Dulu waktu kecil, aku suka banget keramaian.
Semakin dewasa, aku cuma pengen ditemani satu dua orang yang nggak bikin pengen nutup kuping.
Waktu umur belasan, aku kira kebahagiaan itu datang dari keramaian.
Semakin banyak temen, semakin seru.
Semakin penuh tongkrongan, semakin eksis.
Semakin sering ditarik sana-sini, semakin merasa penting.
Tapi makin ke sini…
makin sering aku duduk diam di pojokan dan bertanya:
“Apa iya? Apa ini bentuk hidup yang aku inginkan?”
Karena makin bertambah usia, aku sadar satu hal penting yang dulu nggak masuk daftar pencapaian hidup: Aku cuma ingin dikelilingi oleh orang-orang baik.
Bukan yang Paling Pintar. Bukan yang Paling Lucu. Tapi… Baik.
Aku pernah kenal orang pintar.
Diskusinya tajam.
Omongannya berisi.
Setiap kalimatnya seperti kutipan dari buku filsafat.
Tapi tiap abis ngobrol sama dia, aku merasa... capek.
Bukan karena nggak ngerti, tapi karena aku merasa bodoh.
Aku juga pernah kenal orang lucu.
Bikin semua orang ketawa.
Bercandanya berani, sering menembus batas-batas yang... sebenarnya, menyakitkan.
Dan aku pernah kenal orang sukses.
Kerjaannya mapan.
Kehidupannya mewah.
Tapi tiap kali aku duduk bareng dia, aku merasa hidupku seperti kutang sobek di tumpukan baju baru.
Akhirnya aku sadar, aku nggak butuh semua itu.
Yang Aku Butuh: Orang Baik. Yang Hatinya Hangat.
Orang yang kalau datang,
nggak bikin ruangan jadi ribut,
tapi bikin ruangan terasa tenang.
Orang yang bisa diajak ngobrol tanpa harus mikir keras.
Tanpa harus takut dikoreksi.
Tanpa harus ngatur napas karena deg-degan salah omong.
Orang yang kalau kita salah,
dia nggak langsung nyerang.
Tapi nanya pelan,
“Kenapa kamu milih begitu?”
Dan tiba-tiba... kita merasa dimengerti.
Padahal barusan kita bikin kesalahan.
Semakin Dewasa, Aku Ingin Jadi Diri Sendiri… Tanpa Harus Merasa Kurang
Ada orang-orang yang kehadirannya bikin kita merasa harus tampil sebagai versi terbaik diri kita.
Harus tampil menarik.
Harus punya cerita keren.
Harus ngomong pintar.
Harus terlihat kuat, walau dalam hati… baru aja nangis karena sendal jepit putus.
Dan ada juga orang-orang yang…
kalau datang, kita malah bisa buka semua topeng.
Ngobrol sambil selonjoran.
Ketawa karena hal sepele.
Diam bareng tanpa rasa canggung.
Dan pulang dari pertemuan itu…
kita merasa:
“Wah, aku bisa jadi aku, dan dia nggak pergi.”
Itu harta.
Orang-Orang yang Bikin Capek
Ada jenis manusia yang nggak banyak bicara,
tapi tiap kata-katanya seperti bor yang menggali rasa aman kita.
Ada juga yang nyalanya besar,
tapi begitu dia pergi…
suasananya jadi lebih damai.
Mereka yang suka menyelipkan sindiran di balik pujian.
Yang matanya menilai lebih dulu sebelum telinganya mendengar.
Yang kehadirannya seperti suara kipas angin rusak:
terdengar terus, tapi bikin pusing.
Dan dulu, aku pikir aku harus kuat menghadapi mereka.
Harus sabar.
Harus tetap baik.
Tapi sekarang, aku tahu:
menjaga jarak itu bukan dosa.
Menjaga Jarak Itu Bentuk Sayang ke Diri Sendiri
Dulu aku takut dibilang jahat kalau mulai menjaga jarak.
Aku pikir:
“Nanti dikira aku sombong.”
“Nanti dia tersinggung.”
Tapi sekarang aku belajar:
ada harga yang lebih mahal daripada perasaan orang lain:
yaitu ketenangan diri sendiri.
Dan aku mulai belajar mengucapkan:
“Aku nggak bisa terus bareng kamu.
Karena tiap kali aku bersamamu,
aku kehilangan bagian dari diriku yang aku sayang.”
Semakin Dewasa, Aku Nggak Cari Sensasi. Aku Cari Tenang.
Aku nggak butuh acara kumpul besar tiap minggu.
Nggak perlu pesta meriah tiap ada yang ulang tahun.
Nggak harus nongkrong sampai subuh demi dibilang asik.
Aku lebih suka duduk bareng satu-dua orang,
minum teh hangat,
dan ngobrol soal hal-hal sederhana.
Soal kucing yang kabur.
Soal nasi goreng langganan yang makin mahal.
Soal mimpi yang belum selesai.
Dan di tengah obrolan itu,
ada rasa hangat yang muncul tanpa harus dijelaskan:
“Ini. Ini yang aku butuhkan.”
“Ini. Ini yang aku butuhkan.”
Bukan Banyak Teman, Tapi Teman yang Bikin Rasa Utuh
Aku dulu ingin punya banyak teman.
Sekarang aku tahu:
punya satu saja teman yang benar-benar hadir, itu sudah cukup.
Yang bisa duduk diam di samping kita saat kita tidak bisa berkata-kata.
Yang tidak bertanya, tapi ada.
Yang tidak menghakimi, tapi mengerti.
Yang tidak selalu hadir setiap hari,
tapi saat hadir… rasanya seperti rumah.
Teman seperti itu jarang.
Tapi bukan berarti nggak ada.
Dan ketika ketemu… jaga. Jangan biarkan hilang.
Kedamaian Itu Dimulai dari Pilihan: Siapa yang Kamu Dekatkan
Dulu aku pikir damai itu soal tempat.
Harus tinggal di kampung.
Harus punya rumah dekat sawah.
Harus punya ruang kerja dengan lampu remang dan lilin aromaterapi.
Ternyata nggak.
Damai itu soal siapa yang duduk di sampingmu.
Siapa yang kamu izinkan mengisi harimu.
Siapa yang kamu jawab pesannya, walau lagi capek.
Karena ternyata,
kita bisa berada di tempat paling indah,
tapi kalau ditemani orang yang salah,
hatimu tetap kacau.
Aku Tidak Butuh Banyak. Aku Butuh Baik.
Semakin dewasa, aku sadar bahwa hidup ini terlalu pendek untuk dijalani dengan lelah karena orang lain.
Dan aku mulai memilih:
bukan yang paling pintar, bukan yang paling sukses,
tapi yang hatinya hangat dan tidak menghakimi.
Karena pada akhirnya, yang membuat hidup terasa utuh bukanlah keramaian...tapi kedekatan.
Yang tidak bising. Tapi jujur.
Dan kalau suatu hari nanti aku tutup usia, aku ingin dikenang bukan sebagai orang hebat.
Tapi sebagai orang yang membuat orang lain merasa… lebih ringan.

Komentar
Posting Komentar