Langsung ke konten utama

Berak Saja, Nanti Saya yang Cebokin: Motivasi Gagal Tapi Berkesan dari Bos Luar Negeri

 


“Kadang, satu kalimat salah bisa jadi bencana. Tapi kadang, satu kalimat salah justru membuat kita semua tertawa dan merasa lebih dekat.”



Di salah satu tempat kerja lamaku, aku pernah punya bos yang bisa dibilang—unik.
Orangnya tinggi besar, rambut cokelat kemerahan, dan pipinya selalu kelihatan merah, entah karena semangat kerja atau tekanan darah. Yang pasti, dia bukan orang Indonesia. Asalnya dari Eropa, tepatnya negara yang aku nggak akan sebut di sini karena takut nanti kamu langsung nebak siapa orangnya. Biar aman, kita sebut saja namanya: Pak Johan.

Pak Johan sudah tinggal di Indonesia lebih dari lima tahun. Tapi anehnya, kemampuan berbahasa Indonesianya… masih mentok di level belanja sayur dan ngobrol sama tukang parkir.

Kamu tahu nggak sih, orang yang kalau ngomong tuh kayak nyusun puzzle yang isinya pecahan kata, dan kita sebagai pendengar harus menebak maksudnya?
Nah, itu dia. Tiap kali dia bicara, kami seperti ikut kuis tebak kalimat. Hadiahnya bukan uang tunai, tapi tatapan sesama rekan kerja yang penuh tanda tanya.

Satu hal yang nggak pernah berubah dari Pak Johan adalah semangatnya memberi motivasi.
Setiap pagi Senin, sebelum kerja dimulai, dia akan berdiri di depan kantor sambil membagikan ‘semangat baru’ untuk kami semua.

Awalnya kami pikir itu hal yang bagus.
Tapi makin lama, motivasi dari Pak Johan mulai terasa… liar.

Misalnya, pernah suatu pagi dia berdiri dengan gagah di depan ruang meeting, lalu membuka pidatonya dengan:

“Selamat pagi semuanyaaa… kalian adalah gigi-gigi penting dari mesin ini. Tanpa gigi… tidak bisa menggiling sukses.”

Kami saling pandang.
Gigi? Menggiling?
Apakah ini metafora atau dia baru saja nonton dokumenter tentang mesin penggiling daging?

Yang jelas, sejak saat itu aku mulai mencatat semua ucapan motivasi Pak Johan.
Bukan untuk belajar, tapi… untuk dibaca ulang saat butuh hiburan.

Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kejadian hari Jumat itu.

Hari Jumat biasanya adalah hari ‘santai’ di kantor kami. Semua orang memakai batik, kerja setengah hari, dan suasana lebih ringan. Tapi di minggu itu, kami baru saja dapat laporan bahwa ada klien besar yang tidak puas dengan hasil kerja kami.

Semua orang panik.
Ada yang sudah bersiap lembur.
Ada yang mau resign mendadak.
Aku sendiri sibuk membuka tabungan dan memikirkan rencana jual motor.

Di tengah kekacauan itu, Pak Johan memanggil rapat darurat.

Kami duduk di ruang meeting dengan suasana suram.
Lalu masuklah dia—langkahnya mantap, senyum lebar, kemeja agak kebesaran, dan semangat membara.
Suaranya lantang:

“Teman-teman… saya tahu, minggu ini kita… ada masalah besar. Tapi, saya percaya… kalian semua luar biasa!”

Oke, sampai sini masih aman.

Lalu dia lanjut, “Kalian harus tahu, jangan takut salah. Jangan takut gagal. Saya akan… saya akan… hmm…”

Dia tampak berpikir keras, mencari kata yang tepat. Kami menunggu.

Lalu, tiba-tiba—dengan yakin dan penuh tekad dia berkata:

“Kalian kalau mau berak, berak saja! Nanti saya yang cebokin!”

Sejenak, ruangan hening.
Satu detik. Dua detik.
Lalu… meledaklah tawa seluruh ruangan.

Pak Johan berdiri dengan bangga, mengira dia baru saja menyampaikan kalimat motivasi paling menggetarkan jiwa.
Sementara kami semua sudah terlipat di kursi masing-masing, menahan tawa sambil berusaha tidak menyemprotkan air mata.

Salah satu teman kerjaku bahkan sampai jatuh dari kursi.
Yang lain batuk-batuk karena tersedak tawa.

Pak Johan masih berdiri tegak, bingung kenapa kami semua tertawa.
Lalu dia bertanya, “Kenapa kalian tertawa? Saya serius! Kalau berak, jangan takut! Saya akan bantu… cebo… cebokin!”

Dan tawa makin menjadi-jadi.

Setelah suasana sedikit reda, ada yang berusaha menjelaskan ke dia.

“Pak… kata ‘cebokin’ itu… artinya membersihkan kotoran dari… pantat.”

Pak Johan tampak terkejut.
Lalu dia tertawa keras sendiri, sambil menepuk dahi.

“Ohhh, saya pikir itu… seperti membantu membereskan masalah! Saya salah, ya?”

Kami semua mengangguk sambil masih cekikikan.
Tapi sejak saat itu, kalimat itu jadi legenda di kantor kami.

Setiap ada yang sedang panik atau stres, pasti ada yang nyeletuk,
“Tenang… kalau mau berak, berak saja. Pak Johan yang cebokin!”

Yang paling lucu, kalimat itu mulai menyebar.
Ada yang bikin jadi stiker di gelas kantor.
Ada yang pasang di belakang meja kerja.
Dan suatu hari, bahkan ada yang mencetaknya di mug:

“Beraklah, aku akan cebokkan kau – Johan, 2020”

Kami tahu itu salah.
Tapi kami juga tahu, itu jadi pengikat antara kami semua.
Kalimat konyol itu jadi semacam simbol bahwa meskipun hidup ini kacau, kita bisa tetap ketawa.
Meski tekanan datang dari segala arah, kita tetap bisa saling ejek… dan tetap bertahan.

Lama-kelamaan, aku mulai memaknai kalimat itu dengan cara yang berbeda.

Kalau dipikir-pikir, maknanya memang aneh. Tapi niat di baliknya?
Tulus.

Pak Johan ingin bilang,
“Jangan takut salah.”
“Kalau kamu jatuh, kami akan bantu.”
“Kalau kamu kotor, kami akan bersihkan.”

Bukan dalam arti harfiah tentu.
Tapi dalam arti: kita akan saling bantu, bahkan dalam kondisi yang paling memalukan sekalipun.

Kadang, kebaikan memang datang dengan cara yang konyol.

Setelah kejadian itu, aku jadi lebih memperhatikan cara orang berbicara.
Ternyata, seringkali yang bikin kita gagal paham bukan bahasanya, tapi kebiasaan untuk tidak mendengarkan dengan baik.

Pak Johan memang terbata-bata, tapi dia punya niat baik.
Sementara banyak dari kita yang lancar berbicara… tapi lupa pakai hati.

Dan jujur saja, aku lebih pilih dipimpin orang yang salah ngomong tapi setia,
daripada orang yang mulutnya manis tapi hobi lempar kesalahan ke anak buah.

Beberapa bulan kemudian, Pak Johan pindah tugas ke negara lain.
Hari terakhirnya, dia memberikan pidato perpisahan.
Kali ini lebih singkat. Lebih hati-hati.

Tapi sebelum menutup, dia tersenyum dan berkata:
“Saya tahu… saya pernah bilang hal yang salah waktu itu.”
Semua langsung bersiap tertawa.
Tapi dia angkat tangan dan lanjut:

“Tapi saya tetap percaya… kalian harus bebas! Kalau ada masalah, jangan tahan. Keluarkan saja. Saya tidak bisa cebokin lagi… tapi saya akan selalu dukung dari jauh.”

Dan kami tertawa.
Tawa yang bukan karena lucu, tapi karena kami tahu, kami akan merindukannya.

Kadang, satu kalimat salah bisa jadi bencana.
Tapi kadang, satu kalimat salah bisa jadi legenda.
Dan dalam kasus kami, itu jadi pengingat bahwa kerja keras tidak harus selalu tegang.
Bahwa bahkan dari kesalahan bahasa… bisa tumbuh rasa saling percaya.

Jadi, kalau suatu saat kamu sedang takut mencoba sesuatu…
Ingatlah satu hal:

Kalau mau berak, berak saja. Nanti akan ada yang bantu cebokin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...