Langsung ke konten utama

Alasan Paling Rasional Kenapa Aku Makin Yakin Pengen Childfree

 


Banyak orang bilang alasan childfree itu egois.
Padahal... mungkin kami cuma takut kalau tiba-tiba ada "teman imajiner" nongkrong di ruang tamu jam tiga pagi.


Aku tuh sudah lama punya keinginan untuk hidup tanpa punya anak.

Bukan karena benci anak, bukan karena trauma, bukan pula karena terlalu cinta kebebasan.
Lebih kepada... insting bertahan hidup.

Karena aku tahu batas mental dan spiritualku.
Dan aku juga tahu bahwa dalam kehidupan berumah tangga, anak bukan hanya hadir sebagai penerus keturunan, tapi juga sebagai pembawa kejutan.

Masalahnya, kejutan ini kadang bukan kejutan manis kayak ulang tahun,
tapi kejutan serem yang bikin kamu pengen tanya ke Tuhan: “Yakin ini bagian dari rencana-Mu?”

Beberapa minggu lalu, aku ngobrol sama temanku.
Namanya Iksan. Usia sepantaranku.
Sikapnya masih seperti baru jadi ayah walaupun anaknya sudah umur lima tahun.
Dan dia tuh tipe orangtua yang... ya gitu lah.
Kalau anaknya makan sendiri, dia upload.

Kalau anaknya nyanyi lagu yang salah lirik, dia rekam.

Kalau anaknya gambar cacing dua garis, dia bilang, “Lihat nih, anakku kayaknya ada bakat seni!”

Aku sih cuma bisa senyum.
Karena di usia itu, semua anak memang kelihatan jenius.
Cuma butuh waktu lima tahun lagi buat kita sadar mereka bukan Einstein.
Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya adalah... cerita yang dia bagikan waktu kami ngobrol di warung bakso Pak Kumis.

“Anakku gambar sesuatu di ruang tamu,” kata Iksan.

“Wah, bagus dong,” aku bilang, sambil nyeruput kuah bakso tetangga.

“Awalnya iya...” katanya, dengan wajah yang mulai berubah kayak orang abis lihat nilai raport anak tetangga lebih tinggi.

Jadi begini ceritanya:

Anaknya lagi duduk anteng, gambar di karpet.

Gambarnya keluarga mereka. Ayah, ibu, dirinya sendiri.
Lengkap dengan anjing peliharaan, rumah warna biru, dan matahari senyum di pojokan.

Aku membayangkan itu kayak ilustrasi di buku cerita anak-anak yang dijual di minimarket: polos, sederhana, menggemaskan.

Tapi...

Di gambar itu, ada satu sosok tambahan.
Dan ini bukan tokoh keluarga.
Bukan anjing.
Bukan tetangga.
Bukan siapa pun yang dikenal Iksan.

Sosok ini digambar dengan bentuk tubuh manusia.

Tapi mukanya... kata Iksan...
“Kalau dilihat dari sudut manapun, pasti kamu bakal mikir: ini makhluk dari dunia sebelah.”

Matanya besar. Tapi bukan besar yang lucu.
Lebih ke besar yang... kayak salah cetak.
Senyumnya panjang. Kayak dipaksa.
Dan tangannya panjang sebelah, seolah sedang nunjuk tapi nggak jelas ke arah mana.

Iksan waktu itu mencoba santai.
Dia tanya ke anaknya:

“Eh, ini siapa?”

Dan jawaban anaknya membuat nasi goreng yang dia makan sore itu hampir keluar lagi dalam bentuk utuh.

“Oh itu... temanku.”

Aku paham, anak-anak memang sering punya teman imajiner.
Dulu aku juga pernah.
Tapi temanku waktu kecil itu bentuknya seperti bantal.
Namanya Antok. Sering kupeluk dan kusembunyiin di lemari.

Teman imajinerku itu tidak pernah memelototi siapa pun.

Tidak pernah punya tangan sepanjang kereta.
Dan yang pasti... tidak pernah muncul di gambar sebagai makhluk yang siap menagih hutang nyawa.

Tapi anak Iksan beda.

Waktu ditanya kenapa gambar temannya serem banget,
jawaban anak itu bikin suasana rumah berubah dari ceria jadi film dokumenter mistis:

“Ayah jangan ngomong gitu... dia suka marah kalau dikatain jelek.”

Sumpah. Itu adalah kalimat yang kalau didengar di film,
kamera langsung zoom ke wajah ayahnya,
dilanjut dengan musik latar: ngiiiing...

Bayangkan ya, kamu lagi santai sore, liat gambar anakmu.

Tiba-tiba, kamu tahu bahwa makhluk yang digambarnya adalah entitas yang...

  • Bisa tersinggung

  • Bisa marah

  • Dan... bisa dengar percakapan manusia

Aku bilang ke Iksan, kalau aku yang jadi dia, detik itu juga aku ambil koper, keluar rumah, dan ganti nama.

Kalau malamnya kamu denger suara kursi geser sendiri?

Kalau kamu bangun tidur dan anakmu lagi duduk di ruang tengah sambil ngomong sendiri?

Kalau kamu lihat gambar itu mendadak berubah posisi di dinding?

Siapkah kamu?

Bahkan pertanyaanku yang paling penting adalah:
Apakah teman anakmu itu ikut makan juga?

Kalau iya... siapa yang nyediain sendoknya?

Aku mulai sadar satu hal.
Childfree itu bukan cuma pilihan gaya hidup.
Tapi juga pilihan keamanan spiritual.

Karena anak-anak, tanpa sadar, membuka celah dimensi yang tidak bisa kita pahami.
Mereka kadang bisa melihat hal-hal yang kita syukuri tidak bisa kita lihat.

Dan mereka... tidak menganggap itu hal aneh.

Bayangkan kamu punya anak, dia lagi main di halaman, kamu tanya:

“Main sama siapa, nak?”

Dan dia jawab:

“Main sama Mbak Merah. Dia tinggal di atas pohon mangga.”

Selesai.

Aku akan pindah rumah. Tanpa pamit.

Mungkin ini bukan soal anak.
Mungkin ini soal manusia yang terlalu terburu-buru menganggap semua hal sebagai wajar.
Padahal, di balik hal-hal kecil yang kita anggap lucu,
bisa jadi ada sinyal halus dari dunia yang ingin kita abaikan.

Anak kecil adalah radar paling sensitif.
Mereka belum dilatih untuk menyangkal.
Mereka belum punya nalar untuk menyaring.
Makanya, mereka bisa melihat dan merasakan... lebih dari yang bisa dijelaskan.

Dan karena itulah,
aku memilih untuk... hidup tenang.

Kalau Ada yang Bilang Aku Egois Karena Childfree...

Biar aku jawab begini:

Bukan aku tidak suka anak-anak.
Aku suka anak-anak.

Aku cuma... nggak sanggup ngadepin temannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...