“Antrean bukan soal siapa cepat, tapi siapa yang masih punya hati untuk menunggu.”
Negara +62 dan Kutukan Antrean
Antrean seharusnya menjadi bukti bahwa manusia sudah beradab.
Dari rimba ke kota, dari gua ke gedung bertingkat—semua itu cuma bisa dicapai kalau kita sepakat satu hal sederhana: giliran.
Tapi entah kenapa, di negeri ini, konsep giliran seolah masih dianggap teori.
Sesuatu yang boleh ditaati… kalau sedang tidak buru-buru.
Kalau lagi pengen cepat? Ya potong saja.
Aku pernah berpikir, mungkin harus ada mata pelajaran khusus di sekolah:
Ilmu Antrean dan Kesabaran Dasar.
Isi kurikulumnya bisa beragam—dari mengenal garis antrean, memahami siapa yang duluan, sampai cara mengatur nafas saat diserobot orang yang mengaku "cuma sebentar."
Sayangnya, sampai hari ini, yang terjadi adalah:
Sebagai warga yang sering turun ke jalan, warung, dan tempat umum, aku punya cukup banyak pengalaman seputar potong antrean.
Dan yang lebih parah, kadang orang yang menyerobot itu bahkan tidak merasa bersalah.
Mereka bahkan merasa berhak.
Seperti kejadian beberapa tahun lalu, saat aku antre di sebuah warung pecel lele.
Kisah 1: Pecel Lele dan Pria Berlidah Bumbu
Malam itu, aku berdiri manis di belakang tiga orang yang juga sedang menunggu giliran.
Warungnya kecil, tapi ramai.
Aromanya menggoda.
Sambal di cobek tampak menggeliat merah menyala seperti sedang merayu pelanggan.
Aku sabar menunggu.
Pikirku, sebentar lagi giliranku.
Sudah kubayangkan sensasi nasi hangat dipadu lele garing dan sambal yang bikin air mata jatuh tanpa sebab.
Tapi tiba-tiba, dari arah kiri, datanglah makhluk berseragam kantor dan berminyak rambutnya, melesat ke depan antrean dan menyapa ibu penjual:
“Bu, biasa ya. Satu lele. Bungkus.”
Dan si ibu… langsung bungkus.
Langsung!
Tanpa tanya siapa yang duluan. Tanpa tengok ke belakang.
Aku bengong.
Yang antre di depanku juga bengong.
Semua terdiam.
Karena ya… orang ini ternyata langganan tetap.
Katanya, karena sudah langganan, maka dia boleh langsung.
Boleh serobot.
Boleh merusak tatanan dunia yang sudah nyaris tertib ini.
Aku ingin protes.
Tapi kemudian sadar: aku lapar.
Dan lele tidak boleh dipertaruhkan untuk ego.
Jadi aku diam.
Makan lele. Tapi sambalnya terasa pahit.
Pahit karena ditumpuk di atas luka harga diri.
Kisah 2: Pom Bensin dan Sopir Angkot Tak Berdosa
Beberapa bulan setelah tragedi lele, aku mengalami momen lain yang lebih… menyakitkan.
Pagi hari.
Antrian mobil di pom bensin mengular sampai ke pinggir jalan.
Semua menunggu giliran.
Pelan, sabar, seperti semut berjalan di pinggir piring.
Aku juga ikut antre.
Mobilku sudah tinggal empat kendaraan dari depan.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul sopir angkot, melipir dari sisi kanan, dan langsung menyeruak ke depan, motong antrean tepat di depan mataku.
Aku klakson. Sekali.
Dia cuek.
Aku buka kaca, teriak, “Mas, antre dong!”
Dia jawab, “Santai aja, Bang. Cepet kok ini.”
Aku mau jawab lagi, tapi petugas pom sudah bantu isi bensin dia.
Dan mataku langsung berkaca-kaca.
Bukan karena emosinya terlalu tinggi.
Tapi karena harga bensin naik, dan hatiku turun.
Diserobot di saat-saat seperti itu terasa seperti dicakar semesta.
Kisah 3: Minimarket dan Ibu Bermuka Datar
Antrean panjang di kasir minimarket adalah hal biasa.
Biasanya aku memanfaatkan waktu itu untuk berpikir.
Kadang soal hidup.
Kadang soal kenapa harga teh botol lebih mahal daripada air galon.
Kadang juga soal apakah aku akan menikah sebelum usia 50.
Hari itu, aku berdiri di belakang dua orang.
Depanku ada ibu-ibu dengan keranjang berisi sabun, sampo, dan setumpuk jajanan anak.
Tiba-tiba, datanglah ibu lain.
Langsung menyelip di depan kami, sambil bilang pelan ke kasir:
“Mbak, ini saya cuma satu barang aja ya, cepet kok.”
Kasirnya ragu.
Kami semua diam.
Dan karena tidak ada yang protes secara eksplisit, ibu itu langsung menyerahkan uang dan kabur sebelum kami bisa bersuara.
Aku ingin bilang:
“Bu, ini bukan lomba siapa yang paling cepat. Ini antrean, bukan balapan.”
Tapi ya, seperti biasa, aku hanya bisa menghela napas.
Kantong keresek di tangan terasa lebih berat karena ditumpangi kesabaran yang semakin menipis.
Kisah 4: Toilet Bioskop dan Tragedi Tinja Tertahan
Setelah mengalami dipotong antrean di warung pecel lele, pom bensin, dan minimarket, aku kira aku sudah kebal.
Aku kira aku sudah mencapai titik di mana hati ini bisa menerima semuanya dengan ikhlas.
Ternyata aku salah.
Ada satu bentuk antrean yang tidak bisa ditoleransi untuk dilanggar.
Antrean yang tidak boleh dianggap enteng.
Antrean yang bukan cuma soal sopan santun, tapi soal kehidupan dan kematian perut bagian bawah.
Iya.
Antrean toilet.
Hari itu aku menonton film aksi di sebuah bioskop di pusat kota.
Dua jam lebih aku duduk di kursi empuk dengan efek suara menggelegar dan popcorn asin yang makin lama makin hambar.
Ketika film selesai, aku merasa ada gerakan mencurigakan di dalam perut.
Awalnya aku abaikan.
“Ah, biasa. Paling kentut lewat.”
Tapi begitu aku berdiri dari kursi, aku sadar—
Ini bukan kentut.
Ini adalah panggilan darurat dari alam bawah sadar, atau tepatnya… alam bawah perut.
Aku jalan cepat ke toilet.
Langkah mantap. Fokus penuh.
Perjalanan terasa seperti masuk medan perang.
Dan yang jadi musuh utama bukan monster atau penjajah… tapi antrean.
Toilet pria penuh.
Antrean panjang.
Setiap orang yang berdiri di sana punya wajah yang sama:
Wajah antara tahan-tahan dan pasrah.
Aku berdiri paling belakang.
Waktu berlalu.
Detik demi detik, dorongan dari dalam semakin kuat.
Peluh dingin mulai muncul di pelipis.
Aku menggigit bibir sambil menghitung jumlah orang di depan.
Lalu, tiba-tiba… datanglah satu makhluk.
Pria berkemeja rapi dengan wajah sok penting.
Dia jalan cepat dari samping, pura-pura melihat ke arah cermin, lalu…
langsung menyerobot ke pintu toilet yang baru terbuka.
Aku refleks teriak, “Mas! Antrean, Mas!”
Tapi dia hanya menoleh sebentar, lalu masuk.
Seperti pencuri kehormatan.
Seperti penyabot harga diri bangsa.
Orang-orang di antrean hanya bisa menghela napas.
Tidak ada yang cukup kuat untuk adu mulut, karena semua sedang menahan sesuatu yang jauh lebih penting.
Saat itu, aku ingin menangis.
Karena ini bukan sekadar dipotong antrean.
Ini adalah penghinaan terhadap kemanusiaan.
Tubuhku sudah bergetar.
Gerakan di dalam perut seperti anak ular yang mencari jalan keluar.
Aku mulai menggigit kuku.
Lalu beralih ke meremas ujung kaos.
Lalu berdiri jinjit, lalu kembali menapak.
Lalu jinjit lagi.
Salah satu orang di antrean depan bahkan terlihat mulai melamun, mungkin membayangkan dunia di mana toilet tidak perlu antre.
Akhirnya, setelah penantian yang panjang dan nyaris berujung tragedi, pintu terbuka.
Aku masuk.
Dan... di sanalah terjadi pelepasan dendam, kesedihan, dan rasa syukur secara bersamaan.
Aku tidak akan menggambarkan prosesnya.
Tapi kalau kamu pernah merasa ingin berteriak “MERDEKA!” setelah keluar dari toilet, maka kamu tahu rasanya.
Setelah keluar, aku berdiri sejenak di depan cermin.
Wajahku pucat. Keringat di leher.
Tapi mataku... berbinar.
Aku berhasil.
Namun saat aku menatap pantulan diriku, aku teringat sesuatu:
Kenapa ini harus terjadi? Kenapa urusan sekecil antrean saja masih sulit ditegakkan?
Budaya antre seharusnya bukan hal mewah.
Kita tidak sedang bicara soal teori rumit.
Ini cuma soal siapa yang datang duluan, dia yang dapat giliran.
Sesederhana itu.
Tapi di negeri ini, terlalu banyak orang yang merasa:
Kalau semua orang merasa paling penting, paling cepat, dan paling layak diprioritaskan…
maka apa gunanya kita punya aturan?
Kalau antrean saja bisa dipotong tanpa rasa bersalah, bagaimana kita bisa berharap pada keadilan dalam hal yang lebih besar?
Aku tahu tulisan ini mungkin tidak akan langsung mengubah dunia.
Tapi setidaknya, kalau ada satu orang yang membaca ini lalu mulai berpikir dua kali sebelum menyerobot antrean, maka aku sudah cukup puas.
Dan kepada kamu, pria berkemeja di toilet bioskop itu…
Kalau suatu hari kamu membaca tulisan ini…
Ketahuilah:
Aku masih ingat wajahmu.
Dan aku doakan, suatu saat kamu merasakan rasanya dipotong antrean… saat isi perutmu juga sudah di ujung.
Karena di situ kamu akan tahu:
Budaya antre bukan soal siapa cepat, tapi siapa yang masih punya hati.
Komentar
Posting Komentar