Liburan itu penting, tapi lebih penting pulangnya tetap utuh — dompet, batin, dan kulit.
Aku tuh percaya, ada dua jenis liburan.
Yang pertama, liburan yang terencana. Itinerary jelas. Booking hotel jauh-jauh hari. Pakai spreadsheet. Rombongan isinya orang-orang yang bawa powerbank dua biji dan sarung anti-air.
Yang kedua, liburan yang… entah gimana ceritanya, tau-tau udah naik pesawat aja. Hotel belum tentu ada. Pulang-pulang tinggal hati yang basah dan dompet yang kering.
Dan dulu—waktu hidup masih belum punya tanggungan cicilan dan jerawat hormonal belum begitu aktif—aku termasuk tim kedua. Tim yang kalau liburan ke Bali, packing-nya cuma dua baju, tapi bawa lima kacamata hitam. Gaya dulu, mandi belakangan.
Itu semacam janji suci. Sumpah palapa versi generasi rebahan.
Kenapa? Karena Bali itu bukan tempat… itu dunia lain. Dimensi paralel. Versi simulasi dari hidup yang lebih liar, lebih bebas, dan lebih berani ambil keputusan yang dalam keadaan sadar mungkin nggak akan pernah diambil.
Pokoknya, keputusan yang diambil di Bali nggak boleh dibawa pulang. Termasuk kenangan, rasa bersalah, dan foto yang kalau sampai ke tangan orang tua bisa bikin warisan dicabut dini.
Tapi ya namanya manusia, kita cuma bisa bikin aturan. Tuhan? Dia lebih suka plot twist.
—
Sore itu, kami duduk di kafe kecil di Seminyak. Sambil makan lumpia isi tuna dan kopi susu yang entah kenapa rasanya kayak air cucian beras, salah satu dari kami—sebut saja namanya Doni—mendadak diem.
Biasanya dia paling rame. Kalau nggak ngelawak, ya minimal ngomentarin cowok bule yang jalan di seberang jalan sambil bilang, “Fix, dia mirip dosenku waktu kuliah.”
Tapi sore itu dia diem. Wajahnya pucat. Tangannya megang sendok kayak lagi mikir mau tusuk siapa.
Kami semua mulai curiga.
“Ada apa, Don?” tanya Rian, temen kami yang paling doyan nanya hal yang sebaiknya nggak ditanya.
Hening. Sumpah, waktu itu kafe jadi kayak mati listrik. Musik akustik yang tadinya dinyanyiin pelan, tiba-tiba terasa kayak suara azan untuk pertobatan.
Rian batuk kecil. Aku hampir tersedak es batu.
Langsung pada diem lagi. Kali ini lebih dalam.
—
—
Aku belajar banyak dari kejadian itu.
Kami semua nggak pernah cerita ke siapa-siapa soal kejadian itu. Karena kami tahu, itu pelajaran hidup. Dan tiap orang punya versinya sendiri.

Komentar
Posting Komentar