“Yang penting rapi, Mas,” adalah kalimat pemakluman paling sering dipakai saat hasil potong rambut tidak sesuai harapan. Dan anehnya, kita tetap balik ke tempat itu juga.
Ada tempat pangkas rambut yang tidak akan pernah terhapus dari ingatan kolektif orang-orang Indonesia: tukang cukur tradisional.
Tempatnya mungkin sempit. Penuh bayangan. Ditemani bunyi kipas angin tua yang berdetak seperti detak jantung pensiunan. Kursinya bukan sofa kulit empuk yang bisa direbahkan otomatis. Tapi kursi besi bulat yang bisa diputar dengan tenaga manual. Satu sisi sandarannya udah lepas. Kalau bersandar terlalu santai, kamu bisa keseleo punggung.
Sabunnya? Batangan. Kadang warnanya nggak jelas, karena bercampur serpihan rambut pelanggan sebelumnya. Minyak rambutnya beraroma kuat—sejenis campuran antara eukaliptus, rindu masa lalu, dan ketegasan bapak-bapak.
Dan di antara semuanya itu, satu benda yang selalu berhasil mencuri perhatian… adalah poster model rambut.
Bayangkan: selembar kertas besar ditempel di dinding, tertutup pigura kaca seadanya, dan menampilkan barisan pria-pria dengan senyum mengembang dan rambut yang mengkilap seperti baru dijilat jin.
Ada yang belah pinggir pakai gel licin.
Ada yang lancip ke atas dengan rambut tajam kayak duri landak.
Ada yang panjang bergelombang seolah mau audisi jadi pemain sinetron tahun 2001.
Dan semuanya tampak percaya diri—dengan senyum tipis, tangan dilipat, atau kepala dimiringkan 30 derajat seperti lagi foto ijazah.
Poster itu seringnya sudah pudar. Beberapa bagian mengelupas. Di ujung bawah biasanya basah kena rembesan air pel lantai. Tapi dia tetap di sana. Berdiri tegak menjadi panduan sekaligus pengingat bahwa potongan rambut adalah sebuah harapan.
Dari semua yang aku lihat, entah kenapa aku sering milih model nomor tiga.
Mungkin karena bentuknya yang standar. Nggak terlalu nyentrik, nggak terlalu pasaran. Potongannya pendek, bersih di samping, agak tebal di atas. Seolah-olah kalau kita minta model itu, kita bisa terlihat lebih dewasa, bertanggung jawab, tapi masih punya sisi pemberontak yang tersimpan.
Tapi kenyataannya?
Setiap kali aku bilang, “Model nomor tiga ya, Pak…”
hasilnya selalu… berbeda.
Aku tahu salahnya bukan di tukang cukur. Mereka profesional. Terlatih.
Mereka bisa motong rambut anak-anak, orang tua, sampai kepala botak dengan tiga helai rambut terakhir.
Yang salah ya aku. Lebih tepatnya: wajahku.
Model nomor tiga itu cocok untuk wajah oval bersih, dagu runcing, mata tajam.
Wajahku? Bulat, pipi lebar, dan kalau senyum, mataku hilang.
Rambut model tiga di poster, begitu nempel di kepalaku, jadi model tiga koma dua koma bingung arah.
“Nggak Apa-Apa, Nanti Juga Tumbuh”
Kalimat sakti itu selalu keluar setelah potong rambut yang hasilnya... yaaah, gitu lah.
Kita tahu potongannya nggak sesuai harapan.
Kita tahu cermin di rumah akan jujur.
Tapi kita tetap senyum, bayar, dan bilang: “Terima kasih, Pak.”
Setelah itu jalan pulang sambil mikir, “Nggak apa-apa, nanti juga tumbuh.”
Karena memang begitu cara kita memaafkan hidup.
Hidup kadang ngasih potongan yang nggak kita minta.
Kadang kita niat minta yang rapi, dikasih yang nanggung.
Kadang pengin yang ringkas, eh malah terlihat terlalu galak.
Kadang baru putus cinta, pengin potong rambut biar segar, eh malah tambah mirip penjahat di sinetron.
Tapi tetap… kita jalanin.
Kita percaya bahwa rambut akan tumbuh.
Bahwa perasaan yang buruk akan berlalu.
Bahwa potongan yang salah hari ini, bisa jadi pelajaran buat potongan berikutnya.
Kalau kamu perhatikan, tukang cukur tradisional itu seringkali lebih dari sekadar tukang potong rambut.
Mereka bisa jadi teman curhat.
Bisa jadi saksi hidup perjalanan seseorang dari anak-anak sampai menikah.
Bisa tahu, dari gaya rambut seseorang, apakah dia habis dimarahi istri, habis putus, atau mau melamar kerja.
Kadang saat kamu duduk dan bilang, “Tipisin samping, Pak,”
dia bakal jawab, “Baru dari kantor, Mas?”
Atau, “Wah, rambutnya panjang juga nih. Udah lama nggak potong, ya?”
Atau yang lebih filosofis, “Kalau potong rambut, buang juga beban hidupnya, Mas.”
Tukang cukur adalah pengamat diam.
Mereka tahu cerita dari gaya bicaramu, dari cara kamu memandangi cermin, dari cara kamu menjawab, “Segini cukup, Pak?”
Dan karena mereka tidak menghakimi, kita jadi tenang.
Mereka nggak peduli kamu siapa, kerja apa, punya motor apa.
Yang penting kamu bawa kepala dan bisa duduk tenang.
Ini yang paling aneh.
Kita tahu hasilnya nggak selalu sesuai harapan.
Kita tahu tempatnya panas, kadang sabunnya pedih di mata.
Kita tahu kursinya keras, kipasnya bunyi, kadang gantian ngantri sama anak kecil sambil makan ciki.
Tapi kita tetap kembali.
Kenapa?
Karena di tempat itu, kita merasa… jadi diri sendiri.
Kita nggak perlu sok gaya.
Nggak perlu ngasih tahu jenis rambut.
Nggak perlu kode ke tukangnya pakai istilah aneh.
Cukup bilang: "Dirapihin, Pak,” dan semuanya mengalir.
Dan yang paling penting:
Di tempat itu, kita merasa potongan rambut bukan hal yang harus sempurna.
Tapi cukup pas. Cukup bersih. Cukup bikin kita bisa ngaca dan bilang,
“Yah, lumayanlah buat hidup minggu ini.”
Tiap kali selesai potong rambut, aku suka ngelirik lagi ke poster itu.
Barisan cowok-cowok yang dari dulu senyum terus.
Nggak pernah tua. Nggak pernah ganti baju.
Selalu dalam pose yang sama.
Dan aku sadar… poster itu seperti harapan yang nggak akan pernah usang.
Dia tetap di sana, meskipun kita tahu hasilnya nggak pernah benar-benar mirip.
Dia tetap menawarkan pilihan, meskipun kita tahu semua pilihan itu punya hasil tak terduga.
Dia tetap tersenyum, bahkan ketika kita pulang dengan potongan yang agak miring.
Poster itu adalah janji: bahwa kamu bisa mulai dari awal.
Bahwa kamu bisa potong yang lama, dan tumbuh yang baru.
Bahwa tiap potongan, betapapun anehnya… adalah proses menjadi lebih baik.
Hidup Itu Kayak Potong Rambut
Kadang kamu nggak dikasih hasil sesuai keinginan.
Kadang kamu berharap lebih, tapi dapatnya biasa.
Kadang kamu pengin tampil beda, tapi malah kelihatan aneh.
Tapi hidup terus jalan.
Rambut terus tumbuh.
Dan kamu bisa selalu coba lagi.
Karena yang penting bukan hasilnya,
tapi keyakinan bahwa tiap potong rambut…
adalah awal yang baru.
Dan entah kenapa, aku selalu percaya…
kalau semua gagal, rambut tetap akan tumbuh kembali.
Dan kalau kamu sabar, model nomor tiga itu,
suatu saat… mungkin akan cocok juga sama wajahmu.
Komentar
Posting Komentar