“Di antara ribuan kata dalam bahasa kita, mungkin cuma ‘permisi’ yang bisa membuat orang tua tersenyum dan anak muda melipir tanpa debat.”
Suatu siang, aku naik angkot jurusan pasar–terminal. Kondisinya padat. Lebih padat dari folder tugas akhir mahasiswa semester delapan.
Aku berdiri canggung di depan pintu, sambil menatap lorong sempit yang dipenuhi kaki, tas belanja, dan aroma campuran balsem serta gorengan. Aku tahu aku harus masuk. Tapi jalan ke dalam itu sempit—baik secara harfiah maupun emosional.
Akhirnya aku tarik napas, lalu ucap pelan:
“Permisi, Bu. Permisi, Pak...”
Seolah-olah kata itu adalah isyarat sakral, orang-orang langsung bergeser.
Ada yang angkat tas, ada yang rapatin lutut, ada yang langsung senyum dan bilang, “Sini, duduk di sini aja, Nak.”
Rasanya seperti nabi lewat.
Tanpa mukjizat, tapi disambut hangat.
Aku makin sadar, di negeri ini, “permisi” itu bukan cuma sopan santun.
Dia semacam jampi-jampi harian yang fungsinya luar biasa.
Mau motong jalan di trotoar rame? Bilang “permisi”.
Mau nyempil duduk di antara dua orang asing di ruang tunggu? “Permisi.”
Mau kabur halus dari acara keluarga yang mulai bahas nikah dan kerjaan? “Permisi dulu, ya. Ada urusan.”
Hampir semua momen canggung bisa dibuka dengan kata itu.
Kadang kita nggak perlu alasan.
Nggak perlu penjelasan panjang.
Cukup satu kata: permisi.
Dan pintu sosial pun terbuka.
Yang menarik, kata ini bukan cuma penting—tapi juga sangat sensitif.
Orang Indonesia bisa menerima banyak hal, asal kamu bilang permisi duluan.
Coba deh bayangin, kamu motong jalan orang tua yang lagi nonton TV tanpa suara apapun… bisa-bisa kamu dikira angin atau makhluk gaib.
Tapi kalau kamu bilang “permisi”, walau lirih, mereka akan minggir.
Atau minimal, mereka akan menatapmu dengan pandangan yang tidak terlalu sinis.
Karena di sini, nyelonong itu kayak dosa kecil.
Nggak bikin masuk neraka, tapi cukup buat orang kesel seharian.
Permisi itu kayak kunci kecil yang bisa membuka banyak ruang.
Ruang fisik, ruang percakapan, ruang hati.
Ia memberi waktu bagi orang lain untuk bersiap.
Memberi sinyal bahwa kamu sadar kamu bukan satu-satunya manusia di bumi.
Lucunya, kata ini sering dipakai bahkan ketika tidak ada orang.
Seperti saat masuk rumah kosong, atau melewati pohon besar di sore hari.
Itu karena kita percaya, permisi bukan cuma ke manusia.
Tapi ke semesta.
Aku pernah melihat seorang bocah kecil ingin duduk di kursi taman yang separuhnya dipakai orang asing.
Dia bilang “permisi” sambil senyum.
Dan tanpa banyak tanya, si orang asing langsung geser dan bilang, “Sini, duduk aja.”
Mungkin kita semua perlu belajar dari momen-momen seperti itu.
Bahwa dunia tidak selalu butuh debat panjang.
Kadang, cukup satu kata lembut yang diucapkan dengan tulus.
Mungkin dunia ini nggak butuh lebih banyak motivator.
Tapi lebih banyak orang yang bisa bilang “permisi” dengan tulus.
Komentar
Posting Komentar