Langsung ke konten utama

Menolak Orang Meminjam Uang Tanpa Kehilangan Teman (Biasanya Tetap Kehilangan)

 

Orang Berutang Bisa Lebih Marah dari Orang yang Kehilangan Uang

Ada satu budaya Indonesia yang menurutku sangat rumit.

Bukan upacara adat.
Bukan birokrasi.
Bukan juga cara orang parkir motor yang kadang membutuhkan keberanian spiritual.

Yang paling rumit adalah urusan meminjam uang.

Secara teori, konsepnya sederhana. Seseorang meminjam uang lalu suatu hari mengembalikannya. Seperti meminjam buku atau meminjam payung.

Masalahnya, dalam praktik kehidupan nyata, meminjam uang di Indonesia sering berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks. Kadang lebih kompleks daripada hubungan percintaan.

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai terlihat seperti orang yang layak dipinjami uang.

Mungkin karena aku bekerja. Mungkin karena aku terlihat tidak terlalu menderita. Atau mungkin karena wajahku memiliki aura seseorang yang bisa berkata, "Ya sudah, tidak apa-apa."

Masalahnya, aura itu berbahaya. Karena di zaman ekonomi seperti sekarang, semakin banyak orang yang membutuhkan uang. Dan secara misterius, sebagian dari mereka merasa solusi terbaik adalah meminjam uang kepadaku.

Aku tidak marah. Aku mengerti. Hidup memang mahal.

Harga makanan naik. Harga rumah naik. Kadang bahkan harga parkir naik lebih cepat daripada motivasi hidup. Jadi ketika seseorang datang dan berkata bahwa mereka butuh bantuan, aku biasanya mendengarkan.

Masalahnya muncul di langkah berikutnya. Langkah ketika aku harus menjawab. Karena pengalaman telah mengajarkanku satu hal yang sangat menarik tentang utang di Indonesia.

Sering kali, orang yang berutang justru lebih galak daripada orang yang dihutangi.

Ini fenomena sosial yang menurutku layak diteliti oleh universitas.

Misalnya begini. Ketika seseorang meminjam uang, mereka biasanya datang dengan wajah yang sangat ramah. Nada suara mereka lembut. Kalimat mereka penuh empati.

"Kamu satu-satunya yang aku percaya."

"Aku lagi susah."

"Nanti aku balikin kok."

Kalimat terakhir itu sering diucapkan dengan keyakinan yang hampir religius.

Masalahnya, setelah uang berpindah tangan, sesuatu berubah.

Orang yang tadi sangat sopan perlahan berubah menjadi lebih… defensif.

Kalau ditanya sedikit saja, jawabannya mulai pendek.

Kalau diingatkan dengan halus, reaksinya bisa seperti seseorang yang baru saja dituduh melakukan kejahatan internasional.

Aku pernah mencoba menagih utang dengan cara yang sangat sopan.

Aku menulis pesan yang hampir seperti surat cinta.

"Halo, semoga harimu baik. Aku hanya ingin mengingatkan tentang uang yang dulu kamu pinjam."

Balasannya datang cepat.

Tapi bukan seperti yang aku bayangkan.

"Memangnya kamu pikir aku mau kabur?"

Aku membaca pesan itu dan berpikir, 'Aku bahkan tidak bilang kamu kabur.'

Dari situ aku mulai belajar sesuatu.

Menagih utang sering terasa seperti mengganggu orang yang sedang tidur siang.

Padahal uangnya milik kita sendiri.

Karena itu, seiring waktu aku mengembangkan sebuah strategi sederhana.

Kalau akhirnya aku meminjamkan uang kepada seseorang, aku mencoba menganggap uang itu sudah hilang. Bukan karena aku kaya. Justru karena aku tidak ingin kehilangan dua hal sekaligus.

Uang dan kewarasan.

Kalau suatu hari uang itu kembali, aku bersyukur. Kalau tidak, aku mencoba berpikir bahwa itu adalah sedekah yang tidak direncanakan.

Masalahnya, aku juga bukan konglomerat. Aku tidak memiliki mesin pencetak uang di belakang rumah. Jadi aku harus memilih. Dan lebih sering daripada meminjamkan, aku memilih menolak.

Di sinilah bagian yang paling rumit dimulai. Orang Indonesia tidak terlalu suka ditolak. Terutama ketika yang mereka minta adalah uang.

Beberapa waktu lalu ada seseorang yang memintaku meminjamkan uang. Jumlahnya tidak kecil. Aku berpikir cukup lama sebelum menjawab. Akhirnya aku berkata tidak.

Dengan sangat hati-hati. Dengan kalimat yang sangat diplomatis. Dengan nada yang hampir seperti seorang duta besar.

"Aku benar-benar minta maaf. Saat ini aku tidak bisa membantu."

Aku pikir percakapan itu selesai.

Ternyata tidak.

Beberapa hari kemudian, orang yang sama datang lagi. Bukan untuk berbicara tentang utang. Tapi untuk berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih menarik.

Akhir pekanku.

Dia tahu bahwa akhir pekan lalu aku pergi jalan-jalan. Bukan ke luar negeri. Bukan juga ke tempat mahal. Hanya keluar rumah, makan sesuatu, berjalan sedikit, lalu pulang.

Tapi informasi itu ternyata cukup untuk menimbulkan pertanyaan.

"Kamu katanya tidak ada uang."

Aku mencoba mengingat kapan aku pernah mengatakan itu. Seingatku aku hanya berkata aku tidak bisa meminjamkan uang. Kalimat yang berbeda. Tapi rupanya di dunia sosial kita, dua kalimat itu bisa dianggap sama. Lalu kalimat berikutnya datang dengan nada yang sedikit menghakimi.

"Tapi kamu masih bisa jalan-jalan."

Aku berdiri di situ, mencoba memahami logika yang sedang dipakai.

Kalau dipikir-pikir, logika itu cukup menarik.

Menurut teori ini, kalau seseorang menolak meminjamkan uang, mereka juga harus berhenti menikmati hidup. Mungkin aku juga seharusnya berhenti makan di luar. Berhenti menonton film. Berhenti membeli kopi.

Supaya terlihat lebih konsisten dengan penolakan itu.

Aku menatap orang itu dengan senyum yang sangat diplomatis. Senyum yang biasanya dipakai orang ketika berbicara dengan keluarga di acara kumpul besar.

Aku menjelaskan dengan sangat hati-hati. Bahwa jalan-jalan itu sudah direncanakan. Bahwa itu bukan pengeluaran besar. Bahwa situasinya tidak sesederhana yang terlihat.

Dia mendengarkan. Tapi dari ekspresinya aku tahu satu hal. Penjelasanku tidak terlalu mengubah perasaannya. Karena dalam pikirannya, mungkin ada logika yang sangat sederhana.

Kalau seseorang punya uang untuk jalan-jalan, berarti mereka punya uang untuk dipinjamkan.

Aku mengangguk. Mengalah sedikit. Demi menjaga hubungan sosial.

Karena di negara ini, hubungan sosial kadang lebih sensitif daripada saldo rekening.

Tapi di dalam kepala aku ada satu pertanyaan kecil yang terus berputar.

'Apakah masuk akal kalau kita bekerja supaya orang lain bisa meminjam uang?'

Bayangkan seseorang bangun pagi. Pergi bekerja. Menghadapi macet. Menghadapi rapat. Menghadapi tekanan hidup. Lalu pulang dengan satu pikiran.

'Aku harus bekerja keras supaya suatu hari seseorang bisa meminjam uang dariku.'

Kalau dipikir-pikir, konsep itu agak aneh.

Kita bekerja untuk hidup.

Untuk makan. Untuk membayar rumah. Untuk membeli hal-hal kecil yang membuat hari terasa lebih ringan. Bukan untuk menjadi lembaga kredit pribadi.

Tapi tentu saja, aku tidak bisa mengatakan itu secara langsung.

Karena hidup di masyarakat membutuhkan sesuatu yang sangat penting.

Topeng sosial. Topeng itu membuat kita terdengar lebih ramah.

Lebih sabar. Lebih manusiawi.

Walaupun di dalam kepala kita sedang memikirkan banyak hal yang tidak terlalu diplomatis.

Jadi aku tetap tersenyum.

Tetap menjelaskan.

Tetap mencoba menjaga suasana.

Walaupun di dalam hati aku tahu satu hal yang cukup lucu.

Bahwa di negara ini, menolak meminjamkan uang kadang terasa seperti melakukan kesalahan moral.

Seolah-olah uang kita bukan sepenuhnya milik kita.

Seolah-olah kita hanya penjaganya sementara.

Dan orang lain memiliki hak untuk meminta bagian.

Aku tidak tahu apakah sistem sosial ini akan berubah.

Mungkin tidak.

Mungkin budaya meminjam uang akan selalu menjadi bagian dari kehidupan kita.

Yang bisa aku lakukan hanya satu.

Belajar berkata tidak dengan sopan.

Dan berharap orang yang mendengarnya juga bisa menerima dengan cara yang sama.

Walaupun pengalaman menunjukkan bahwa harapan itu kadang terlalu optimis.

Karena di dunia nyata, menolak permintaan uang sering kali terasa seperti memutus hubungan diplomatik antara dua negara kecil.

Dan yang paling ironis, biasanya negara yang tidak meminjam justru yang harus meminta maaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...