Aku tidak dibesarkan oleh alam. Aku dibesarkan oleh layar 14 inci, kipas casing berdebu, dan suara kipas angin plafon yang berdengung seperti doa terakhir. Dan ya, oleh mie instan dua ribu perak yang rebusannya kadang bekas panci air galon.
Tahun 2000-an awal adalah masa ketika warnet masih dianggap surga dunia—tempat hiburan, pelarian, ruang tumpah ruah emosi, dan sesekali tempat bertapa menyelesaikan skripsi. Semua menyatu di ruangan kotak berpendingin alam, dihiasi poster Ragnarok Online yang warnanya sudah memudar, dan keyboard yang hurufnya hanya bisa dibaca oleh mereka yang sudah khatam huruf hijaiyah.
Aku masih ingat… sangat ingat.
Ada satu malam, aku niat ke warnet buat ngedit desain background friendster—kalau kau nggak tahu itu apa, berarti umurmu masih bisa dirayakan. Tapi begitu sampai, yang kutemukan adalah lautan anak-anak tanggung yang matanya merah, tangan kanan di mouse, tangan kiri meraba mie instan setengah matang, dan mulut komat-kamit memaki kawan satu timnya yang lagi afk.
Dialah si penganut agama "Download Film Diam-Diam."
Tapi ia tidak mengaku. Ia hanya duduk, menatap layar kosong dengan wajah lugu. Padahal ia baru saja membuat satu server lumpuh. Aku yakin, kalau negara ini pernah mengalami serangan cyber besar-besaran, pelakunya ya model kayak gini. Bukan hacker Rusia. Tapi orang yang download film via jaringan warnet.
Waktu terus berjalan. Tapi warnet tetap jadi rumah dari berbagai jenis manusia:
-
Pemain FPS yang selalu kalah tapi nggak pernah menyerah.Ia datang tiap malam. Bawa uang pas. Duduk di pojok. Teriak sendiri. Selalu ngerasa "tim gua cupu," padahal K/D-nya minus 7.
-
Hanya membawa satu flashdisk dan banyak beban hidup.Di jam dua pagi ia akan bertanya:“Mas, bisa ngeprint warna?”Dan operator warnet yang baru bangun dari tidur ayam menjawab, “Nggak bisa, warna habis.”
-
Anak kecil pemimpi.Ia tak punya uang. Tapi ia punya mimpi.Ia berdiri, menonton, menghafal shortcut, dan pulang membawa ilmu untuk dimainkan di rumah temannya.
-
Penyewa mingguan.Ia tidak pulang selama tiga hari. Rambut lepek. Bau tubuh menyatu dengan sofa. Kadang makan di tempat. Kadang tidur di tempat.Katanya dia ngejar rank. Tapi mungkin dia juga sedang menghindari kenyataan hidup di rumah.
Warnet bukan sekadar tempat akses internet. Ia adalah pusat kehidupan, tempat belajar, tempat gagal move on, tempat berantem karena rebutan komputer nomor 8 (yang keyboard-nya paling enak), dan tempat semua emosi berkumpul dalam jaringan lokal.
Jadi, kalau kau adalah bagian dari generasi yang pernah:
-
nungguin loading Yahoo! Messenger,
-
ngetik status friendster dari komputer sewaan,
-
atau nonton YouTube sambil takut pulsa habis (karena bayarnya per detik),
…maka kau juga bagian dari sejarah warnet.
Kami yang dulu hanya ingin main dengan tenang, belum memaafkanmu.

Komentar
Posting Komentar