yang bikin mikir panjang.”

“Kalau cuma lewat sih nggak masalah, Ra. Tapi ini tiap nyapu halaman, tiap jemur kasur, tiap buka jendela dapur… ngelihat itu terus.”

Aku bayangin, Soni berdiri di jendela. Badan masih setengah ngantuk. Pengen ngelihat burung merpati atau matahari pagi. Tapi yang nongol malah nisan warna abu-abu, dengan bunga yang udah setengah kering, dan tanah yang masih basah.

Rasanya kayak buka kulkas pengen minum susu, tapi yang keliatan malah bayangan tagihan listrik.

Lucunya, ini bukan cerita horor.

Soni juga bilang, dia nggak diganggu. Nggak ada kejadian aneh. Nggak ada penampakan. Nggak ada suara “huuuuu” dari balik pagar.

Nggak ada sama sekali.

Tapi tetap... nggak nyaman.

Dan aku ngerti banget.

Karena kadang, yang bikin kita resah itu bukan hal gaib, bukan setan, bukan jin bertopi.

Tapi... batas-batas antara hidup dan mati yang terlalu deket.

Kalau biasanya kita cuma mikir soal kematian pas ada kabar duka atau denger pengajian dari masjid sebelah, sekarang... dia ngadepin itu tiap pagi. Bukan sebagai konsep, tapi sebagai visual. Fisik. Nyata.

Kuburan itu nempel ke pagar. Jaraknya cuma selangkah dari tembok dapur.

Dan walaupun orangnya udah nggak ada, kehadirannya kayak masih di situ. Diam. Tapi terasa.

Aku jadi mikir.

Di kota-kota besar, kita terbiasa semuanya tertata rapi. Ada zona rumah. Ada zona makam. Ada zona industri. Ada zona untuk warung kelontong. Bahkan ada zona yang khusus buat iseng tapi pura-pura serius (biasa disebut "reses anggota dewan").

Tapi di perkampungan, aturan itu cair.

Tanah keluarga bisa dipakai buat apa saja. Termasuk... nguburin orang tercinta. Mungkin karena alasan ekonomi. Mungkin karena tradisi. Mungkin juga karena... ya, memang begitu dari dulu.

Dan aku nggak mau langsung ngehakimi.

Siapa tahu keluarga itu memang nggak punya pilihan lain. Atau mungkin, mereka merasa, dekat dengan makam keluarga justru bikin mereka tenang.

Tapi tentu saja, buat tetangganya—yang bukan bagian dari keluarga itu—ceritanya beda.

Kayak Soni.

Dia cuma pengen hidup normal. Pagi-pagi ngopi sambil dengerin ayam tetangga. Jemur handuk tanpa mikir, “Eh, ini bayangannya siapa ya?”

“Lu ngomong nggak ke mereka?” tanyaku.

“Belum. Gua bingung harus mulai dari mana. Masa gua bilang, ‘Maaf ya, tolong kuburannya digeser sedikit?’”

Aku paham dilema itu.

Karena masalah kayak gini tuh serba salah.

Kalau diam, nggak nyaman.

Kalau ngomong, takut nyakitin hati orang.

Belum lagi kalau keluarga itu marah. Dibilang nggak punya empati. Dibilang kurang tenggang rasa. Dibilang terlalu ikut campur.

Padahal, yang diminta cuma satu: perasaan tenang di rumah sendiri.

Rumah itu kan bukan sekadar tembok dan atap.

Tapi tempat buat istirahat.

Tempat buat nyimpan rasa aman.

Tempat buat tidur tanpa takut nabrak nisan pas jalan ke dapur malam-malam.

Aku pikir-pikir lagi, rasa nggak nyaman itu bisa datang dari hal yang... kelihatannya sepele.

Nisan di halaman tetangga.

Bayi yang nangis terus tengah malam.

Tukang servis pompa air yang suka teriak “pompaaa pompa air!” dari corong suara kayak orator revolusi.

Atau suara motor berknalpot bogem jam 2 pagi.

Dan semuanya bukan hal kriminal.

Tapi tetap bisa bikin resah diam-diam.

Karena kadang, kita bukan takut... tapi jenuh.

Jenuh karena harus kompromi terus.

Jenuh karena harus nerima hal-hal yang sebenarnya bisa dibicarakan.

Jenuh karena orang lain merasa itu biasa, tapi buat kita... itu gangguan.

Dan yang paling sulit: jenuh yang nggak bisa diomongin, karena kita takut dianggap lebay.

Aku bilang ke Soni:

“Kalau kamu emang ngerasa nggak tenang, ya mending dibicarain pelan-pelan. Bukan buat nyalahin mereka. Tapi buat ngasih tahu... bahwa kamu juga pengen merasa nyaman di rumahmu sendiri.”

Dia cuma mengangguk. Katanya nanti dicoba.

Lalu, obrolan kami pindah ke topik lain.

Tentang tugas kantor. Tentang print yang macet. Tentang nasib tanggal muda yang udah kayak tanggal tua karena semua harga naik tapi gaji tetep anteng kayak patung di taman.

Tapi malamnya, aku masih mikirin hal itu.

Tentang bagaimana batas hidup dan mati bisa begitu tipis.

Tentang bagaimana kita menyikapi sesuatu yang nggak salah, tapi mengganggu.

Tentang bagaimana kadang, kita cuma butuh sedikit ruang.

Ruang untuk bernapas.

Ruang untuk merasa aman.

Ruang untuk tahu bahwa... jarak itu penting. Bahkan dalam hal-hal yang nggak kelihatan.

Dan besok paginya, waktu aku buka jendela kamar, aku bersyukur yang nongol pertama adalah... matahari.

Bukan nisan.

Bukan bayangan.

Bukan tanda tanya besar soal hidup dan mati.

Hanya matahari. Biasa. Tapi cukup.

Karena ternyata, kenyamanan itu bukan soal keindahan luar biasa.

Tapi soal rasa wajar yang tidak mengganggu.

Dan rasa itu... mahal harganya.

Jadi kalau kamu hari ini bisa duduk tenang di rumahmu. Bisa nyapu halaman tanpa was-was. Bisa buka jendela dan yang masuk cuma angin pagi, bukan renungan eksistensial...

Syukuri.

Karena di zaman sekarang, kenyamanan itu bukan hak dasar.

Tapi kemewahan kecil yang kadang datang dalam bentuk paling sederhana:

Langit cerah.

Suara burung.

Dan halaman yang kosong.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...