“Kadang, cinta bisa melewati maut. Tapi kalau yang dilewati itu kuburan dan makhluk tak kasat mata, kita perlu teman yang bisa lari kencang.”
Aku percaya bahwa cinta sejati itu indah. Tapi kalau cinta itu datang bersama hantu, lalu hantu itu masih cinta, dan yang dicintai belum sadar bahwa yang mencintai sudah wafat... itu bukan indah. Itu menyeramkan.
Dan itulah kenapa Pee Mak menjadi salah satu film paling unik yang pernah kutonton.
Karena dia memadukan tiga hal yang tidak seharusnya berada dalam satu piring:
Cinta, komedi, dan kematian.
Dan anehnya... rasanya cocok.
Seperti makan ketan campur sambal:
tidak lazim, tapi begitu masuk mulut...
“Lho, kok bisa enak, ya?”
Pee Mak adalah film Thailand tahun 2013 yang konon diangkat dari legenda rakyat.
Tapi kalau kamu berharap film ini akan serius seperti cerita sejarah zaman kerajaan, kamu akan kecewa.
Karena dari awal sampai akhir, film ini seperti... naik odong-odong berhantu.
Menegangkan, tapi lampunya tetap kelap-kelip.
Seram, tapi ada musik dangdut di latar belakang.
Bikin jantung deg-degan, tapi mulut tetap ketawa.
Dan yang membuat semuanya makin lucu:
Karakter-karakternya tidak siap menghadapi kenyataan.
Karena bagaimana pun, cinta memang bisa mengalahkan banyak hal.
Tapi tidak dengan logika.
Ceritanya bermula saat Mak, si tokoh utama, kembali ke kampung halaman setelah berperang.
Dia tidak pulang sendirian.
Dia membawa empat sahabat yang wajahnya seperti kombinasi ketakutan, kelaparan, dan kelebihan energi yang tidak tahu harus dipakai untuk apa.
Mak ingin bertemu kembali dengan istrinya, Nak, dan anak mereka yang baru lahir.
Rumah kecil di pinggir sungai menanti dengan suasana yang... sejuk tapi mencekam.
Karena dari awal, kamu akan merasa ada yang tidak beres.
Tetangganya sepi.
Istrinya terlalu tenang.
Anaknya... tidak pernah terdengar menangis.
Dan sahabat-sahabat Mak mulai curiga:
Apakah benar Nak masih hidup?
Atau... ada sesuatu yang lebih menyeramkan dari itu?
Film ini tahu betul cara membuat kita tidak nyaman sambil tertawa.
Bayangkan empat orang pria dewasa, semua ketakutan setengah mati, tapi tetap bertengkar soal siapa yang harus lebih dulu mengintip rumah tetangga.
Atau bayangkan, kamu sedang makan malam, dan tiba-tiba sendok terjatuh ke lantai.
Lalu yang mengambilkan sendok bukan orang yang sedang duduk bersamamu...
Tapi tangan lain yang muncul dari bawah meja.
Dan mereka tetap makan.
Tetap diam.
Karena mungkin, berpura-pura tidak terjadi apa-apa lebih mudah...
daripada mengakui bahwa kamu sedang makan malam dengan arwah.
Sejujurnya, dari semua film horor yang pernah kutonton, Pee Mak adalah satu-satunya yang membuatku ingin berteriak dan tertawa di saat bersamaan.
Karena ia tidak hanya mengandalkan hantu yang muncul tiba-tiba.
Tapi juga wajah-wajah ketakutan yang terlalu dramatis sampai membuatku berpikir,
“Kalau ini film dokumenter, pasti kameramennya ikut lari.”
Tapi di balik semua kekacauan itu, ada satu hal yang membuat film ini tetap terasa hangat:
Cinta Mak pada Nak.
Dia tidak peduli pada desas-desus.
Tidak peduli pada ketakutan teman-temannya.
Tidak peduli pada tanda-tanda aneh di rumahnya.
Dia hanya ingin kembali pada istri dan anaknya.
Dan kalau harus mencintai arwah pun, dia siap.
Aku pernah bertanya pada diriku sendiri:
Kalau suatu hari aku kembali dari bepergian jauh, lalu mendapati bahwa orang yang kutinggalkan sudah tiada, tapi dia menyambutku seperti biasa...
Apakah aku akan memeluknya?
Atau pura-pura ketiduran sampai pagi?
Mak tidak berpura-pura.
Dia memilih untuk percaya.
Dan itu membuat film ini tidak hanya kocak dan menegangkan...
tapi juga menyentuh.
Karena cinta yang tidak logis, kadang justru yang paling jujur.
Adegan yang paling tidak kulupakan adalah ketika empat sahabat Mak akhirnya memutuskan untuk memberitahu Mak bahwa istrinya... sudah meninggal.
Mereka mencoba berbagai cara.
Dari menunjukkan surat kematian,
menceritakan kabar dari tetangga,
sampai akhirnya... membuat pertunjukan bayangan pakai tangan untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.
Dan entah kenapa, pertunjukan tangan itu malah jadi sangat menyedihkan.
Karena di balik komedi, ada kesedihan yang tidak bisa ditertawakan.
Mak tetap diam.
Dan di balik diamnya, dia mengakui satu hal yang sangat berat:
Dia sudah tahu.
Tapi dia memilih untuk diam.
Karena hatinya masih di situ.
Bersama Nak.
Meskipun jasad Nak... sudah tidak bisa disentuh.
Pee Mak adalah film yang aneh.
Tapi keanehannya bukan tanpa alasan.
Ia membuat kita tertawa, lalu tiba-tiba menggigil.
Ia membuat kita menyepelekan, lalu tiba-tiba merasa bersalah karena tertawa terlalu keras.
Karena di balik wajah-wajah lucu itu, ada kesedihan yang terlalu sunyi untuk dijelaskan.
Aku pernah bermimpi bertemu orang yang sudah tidak ada.
Dalam mimpi itu, kami duduk, makan bersama, seperti biasa.
Tidak ada yang aneh.
Sampai aku bangun, dan merasa...
Mungkin, mimpi itu bukan hanya mimpi.
Dan itulah kekuatan Pee Mak.
Ia membuat batas antara hidup dan mati menjadi... kabur.
Ia menunjukkan bahwa rasa kehilangan bisa membuat seseorang tetap tinggal.
Bukan karena dia tidak sadar sudah tiada.
Tapi karena orang yang ditinggal... belum siap melepaskan.
Film ini juga lucu karena sangat manusiawi.
Empat sahabat Mak menggambarkan kita semua yang tidak siap menghadapi hal-hal tak masuk akal.
Mereka lari, jatuh, sembunyi di balik guling, dan saling dorong agar yang lain lebih dulu menghadapi hantu.
Tapi pada akhirnya, mereka tetap kembali.
Karena persahabatan tidak diukur dari siapa yang paling berani,
tapi siapa yang tetap bertahan meskipun ketakutan.
Dan yang paling lucu adalah:
Mereka tidak pernah benar-benar siap.
Tapi mereka tetap di sana.
Bersama Mak.
Bersama kenyataan bahwa cinta, meski datang dalam wujud paling menyeramkan, tetap patut diperjuangkan.
Pee Mak bukan sekadar film horor.
Bukan sekadar komedi.
Bukan sekadar kisah cinta.
Tapi ia adalah pengingat...
bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan air mata.
Kadang, kehilangan datang dalam bentuk tangan yang tetap menggenggam.
Meski tangan itu dingin.
Dan tidak berdetak.
Aku menonton film ini di malam hari.
Sendirian.
Lampu kamar mati.
Cuma cahaya dari layar ponsel yang menyinari wajah.
Dan entah kenapa, setelah film selesai, aku tidak bisa langsung tidur.
Bukan karena takut.
Tapi karena pikiranku sibuk bertanya:
“Kalau suatu hari aku tiada, apakah aku akan dikenang dengan tawa... atau dengan doa?”
Dan di sanalah letak kekuatan terakhir Pee Mak.
Ia membuat kita berpikir,
bahwa hidup bukan hanya tentang siapa yang masih ada,
tapi juga tentang siapa yang masih tinggal... di dalam hati,
meskipun jasadnya sudah lama pergi.
Jadi kalau kamu bertanya padaku,
“Apakah Pee Mak layak ditonton?”
Aku akan menjawab dengan tenang:
Layak. Bukan hanya untuk ditonton.
Tapi juga untuk diingat.
Karena cinta sejati kadang tidak memilih tempat.
Tidak memilih wujud.
Tidak memilih waktu.
Dan kalau cinta itu datang...
dengan mata kosong, kulit pucat, dan langkah mengambang...
mungkin, yang bisa kita lakukan hanya satu:
Peluk.
Ucapkan terima kasih.
Lalu biarkan dia pergi.

Komentar
Posting Komentar