Langsung ke konten utama

Mak Erot: Sang Legenda Urban yang Nggak Sengaja Jadi Komedi Remaja

 


Semua yang besar pernah kecil. Kadang yang kecil juga malah bikin cerita jadi besar.


Kalau kamu tumbuh besar di awal tahun 2000-an, masa-masa di mana ponsel masih kayak batu bata dan internet cuma sebatas mimpi mahal di warnet, ada satu nama yang entah kenapa bisa menyusup sampai ke obrolan anak-anak SMP di pelosok Kalimantan Barat: Mak Erot.

Iya, Mak Erot.

Nama ini muncul kayak bisikan mistis di antara obrolan bocah-bocah yang baru ngerti apa itu puber. Padahal kita tinggal jauh banget dari Pulau Jawa, tempat Mak Erot konon berpraktik. Tapi anehnya, nama Mak Erot bisa sampai ke telinga kami yang masih sibuk main gundu di halaman sekolah. Dan lebih aneh lagi, nama Mak Erot sering disebut dengan nada serius… campur geli… campur penasaran… kayak ngomongin rahasia besar yang nggak boleh diketahui guru.

Aku inget banget waktu itu, sekitar kelas dua SMP. Lagi nongkrong di kantin, makan bakwan dingin yang udah kayak spons cuci piring, temenku yang namanya Iwan nyeletuk,
“Eh, kalian tau nggak sih… ada nenek-nenek bisa bikin itu… itu lho… jadi panjang.”
Aku, yang waktu itu masih polos—ya, polos tapi penasaran juga—langsung nanya,
“Jadi panjang apaan, Wan?”
Dia cekikikan sambil nutupin mulut,
“Ya itu… anu… yang cowok punya…”

Dan di situlah, nama Mak Erot disebut untuk pertama kalinya di telingaku.
Dari situ, obrolan jadi liar. Ada yang bilang Mak Erot itu kayak dukun, ada yang bilang dia semacam guru besar di bidang… ya, itulah. Ada yang bilang dia cuma legenda, ada juga yang bilang dia punya ramuan rahasia dari akar-akar kayu yang cuma tumbuh di kaki Gunung Salak.

Pokoknya, di masa itu, informasi tentang Mak Erot tersebar kayak cerita horor di malam Jumat. Semua orang punya versi masing-masing, padahal nggak ada yang benar-benar tahu.
Ada yang bilang:
“Kalau mau ke sana, harus bawa beras satu liter sama selembar kain kafan.”
Ada yang bilang:
“Kalau udah diobatin Mak Erot, bisa langsung… joss gitu. Bisa jadi kayak… paku bumi!”
Ada juga yang bilang:
“Ah, itu cuma hoaks. Mana ada nenek-nenek bisa bikin gitu? Kalau bisa, harusnya suaminya duluan dong yang dibikin gede.”
Dan kita semua ketawa ngakak, tanpa sadar kalau itu sebenarnya agak kurang ajar juga ngeledekin nenek-nenek.

Tapi di balik semua mitos dan cerita-cerita konyol itu, ada satu kutipan yang selalu diulang-ulang kayak mantra:
"Semua yang besar pernah kecil."
Kalimat itu kayak kearifan lokal yang nggak ada di buku pelajaran, tapi sering ditempel di slide presentasi tugas sekolah.
Aku pernah lihat sendiri, temenku Budi bikin presentasi tentang pertumbuhan tanaman, terus di slide pertama ada tulisan besar-besar:
“SEMUA YANG BESAR PERNAH KECIL.”
Kepala sekolah lewat, ngelirik ke layar, dan mukanya langsung berkerut kayak kulit jeruk kering.
Budi cuma senyum-senyum, sok polos, padahal semua orang di kelas udah cekikikan sambil tahan ketawa.
Di belakang, ada suara bisik-bisik,
“Itu kan kutipan Mak Erot….”
Dan Budi, dengan wajah tanpa dosa, cuma jawab:
“Ah, yang penting inspiratif.”
Inspiratif, katanya.
Padahal, kalau dipikir sekarang, itu salah satu contoh bagaimana nama Mak Erot nempel di kepala kita tanpa ngerti konteks aslinya.

Lucunya lagi, di zaman itu, internet belum kayak sekarang. Google masih kayak bayi yang baru belajar jalan. Kalau kita mau cari informasi, harus ke warnet, bayar lima ribu sejam, dan itu pun paling cuma bisa buka satu-dua website yang isinya kadang malah bikin tambah bingung. Artikel tentang Mak Erot pun nggak ada yang jelas. Paling cuma denger dari mulut ke mulut, kayak cerita legenda hantu di kampung.
Ada yang bilang, dia bisa mengobati dengan ramuan akar kayu.
Ada yang bilang, dia bisa mengusir hantu dengan doa-doa khusus.
Ada yang bilang, dia cuma memijat-mijat aja, sambil ngomong, “Sabar, Nak… sabar.”
Dan semua itu, kita terima begitu saja. Karena zaman dulu, kalau ada cerita aneh-aneh, kita lebih gampang percaya.
Kalau sekarang, tinggal buka ponsel, ketik “Mak Erot” di kolom pencarian, langsung keluar ribuan artikel. Tapi dulu? Mana ada.

Bahkan aku inget, di perpustakaan sekolah, ada satu buku biologi yang iseng ditulis di halaman belakangnya:
“Semua yang besar pernah kecil. –Mak Erot.”
Siapa yang nulis? Nggak ada yang tau. Mungkin anak iseng, mungkin bekas tangan jahil kakak kelas. Tapi tulisan itu kayak jadi semacam ukiran sejarah yang bikin semua anak yang baca langsung senyum-senyum sendiri.
Lucu sih, kalau dipikir sekarang.
Di zaman internet belum merajalela, nama Mak Erot justru menyebar sampai pelosok kampung.
Padahal, kalau dipikir logis, gimana caranya informasi soal praktik pengobatan “itu” bisa sampai ke telinga anak SMP di Kalimantan Barat?
Tapi ya begitulah…
Zaman dulu, cerita-cerita aneh itu menyebar lewat mulut, kayak gossip warung kopi. Satu orang cerita, yang lain nambahin, yang lain lagi bumbuin. Lama-lama, cerita tentang Mak Erot jadi kayak legenda urban yang diwariskan dari angkatan ke angkatan.

Dan lucunya, di usia segitu, kita semua belum ngerti betul konteksnya.
Waktu ada yang bilang “Mak Erot bisa bikin gede,” aku mikirnya: gedein apa? Gedein semangat belajar? Gedein cita-cita? Atau gedein badan biar nggak kurus?
Tapi makin gede, makin ngerti maksudnya, dan makin ngakak kalau inget dulu pernah polos banget.
Ya ampun, betapa naifnya kita waktu itu.
Tapi mungkin itu juga yang bikin cerita tentang Mak Erot jadi lucu, jadi ikonik, dan jadi salah satu bagian kecil dari masa remaja kita yang nggak terlupakan.

Kalau dipikir sekarang, cerita Mak Erot ini juga bisa jadi pengingat kalau dulu informasi itu mahal. Kita nggak bisa asal cari di internet. Nggak ada video tutorial, nggak ada artikel panjang lebar. Semua serba dengar dari orang. Dan di situlah letak keanehannya. Kita percaya aja, tanpa tahu kebenaran.
Dan kadang, yang bikin cerita itu makin seru justru karena nggak ada bukti pasti.
Jadi bahan obrolan di kantin, jadi lelucon di kelas, jadi catatan di buku pinjaman, bahkan jadi bahan presentasi.
Kayak ada satu temenku, Nando, yang bikin presentasi tentang “Perkembangan Reproduksi Manusia,” terus di slide terakhir dia tulis:
“Kesimpulan: Semua yang besar pernah kecil. –Mak Erot.”
Dan semua orang ketawa ngakak, termasuk guru biologi yang sampai tutup muka pake buku.
Nando?
Nando diganjar hukuman disuruh nyapu kelas seminggu penuh.
Tapi kutipan itu… tetep dipake generasi berikutnya.

Kadang aku mikir, Mak Erot itu kayak semacam legenda hidup yang nggak sengaja jadi bahan komedi remaja.
Dia nggak minta terkenal, tapi jadi terkenal.
Nggak minta jadi bahan lawakan, tapi jadi bahan lawakan.
Dan nggak ada yang bener-bener ngerti dia siapa, tapi semua orang seolah-olah tau.
Aneh, ya?
Tapi begitulah… di era sebelum semua orang pegang ponsel pintar, sebelum TikTok jadi ajang joget-joget nggak jelas, dan sebelum AI merajalela, nama Mak Erot sudah mendunia—setidaknya di dunia kecil remaja-remaja kampung macam aku.

Tapi, di balik semua kelucuan itu, ada satu hal yang bikin aku senyum kalau inget…
Kutipan “Semua yang besar pernah kecil” itu, meskipun dipakai buat becandaan, ternyata kalau dipikir sekarang, itu kayak sindiran kecil tentang hidup juga, kan?

Karena ya bener juga… semua yang besar itu pernah kecil.
Entah itu cita-cita, usaha, atau bahkan… rasa percaya diri.

Aku inget, dulu waktu kecil, aku cuma anak yang polos, duduk di pojok kelas, nulis catatan pelajaran sambil ngupil. Nggak ada yang spesial. Tapi sekarang, ya aku ada di sini, bikin cerita, bikin orang ketawa, bikin orang mikir.

Jadi kalau kamu sekarang lagi ngerasa kecil, nggak berarti, nggak penting…
Ingat aja, semua yang besar pernah kecil.
Dan nggak semua yang kecil itu harus dikecilkan terus. Kadang, butuh waktu aja.

Sama kayak Mak Erot.
Mungkin dia cuma nenek-nenek sederhana di kampung, tapi namanya bisa melegenda.
Karena yang namanya cerita, kalau udah nyebar… nggak ada yang tau sejauh mana bisa pergi.

Dan kalau kamu lagi galau, mikirin masa depan, bingung mau jadi apa, atau ngerasa ketinggalan dari temen-temenmu yang keliatannya udah “sukses”…
Santai aja.
Semua yang besar… ya, pasti pernah kecil.
Dan semua orang juga mulai dari nol.

Jadi, nikmatin aja prosesnya, meskipun kadang bikin dahi berkerut atau bikin hati ciut. Karena hidup itu kayak lelucon di warung kopi—kadang nggak ada yang paham, tapi tetep bikin ketawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...