Ditolak karena kekurangan itu lumrah. Tapi kalau ditolak karena kebaikan… rasanya kayak dihukum gara-gara nurut.
Aku pernah patah hati.
Dan bukan… bukan karena ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Bukan juga karena diselingkuhi sama mantan yang tiba-tiba muncul di acara buka bersama alumni SMP. Bukan.
Aku patah hati karena satu kalimat aja.
Satu.
Kalimat.
“Aku rasa… kita nggak cocok. Kamu terlalu baik buat aku.”
Coba kamu bayangin. Kamu duduk, udah dandan rapi, semprot parfum dua lapis, minum es teh manis sampai kembung, dan berharap hari itu jadi hari yang mengubah segalanya. Tapi yang datang malah... kalimat ngawur.
Aku tuh langsung diem. Kayak ikan cupang ketemu kaca.
Bukan karena aku nggak ngerti maksudnya. Tapi karena aku bener-bener bingung harus ngapain.
Aku terlalu baik?
Terus aku harus gimana? Ngelempar sandal pas ngobrol biar dianggap cukup brutal?
Kalimat itu tuh... nggak punya logika keluarga.
Maksudku, dia kayak anak yang muncul dari hubungan antara “pujian” dan “penolakan”. Bingung dia sebenarnya masuk golongan mana. Mau dianggap manis, kok nyakitin. Mau dianggap nyakitin, tapi katanya karena aku terlalu manis.
Analoginya tuh gini: kamu lagi wawancara kerja.
Kamu jawab semua pertanyaan HRD dengan lancar, pengalaman kerja oke, sikap sopan, bahkan sempet bantuin angkat galon waktu dispenser kantor bunyi "klek-klek" kehabisan air. Tapi pas pengumuman keluar…
“Maaf, kamu terlalu cocok sama posisi ini. Kami jadi minder.”
Hah?
Mundur pelan-pelan sambil bawa galon aja deh.
Waktu Itu, Aku Masih Muda
Dan kalau kamu bayangin “muda” sebagai masa penuh harapan dan energi... ya, kurang lebih bener. Tapi tambahin juga: “penuh ilusi dan sok bijak.”
Aku percaya, kalau aku bersikap baik, perhatian, nggak ngilang-ngilang, peka, dan bisa masak mi rebus dua rasa, itu udah cukup buat bikin orang bertahan.
Ternyata nggak.
Karena pada akhirnya, bukan soal kamu ngasih apa. Tapi orang itu maunya apa.
Ada Orang yang Nyari “Tantangan”
Atau dalam bahasa kasarnya: drama.
Ada yang kalau hubungannya terlalu adem, malah nyari korek buat bikin bara. Yang kalau pacarnya terlalu pengertian, malah jadi curiga: “Kok kamu nggak marah sih aku lama bales chat?”
“Loh… kamu baru bales setelah aku selesai makan dua piring dan sempat tuker tabung gas.”
Tapi dia tetep ngerasa ada yang salah. Karena di kepalanya, hubungan harus seru. Harus ribut. Harus kayak sinetron. Harus ada suara “Cekreeekk!!” dari kamera tersembunyi.
Dan aku?
Aku bukan tipe yang bisa bikin drama.
Paling-paling cuma bisa bikin martabak manis pakai topping keju meleleh.
Setelah Itu, Aku Sempat Bertanya
Apa iya aku harus berubah?
Apa iya jadi baik itu salah?
Apa iya aku harus jadi lebih galak? Lebih acuh? Lebih misterius?
Tapi aku sadar… itu bukan aku.
Dan yang lebih penting: kalau aku berubah cuma karena pengakuan dari orang lain, berarti aku nggak bener-bener kenal diriku sendiri.
Beberapa Tahun Kemudian…
Aku denger kabar dia menikah.
Bukan sama penjahat, tentu. Tapi sama orang yang, menurutku, ya… biasa aja. Nggak buruk. Tapi juga bukan yang luar biasa.
Dan di situ aku sadar.
Karena hubungan itu bukan soal siapa yang paling sempurna, tapi siapa yang paling nyambung.
Kadang, Kebaikanmu Bukan Untuk Dia
Dan itu bukan berarti kamu harus menguranginya.
Ibarat kamu punya nasi padang lengkap, sambal ijo melimpah, rendang dua potong, kuah gulai banjir, terus kamu kasih ke orang yang… lagi diet keto.
Ya bukan salah kamu kalau dia nolak.
Tapi juga bukan salah dia kalau dia butuh sesuatu yang lain.
Yang salah cuma kalau kamu buang nasi padang itu dan mulai makan rebung rebus tanpa rasa.
“Terlalu Baik” Itu Bukan Kutukan
Itu cermin.
Cermin bahwa kamu punya standar.
Bahwa kamu tahu cara memperlakukan orang lain.
Bahwa kamu nggak asal ceplos, nggak main gas seenaknya, nggak bikin orang deg-degan cuma buat kesenangan pribadi.
Dan kalau ada orang yang nggak bisa menghargai itu…
Bukan berarti kamu harus berhenti jadi baik.
Tapi kamu bisa belajar: kasih kebaikanmu ke orang yang tahu cara menyimpannya.
Kebaikan Butuh Rumah
Bukan museum.
Karena di museum, barang-barang bagus cuma dipajang, nggak bisa dipakai. Dihargai… tapi dijauhkan.
Kebaikanmu butuh rumah.
Tempat di mana dia bisa hidup, bisa tumbuh, bisa dibalas dengan ketulusan yang sama.
Jadi Kalau Kamu Pernah Dibilang “Terlalu Baik”…
Jangan langsung curiga sama dirimu sendiri.
Jangan buru-buru ganti kepribadian.
Dan yang paling penting…
Jangan pernah ngerasa kamu harus nyakitin orang lain dulu, baru bisa diterima.
Kebaikan itu bukan dosa.
Kadang, itu cuma belum ketemu yang butuh.
Tenang aja.
Kadang kebaikan memang datang lebih dulu daripada jodohnya.
Dan itu bukan karena kamu salah jalan.
Tapi karena kamu lagi nunggu orang yang jalannya sama.
Dan ketika orang itu datang…
Kamu akan bersyukur kamu nggak pernah berubah, cuma karena satu kalimat aneh yang dulu sempat bikin kamu garuk-garuk kepala meski nggak gatal.

Komentar
Posting Komentar