“Orang Indonesia bisa saling curiga di lampu merah, tapi bisa saling percaya di antrean sembako.”
Aku pernah ikut antre sembako, dan pulang-pulang rasanya seperti habis nonton tiga episode sinetron tanpa jeda iklan.
Bayangkan, aku cuma berdiri di belakang satu ibu-ibu, di depan dua bapak-bapak, selama sekitar tiga puluh menit. Tapi dalam waktu sependek itu, aku tahu harga cabai terbaru, siapa anak tetangga yang baru nikah, dan betapa panasnya urusan warisan yang lagi pecah di RT sebelah.
Belum sempat aku tanya, “Ini sebenarnya antre apa, ya?”—sudah ada yang nyelutuk, “Kamu kayaknya bukan orang sini, ya?”
Dan dari situ, semua dimulai.
Di Indonesia, kalau kamu berdiri di satu barisan cukup lama, kemungkinan besar kamu akan punya teman baru.
Mau itu antrean minyak goreng, vaksin, ATM, bakso, atau toilet rest area—ada hukum tak tertulis bahwa kamu harus ngobrol sama orang di dekatmu.
Obrolannya bisa mulai dari hal netral: “Lama juga, ya.”
Lalu naik kelas: “Tadi lewat mana? Macet nggak?”
Hingga mencapai level tukar identitas: “Dulu anak saya juga sekolah di situ.”
Kadang, kamu nggak sadar sudah ikut tertawa, mengangguk, atau bahkan pura-pura tahu tentang sepupu jauh orang yang baru kamu temui sepuluh menit lalu.
Dan anehnya, itu terasa… nyaman.
Ada sesuatu yang ganjil tapi akrab dari suasana antre di negeri ini.
Kita nggak pernah tahu pasti kapan dipanggil. Tapi selama menunggu, hampir selalu ada yang ngajak ngobrol duluan.
Dan kalau lagi beruntung, kamu bisa ketemu orang yang sefrekuensi.
Kalau lagi apes, ya ketemu orang yang curhat tentang hal-hal yang terlalu berat untuk dibahas di bawah terik matahari.
Tapi tetap saja, obrolan itu terjadi.
Di antrean, kita jadi pendengar.
Kadang juga jadi komentator.
Kadang tanpa sadar, kita jadi penghibur orang lain yang wajahnya sedang kusut karena harga sembako naik.
Antre bensin: biasanya penuh keluhan dan spekulasi. “Katanya nanti naik, tapi kok belum ada info pasti?”
Antre bakso: cenderung tenang, penuh harap, kadang diselingi pertanyaan, “Kamu biasa pesen yang mana?”
Antre ATM pas tanggal muda: ini lebih ke diam-diam tegang. Tapi tetap ada satu dua yang nyapa, “Lama banget ya yang di dalam.”
Dan semua itu sah saja. Karena di sini, berdiri lama bersama orang asing bukan sesuatu yang canggung.
Justru sebaliknya: itu alasan sah untuk membuka percakapan.
Aku pernah dengar satu kisah nyata—sepasang suami istri yang pertama kali bertemu saat antre SIM.
Yang satu telat datang, yang satu salah jadwal. Tapi karena antreannya panjang dan petugasnya lelah, mereka jadi ngobrol sambil menunggu panggilan yang entah datang jam berapa.
Dari ngobrol jadi tertawa. Dari tertawa jadi tukar nomor.
Sisanya tinggal sejarah.
Aku yakin, banyak cerita sejenis terjadi.
Antrean di Indonesia bisa melahirkan cinta, pertemanan, bahkan… kadang musuh kecil yang tersimpan dalam dendam kecil karena saling serobot.
Tapi semuanya tetap terasa manusiawi.
Mungkin itu sebabnya antrean di Indonesia nggak pernah sepi.
Karena kita nggak cuma nunggu…
Kita juga nyari teman.
Komentar
Posting Komentar