Kadang, kita nggak sadar sedang duduk di tempat yang seharusnya sudah lama ditinggalkan.
Aku pernah ngalamin kejadian aneh, yang sampai sekarang masih bikin aku mikir:
Kadang, yang bikin kita merinding bukan karena kita lihat setan.
Tapi karena kita sadar, kita pernah duduk manis di ruang tamu rumah yang seharusnya udah nggak ada.
Ini cerita waktu aku dan temanku, Jamal naik motor dari Bandung ke Jakarta.
Perjalanan yang awalnya cuma rencana santai, berujung jadi pengalaman yang bikin aku mikir, “Ini bukan film horor, kan?”
Tapi sayangnya, ini beneran kejadian.
Mendung, Hujan, dan Ide Bodoh untuk Ngegas Malam-Malam
Ceritanya, waktu itu matahari udah mau terbenam tapi Jamal masih bersikeras mau tetap ke Jakarta hari itu juga padahal langit udah mendung dari jam tiga. Jam lima, hujan mulai turun. Jam enam, makin deres. Hujan nyatanya tak menyurutkan keinginan Jamal yang bilang “Tenang, Nar. Paling juga hujannya hanya sebentar.”
Kenyataannya? Hujannya makin deres, aku mulai merasa bego nurutin kemauan si setengah india ini. Terlanjur basah kuyup, kami lanjut saja ngelewatin jalan yang makin lama makin sepi.
Lampu jalan makin jarang, jalanan makin gelap, dan hujan yang makin galak membuat motor kami nggak bisa melaju cepat. Sampai akhirnya, mungkin sekitar jam sembilan malam, kami nemu satu rumah di pinggir jalan.
Lampunya kuning redup, ada suara ayam, dan ada asap tipis dari dapur.
Rumah ini kayak oase di tengah padang pasir, cuma bedanya oase ini bau tanah basah.
Jamal bilang, “Nar, kita berhenti dulu ya. Gue kedinginan.”
Aku langsung setuju. Karena jujur aja, kalau nggak berhenti, aku takut hidungku berubah jadi air mancur saking pileknya.
Nenek, Teh Hangat, dan Pisang Goreng
Kami agak ragu namun akhirnya parkir juga di halaman rumah itu, kami neduh di bawah pohon mangga, nggak lama tiba-tiba, pintu terbuka, dan muncul seorang nenek-nenek pendek, keriput, pakai kain batik, rambutnya digelung.
Senyumnya ramah, matanya sayu, dan dia langsung bilang, “Ayo, masuk, Nak. Basah kuyup gitu, kasihan.”
Suara nenek itu halus, ada getar-getar lembut kayak suara seruling bambu.
Aku dan Jamal saling tatap bentar, agak bimbang namun akhirnya menerima undangan hangat tersebut. Kami masuk, duduk di ruang tamu yang sederhana banget, dan masih basah kuyup.
Ada kursi kayu dengan anyaman rotan, meja kecil dengan taplak lusuh, dan di pojok ada vas bunga plastik yang warnanya pudar.
Dindingnya penuh pigura hitam putih, foto-foto jadul zaman entah kapan.
Ada foto orang naik sepeda ontel, ada foto keluarga, dan ada juga foto nenek itu waktu muda—cantik, senyumnya lebar.
Nenek masuk ke dapur, nggak lama keluar bawa teh hangat, handuk, dan sepiring pisang goreng.
Aku ngeliatin pisang goreng itu dengan mata berbinar, karena perutku sudah demo minta diisi sejak jam tujuh tapi memilih mengeringkan badan dulu sementara si setengah india, Jamal langsung ngunyah kayak orang korban bencana.
Sambil makan, kita ngobrol sama nenek.
Dia nanya kita dari mana, mau ke mana, kenapa basah-basah.
Aku jawab sekenanya, dan nenek cuma senyum-senyum sambil sesekali batuk kecil.
“Tidur dulu di sini aja, Nak,” kata nenek.
“Nggak usah mikirin apa-apa, besok baru lanjut jalan.”
Aku sama Jamal saling pandang.
Jujur, dalam hati aku mikir, “Kok baik banget ya?”
Tapi karena badan udah remuk, aku cuma bisa bilang, “Makasih banyak ya, Nek.”
Tidur yang Nggak Tenang dan Jam Dinding yang Aneh
Nenek nganterin kita ke kamar kecil di samping ruang tamu.
Kasurnya empuk, tapi bantalnya agak bau apek.
Jendela ditutup rapat, cuma ada tirai tipis warna biru.
Lampu redup.
Jam dinding di kamar itu bunyinya aneh, kayak… tik… tik… tik…
Tapi tiap aku lihat, jarumnya nggak gerak.
Aku tidur duluan, Jamal masih main HP, entah apa yang dia baca.
Tengah malam, aku kebangun. Badan dingin, kepala berat.
Aku ngeliat Jamal duduk di kasur, matanya merah, liatin aku.
“Nar, lu kebangun juga?”
Aku angguk.
Jamal bilang pelan, “Lu denger nggak suara ketukan tadi?”
Aku dengerin baik-baik. Nggak ada suara apa-apa. Cuma… ada hawa aneh.
Bau pisang goreng tadi masih kecium, tapi sekarang bercampur bau debu tua.
Kayak ruangan yang udah lama nggak ditempatin.
Nggak ada suara ayam, nggak ada suara nenek.
Aku mutusin keluar kamar untuk periksa, ngelihat ruang tamu. Dan… Ruangannya beda.
Karpetnya berdebu.
Vas bunga plastiknya kotor, warnanya udah pudar banget.
Meja kayunya miring, taplaknya robek.
Foto-foto di dinding? Pudar semua.
Ada yang bahkan jatuh dan pecah di lantai.
Aku jalan ke dapur.
Panci-panci di sana karatan.
Kompor minyak tanah penuh sarang laba-laba.
Dan yang bikin aku makin merinding…
Di meja dapur masih ada piring bekas pisang goreng, tapi tinggal remah-remah yang keras kayak kerikil.
Aku manggil Jamal.
Dia keluar kamar, matanya lebar, bibirnya gemetar.
Dia cuma bisa bilang, “Nar, kita harus cepet-cepet pergi.”
Pergi Tanpa Pamitan
Kita langsung cabut, nggak bilang apa-apa.
Keluar dari rumah itu, udara pagi dingin dan sepi.
Rumah itu…
Dari luar, keliatan kayak rumah kosong yang udah lama nggak ditempati.
Catnya pudar, gentengnya miring, ada tanaman liar merambat sampai ke jendela.
Aku ngeliat satu papan nama kecil di depan rumah, tulisannya samar-samar: Rumah Singgah Ibu Sarti.
Dan entah kenapa, di pinggir jalan ada bapak-bapak yang lewat naik sepeda.
Dia ngeliatin kita, lalu bilang, “Lho, kalian tadi tidur di situ?”
Aku cuma bisa angguk, mulutku kaku.
Dia langsung geleng-geleng kepala, “Wah, rumah itu udah kosong dari dulu. Ibu Sarti meninggal sepuluh tahun lalu.”
Aku sama Jamal langsung pucat.
Demam Tiga Hari dan Pikiran yang Nggak Mau Diam
Setelah kejadian itu, aku sama Jamal sakit demam tiga hari. Entah karena hujan atau pisang goreng alam gaib yang kami konsumsi.
Panas tinggi, badan lemes, rasanya kayak ditindih batu.
Tapi anehnya, setelah lewat tiga hari, kita sembuh begitu aja.
Kayak nggak pernah sakit.
Nggak ada bekas batuk, nggak ada pilek, cuma rasa capek yang ngambang di kepala.
Sampai sekarang, aku kadang mikir…
Apa yang sebenernya terjadi di rumah itu?
Siapa nenek yang ngasih kita teh dan pisang goreng?
Apa mungkin kita cuma kebetulan singgah di tempat yang salah, di waktu yang salah?
Atau mungkin… ada hal-hal yang nggak bisa dijelaskan dengan logika.
Kadang aku mikir, mungkin itu cara semesta ngingetin:
Kalau kita numpang hidup di dunia ini, harus banyak hati-hati.
Karena kadang, yang baik nggak selalu baik.
Dan yang ramah, belum tentu nyata.

Komentar
Posting Komentar