Kalau belajar bahasa bisa lewat hipnotis, mungkin aku juga sudah minta dihipnotis biar tiap pagi bangun semangat olahraga.
Siang tadi, aku lagi iseng-iseng buka ponsel sambil nunggu jam makan siang.
Biasanya aku baca berita, lihat-lihat harga barang, atau sekadar cari-cari video lucu buat hiburan.
Tapi kali ini mataku nyangkut ke satu iklan:
“Kursus bahasa Inggris, 40 hari dijamin mahir!”Aku berhenti scroll.
Mataku mendadak lebih fokus daripada kalau baca laporan bulanan.
“Wah, ini dia solusi para pelajar malas,” pikirku.
Karena selama ini kan banyak orang ngeluh: belajar bahasa susah, harus latihan, harus salah dulu, harus malu dulu.
Eh ini ada yang janji 40 hari langsung mahir.
Aku penasaran.
Aku baca lebih teliti.
Ternyata metodenya... hipnoterapi.
Jadi katanya, kita cukup duduk, dengar instruksi, dihipnotis, dan tiba-tiba lidah fasih.
Ngomong bahasa Inggris lancar seperti baru pulang dari negeri jauh.
Aku sempat berhenti baca.
Minum air dulu biar tenggorokan nggak seret.
Lalu aku lanjut.
Ada tulisan besar-besar:
“Kalau 40 hari belum mahir, kami kasih garansi ulang sampai mahir seumur hidup!”Di situ aku mulai geleng-geleng kepala.
Logikaku yang sederhana ini langsung menjerit.Loh, kalau sudah yakin 40 hari mahir, ngapain garansi seumur hidup segala?
Ini sama kayak warung nasi goreng bilang:
“Nasi goreng kami dijamin pedas. Tapi kalau kurang pedas, boleh tambah cabai sampai bibir kebas.”Jadi ini bagaimana?
Dijamin 40 hari mahir atau tidak?
Kalau sudah mahir, ya nggak perlu garansi.
Kalau butuh garansi seumur hidup, artinya 40 hari itu bukan jaminan, tapi cuma janji manis belaka.
Aku kadang heran.
Kenapa ya, iklan-iklan begitu nggak mikir dulu sebelum nulis?
Apa mungkin saking semangatnya nawarin, jadi lupa kalau kalimat-kalimatnya saling bantah sendiri?
Seolah pembacanya dianggap nggak teliti.
Padahal justru iklan yang lebay begitu bikin orang tambah curiga.
Bayangin, kalau belajar bahasa cukup duduk lalu dihipnotis,
nggak perlu sekolah, nggak perlu kursus, nggak perlu latihan.
Cukup bayar, duduk, dengar, tidur sebentar, bangun sudah jadi ahli bahasa.
Kalau itu beneran, mungkin aku juga sudah minta dihipnotis biar tiap pagi bangun langsung semangat olahraga.
Atau biar bisa tahan lihat makanan tanpa ingin ngemil terus.
Atau biar nggak gampang overthinking tiap dengar kata “rapat mendadak”.
Tapi ya... hidup nggak semudah itu.
Belajar Itu Butuh Proses
Aku percaya satu hal:
belajar bahasa itu soal latihan.
Soal berani salah.
Soal diomelin guru les karena lupa kata.
Soal diketawain teman karena lidah kita belepotan.
Dan justru dari situ kita maju.
Karena kita sadar,
nggak ada yang instan selain mi rebus.
Kenapa Kita Suka Tergiur yang Instan?
Karena kita manusia.
Dan manusia itu pengen gampang.
Pengen cepat.
Pengen bisa tanpa ribet.
Padahal, yang paling nikmat justru hasil dari usaha panjang.
Bahasa itu bukan sekadar kata di kepala.
Bahasa itu tentang rasa.
Tentang kebiasaan.
Tentang keberanian ngomong meski salah.
Kalau bahasa cukup dihipnotis, maka cinta juga bisa cukup lewat tatapan.
Nggak usah pendekatan, nggak usah saling kenal.
Tatap, hipnotis, langsung sayang.
Ya mana ada.
Aku belajar satu hal hari ini.
Kadang kita terlalu gampang percaya janji manis.
Padahal, kita sendiri tahu, nggak ada keberhasilan tanpa usaha.
Kalau kamu mau bisa bahasa, ya belajar.
Kalau mau pintar, ya baca.
Kalau mau kuat, ya olahraga.
Kalau mau kaya, ya kerja.
Nggak cukup cuma dihipnotis.
Karena yang instan itu cuma cerita, bukan kenyataan.

Komentar
Posting Komentar