Langsung ke konten utama

Apa yang Terjadi di Bali… Harus Dicek ke Klinik Terdekat

 


Liburan itu penting, tapi lebih penting pulangnya tetap utuh — dompet, batin, dan kulit.


Aku tuh percaya, ada dua jenis liburan.

Yang pertama, liburan yang terencana. Itinerary jelas. Booking hotel jauh-jauh hari. Pakai spreadsheet. Rombongan isinya orang-orang yang bawa powerbank dua biji dan sarung anti-air.

Yang kedua, liburan yang… entah gimana ceritanya, tau-tau udah naik pesawat aja. Hotel belum tentu ada. Pulang-pulang tinggal hati yang basah dan dompet yang kering.

Dan dulu—waktu hidup masih belum punya tanggungan cicilan dan jerawat hormonal belum begitu aktif—aku termasuk tim kedua. Tim yang kalau liburan ke Bali, packing-nya cuma dua baju, tapi bawa lima kacamata hitam. Gaya dulu, mandi belakangan.

Kami sering pergi berkelompok. Biasanya ber-6 atau ber-7. Kadang ada yang ikut karena memang sahabat, kadang karena numpang diskon grup booking. Tapi kami semua sepakat soal satu hal:
“Apapun yang terjadi di Bali, tinggalin di Bali.”

Itu semacam janji suci. Sumpah palapa versi generasi rebahan.

Kenapa? Karena Bali itu bukan tempat… itu dunia lain. Dimensi paralel. Versi simulasi dari hidup yang lebih liar, lebih bebas, dan lebih berani ambil keputusan yang dalam keadaan sadar mungkin nggak akan pernah diambil.

Di Bali, orang yang biasanya disiplin bisa tiba-tiba naik motor tanpa helm sambil nyanyi “Satu Jam Saja”. Orang yang biasanya nggak minum es, bisa mendadak jadi kolektor minuman warna-warni yang namanya susah dieja.
Yang biasanya rajin salat—eh, ini aku hapus, takut keliru. Lanjut.

Pokoknya, keputusan yang diambil di Bali nggak boleh dibawa pulang. Termasuk kenangan, rasa bersalah, dan foto yang kalau sampai ke tangan orang tua bisa bikin warisan dicabut dini.

Tapi ya namanya manusia, kita cuma bisa bikin aturan. Tuhan? Dia lebih suka plot twist.

Sore itu, kami duduk di kafe kecil di Seminyak. Sambil makan lumpia isi tuna dan kopi susu yang entah kenapa rasanya kayak air cucian beras, salah satu dari kami—sebut saja namanya Doni—mendadak diem.

Biasanya dia paling rame. Kalau nggak ngelawak, ya minimal ngomentarin cowok bule yang jalan di seberang jalan sambil bilang, “Fix, dia mirip dosenku waktu kuliah.”

Tapi sore itu dia diem. Wajahnya pucat. Tangannya megang sendok kayak lagi mikir mau tusuk siapa.

Kami semua mulai curiga.

“Ada apa, Don?” tanya Rian, temen kami yang paling doyan nanya hal yang sebaiknya nggak ditanya.

Doni cuma ngelirik. Lalu dia bilang pelan…
“Gue kayaknya dapet oleh-oleh.”
“Kaus Bali? Gantungan kunci?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Herpes.”

Hening. Sumpah, waktu itu kafe jadi kayak mati listrik. Musik akustik yang tadinya dinyanyiin pelan, tiba-tiba terasa kayak suara azan untuk pertobatan.

Rian batuk kecil. Aku hampir tersedak es batu.

“Yang… di kulit?” tanyaku.
Doni ngangguk.
“Yang… nggak bisa dihapus pake sabun?”
Ngangguk lagi.
“Yang… bisa bikin kamu inget-inget dosa tiap bangun tidur?”
Dia cuma ngelus dada.

Kami semua saling pandang. Nggak tahu harus ketawa dulu, atau pesenin salep dulu.
Rian akhirnya bersuara, “Gue… eh… ikut sedih ya. Tapi juga… ikut waspada.”
“Kenapa?”
“Soalnya kita kan kemarin pakai handuk hotel gantian.”

Langsung pada diem lagi. Kali ini lebih dalam.

Sejak saat itu, kalimat “apa yang terjadi di Bali, tinggalin di Bali” berubah makna.
Nggak cuma jadi semacam pembelaan moral untuk kesalahan yang disengaja. Tapi jadi peringatan biologis.

Karena ternyata, ada hal-hal yang nggak bisa ditinggal.
Mau sekuat apa kamu niat ninggalin, dia ikut juga.
Kayak… virus.
Atau perasaan.

Aku belajar banyak dari kejadian itu.

Misalnya:
Liburan itu memang buat ngilangin stres. Tapi jangan sampai kamu balik malah harus konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin.
Atau:
Teman yang paling pendiam justru bisa jadi yang bawa pulang kisah paling panas.
Atau:
Salep itu nggak bisa menyembuhkan penyesalan, tapi setidaknya bisa mengurangi rasa perih.

Kami semua nggak pernah cerita ke siapa-siapa soal kejadian itu. Karena kami tahu, itu pelajaran hidup. Dan tiap orang punya versinya sendiri.

Tapi satu hal yang pasti:
Sejak itu, kalau ada yang ngajak ke Bali dan bilang, “Tenang, ini cuma liburan,” aku selalu jawab:
“Iya, tapi pulangnya harus tetap sehat. Batin dan kulit.”

Karena Bali boleh jadi dunia paralel.
Tapi dompet, badan, dan moralmu… tetap asli.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...