Langsung ke konten utama

John Wick: Pembalasan Dendam, Seekor Anjing, dan Rasa Kehilangan yang Tidak Bisa Dijelaskan dengan Kata-kata

 


“Beberapa luka tidak berdarah. Tapi tetap bisa membuat seseorang menembak seratus orang dalam satu malam.”


Aku kurang setuju dengan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.
Tapi aku juga sadar bahwa setiap orang punya batas sabar.
Dan kalau kamu melewati batas itu...
maka kamu harus siap menghadapi sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh kata maaf.

Film John Wick dimulai dengan satu peristiwa kecil.
Bukan pembunuhan besar-besaran.
Bukan perang.
Bukan pengeboman.

Tapi...
pembunuhan seekor anjing kecil.

Dan dari situlah semuanya meledak.
Secara harfiah dan batiniah.

Awalnya, aku kira ini film biasa.
Ada pria kesepian.
Ada mobil keren.
Ada rumah sepi dengan lampu temaram.
Lalu ada anjing yang lucu, yang datang sebagai hadiah terakhir dari sang istri yang sudah tiada.

Dan di titik itu, aku langsung merasa...
“Aduh, ini bakal sedih, ya?”

Dan benar.
Tapi bukan sedih biasa.
Ini jenis sedih yang berubah jadi kemarahan.

Karena setelah anjing itu datang dan pelan-pelan membuka pintu hati John yang sudah terkunci rapat,
tiba-tiba ada tiga orang yang datang, mencuri mobilnya...
dan membunuh anjingnya.

Dan mereka kira... semuanya selesai.

Tapi mereka salah.
Karena yang mereka usik bukan sekadar pria biasa.
Mereka membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak dibangunkan.
Sesuatu yang kalau sudah bergerak,
tidak bisa diberhentikan dengan alasan,
tidak bisa dibujuk dengan uang,
dan tidak bisa ditenangkan dengan permintaan maaf.

Mereka membangunkan...
John Wick.

Film ini bukan soal berapa banyak peluru yang dilepaskan.
Bukan soal jumlah lawan yang dijatuhkan.
Tapi soal satu hal sederhana:
Bagaimana seseorang menanggapi kehilangan.

Dan kehilangan itu tidak datang dengan suara keras.
Tidak datang dengan petir.
Tapi datang dengan tubuh kecil seekor anjing yang terbaring diam.
Dan dari tubuh kecil itu... keluar kemarahan yang sangat besar.

Ada satu adegan yang sangat membekas di kepalaku.
Waktu John datang ke rumah orang yang bertanggung jawab atas semua ini.
Orangnya belum tahu siapa John.
Belum tahu bahwa hidupnya tinggal beberapa jam.

Dan begitu dia tahu...
wajahnya langsung berubah.
Seperti orang yang sadar bahwa dia barusan memukul tiang listrik yang ternyata hidup.
Dan tiangnya... marah.

Film ini memperkenalkan satu dunia yang sangat... teratur.
Meski penuh kekerasan, semuanya punya aturan.
Ada hotel tempat para pembunuh bayaran tidak boleh saling serang.
Ada uang khusus.
Ada kode sopan santun.
Ada sistem yang membuat semuanya terasa... sah, meski sebenarnya tidak sah.

Dan John Wick tahu semua itu.
Karena dia bagian dari dunia itu.
Tapi dia keluar.
Dia sudah meninggalkan semuanya.

Sampai anjing itu datang.
Dan kemudian... direnggut.

Aku pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Bukan orang. Bukan binatang. Tapi perasaan.

Perasaan bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan ketika perasaan itu hilang,
yang muncul bukan tangis.
Tapi kehampaan.
Dan dari kehampaan itulah, kita bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.
Seperti menembak dua puluh orang dalam satu napas.
Atau menyetir sambil menangis.

John Wick tidak menangis.
Tapi setiap tembakannya seperti air mata yang tidak sempat jatuh.

Yang menurutku membuat film ini berbeda dari film laga lain adalah:
John tidak berteriak.
Tidak marah-marah.
Tidak menangis di depan kuburan.

Dia diam.
Tapi diamnya tajam.
Seperti pisau yang tidak perlu diasah lagi.
Cukup dipegang, dan semuanya tahu...
ini akan digunakan.

Dalam salah satu adegan, seseorang bertanya,
“Apakah kamu kembali?”

John menjawab dengan suara pelan,
“Bukan aku yang kembali.
Tapi mereka yang membuatku harus kembali.”

Dan itu kalimat yang sangat berat.
Karena kadang, kita tidak ingin kembali ke siapa diri kita dulu.
Kita ingin tenang.
Ingin damai.
Ingin melupakan.
Tapi dunia tidak selalu membiarkan kita begitu saja.

Kadang, dunia mengetuk pintu.
Lalu merusak semuanya.
Lalu menyuruh kita berdiri...
dan bertarung lagi.

Aku tidak suka kekerasan.
Tapi aku mengerti kenapa John melakukannya.

Karena kadang, dunia tidak memberi kita pilihan lain.
Dan kalau semuanya sudah hilang,
satu-satunya yang tersisa adalah...
membalas.

Film ini tidak memberikan pelajaran hidup seperti film keluarga.
Tidak memberikan wejangan bijak seperti film perjuangan.
Tapi film ini memberikan satu hal:
Pemahaman bahwa orang paling tenang...
kadang menyimpan badai paling besar.

Dan John Wick... adalah badai yang berjalan.

Aku pernah duduk di halte, melihat seseorang menendang botol bekas sampai terlempar ke jalan.
Tidak ada yang marah.
Tapi ada yang mengangkat botol itu kembali, dan menaruhnya di tempat sampah.

Dan aku berpikir:
Kalau saja orang itu tidak sabar,
botol itu bisa jadi alasan untuk berkelahi.

Karena kadang...
kita tidak tahu seberapa penting sesuatu,
sampai ada yang merenggutnya.

Dan di mata John Wick,
anjing kecil itu...
adalah seluruh alasan dia masih bertahan hidup.

Film ini penuh tembak-tembakan.
Penuh ledakan.
Penuh darah.

Tapi juga penuh sunyi.

Sunyi seorang pria yang bangun tidur tanpa ada suara lain di rumah.
Sunyi makan malam sendirian.
Sunyi membuka kotak terakhir pemberian istrinya.
Sunyi menatap foto.
Sunyi menyetir.
Sunyi memeluk kenangan.

Dan dari sunyi itulah, lahir kemarahan.

Pada akhirnya, John Wick bukan tentang pembunuhan.

Ini tentang kehilangan.

Dan kehilangan,
kalau tidak diberi tempat untuk sembuh,
akan mencari jalan keluar sendiri.
Entah lewat air mata...
atau lewat peluru.

Jadi kalau kamu tanya,
“Apakah film ini layak ditonton?”

Aku jawab:
Ya. Tapi jangan harap bisa tenang setelahnya.
Karena film ini tidak membuatmu merasa hebat.
Film ini membuatmu berpikir:
“Apa yang akan aku lakukan kalau orang yang paling aku cintai... pergi,
dan satu-satunya kenangan darinya direnggut dengan cara kejam?”

Dan kalau jawabannya membuatmu diam cukup lama...
maka kamu sudah mengerti,
kenapa John Wick tidak pernah minta maaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...